June 2016

kopi

Thursday, June 30, 2016

Ketersediaan Sumber Air Bersih (Fresh-Water Resources) sebagai Penopang Kehidupan

Laju pertumbuhan penduduk dunia yang tidak diimbangi dengan tersedianya pasokan air untuk menunjang kehidupan akan membawa dampak serius pada kesehatan dan berpotensi meningkatkan angka kematian. Selain itu, kurang tercukupinya kebutuhan air untuk menopang produksi tanaman pangan bisa memicu bencana kelaparan. Tulisan ini hendak mengulas tentang problem ketersediaan air bersih secara global.

Ketersediaan Sumber Air Bersih (Fresh-Water Resources)
Dalam laporannya mengenai perkembangan populasi penduduk dunia, the United Nations Food and Population (UNFPA) menyatakan bahwa pada 2015 terdapat lebih dari 7.3 milliar manusia menghuni planet bumi, dengan rata-rata pertumbuhan penduduk setiap tahun sejak 2010-2015 mencapai angka 1.18%.

Salah satu konsekuensi dari laju pertumbuhan penduduk adalah meningkatnya kebutuhan air layak konsumsi. Mengingat bahwa persediaan air bersih tidak mampu mengimbangi kebutuhan penduduk dunia, maka berpotensi menimbulkan krisis ketersediaan air secara global (www.unfpa.org).

Tuesday, June 28, 2016

Problem Ketahanan Pangan Global (Global Food Security)

Problem ketahanan pangan merupakan persoalan global yang berkaitan erat dengan kelangsungan hidup manusia. Tulisan ini hendak membahas masalah-masalah yang mengemuka terkait dengan ketahanan pangan global.

Problem Ketahanan Pangan Global (Global Food Security)
Dalam the World Food Summit 1996 di Roma, Italia, dinyatakan dengan tegas bahwa yang dimaksud dengan ketahanan pangan adalah ketika semua orang, disetiap waktu, memiliki akses untuk memperoleh kecukupan dan keamanan pangan, serta sumber pangan bergizi untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menunjang kesehatan.

Lebih lanjut, data menunjukkan bahwa bantuan internasional melalui skema Official Development Assistance (ODA) di sektor agrikultur mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Apabila pada 1979 terdapat sekitar 18% bantuan yang disalurkan ke sektor pertanian, maka pada 2009 persentase bantuan merosot hingga tersisa 6%. Demikian pula investasi pemerintah di sektor pertanian rata-rata mengalami penurunan kurang lebih sebesar 30% di negara-negara Afrika dan mencapai 60% di kawasan Asia dan Amerika Latin.

Saturday, June 25, 2016

Venezuela: Krisis Ekonomi dan Ketergantungan pada Minyak Bumi

Beberapa waktu terakhir, Venezuela (the Bolivarian Republic of Venezuela) menjadi perhatian dunia internasional akibat situasi domestik yang bergejolak. Negara dengan kekayaan minyak bumi yang melimpah tersebut mengalami resesi ekonomi yang tak kunjung usai. Masalah politik dan ekonomi dalam negeri telah menjerumuskan negara yang menjadi langganan juara kontes kecantikan internasional (international beauty pageants) dalam krisis berkepanjangan. Tulisan ini akan menyoroti kondisi perekonomian Venezuela dan faktor-faktor yang memicu krisis.

Venezuela: Krisis Ekonomi dan Ketergantungan pada Minyak Bumi
Terletak di kawasan Amerika Selatan dengan luas area mencapai 912,050 km2, Venezuela memiliki sumber minyak bumi dan gas alam yang sangat berlimpah.

Besarnya cadangan minyak bumi menempatkan Venezuela menjadi salah satu anggota negara pengekspor minyak (the Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC). Kekayaan itu pula yang membuat Venezuela masuk dalam kategori negara berpendapatan tinggi (high-income country).

Menurut data yang termuat dalam the United Nations Statistical Division, Venezuela memiliki populasi penduduk sebanyak 30.8 juta jiwa pada 2013. Di tahun tersebut, Venezuela mencatatkan Gross Domestic Product (GDP) sebesar US$ 371.34 milliar (data.un.org).

Thursday, June 23, 2016

Pembangunan Wilayah Perkotaan (Urban Development)

Berbicara mengenai pembangunan wilayah, maka terdapat dua elemen penting yang melekat didalamnya, yakni pembangunan perdesaan (rural development) dan pembangunan wilayah perkotaan (urban development). Pada tulisan ini akan dibahas mengenai isu-isu seputar pembangunan kawasan perkotaan.

Pembangunan Wilayah Perkotaan (Urban Development)
Dalam laporannya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (the United Nations) mengungkapkan bahwa secara global terdapat lebih dari 50% populasi penduduk tinggal di wilayah perkotaan pada 2014. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 66% pada 2050.

Selain itu tercatat pula bahwa dari seluruh kawasan di dunia, hanya di benua Asia dan Afrika yang populasi penduduknya mayoritas tinggal di daerah perdesaan, yakni sekitar 52-60%. Namun demikian, persentase tersebut diyakini akan menyusut seiring semakin besarnya tingkat pembangunan perdesaan; atau dengan kata lain, di suatu periode di masa depan, kawasan perdesaan akan bertransformasi menjadi area perkotaan.

Tuesday, June 21, 2016

Dampak Event Olahraga pada Perekonomian

Olahraga merupakan hasil kreativitas, seni, dan budaya manusia. Apabila dimasa lampau olahraga semata-mata dinilai dari prestasi yang diraih oleh para pemenang, maka pada beberapa dasawarsa terakhir, olahraga tidak lagi sekadar saling berebut mahkota kemenangan, namun juga memberikan dampak besar pada perekonomian. Tulisan ini merangkum dampak ekonomi dari pentas olahraga bertaraf internasional berdasarkan penelitian empiris yang pernah dilakukan.

Dampak Event Olahraga pada Perekonomian
Dalam dunia modern sekarang ini, olahraga bukan hanya menjadi hobby atau instrumen untuk dipertandingkan, ia memiliki dimensi yang lebih luas, termasuk hiburan, gengsi, kebanggaan individu-masyarakat-negara, serta sarana meraup keuntungan finansial.

Oleh karenanya tidak mengherankan jika event olahraga bertaraf internasional, seperti turnamen sepak bola Piala Dunia (FIFA World Cup), Piala Eropa (UEFA European Championship), serta lomba balap Formula One (F1 World Championship), bukan hanya menjadi pusat perhatian para penggemar, namun juga pemerintah kota/negara yang menjadi tempat penyelenggaraan (host), mengingat potensi keuntungan yang bisa diraih dari berbagai faktor, mulai dari hak siaran televisi, sponsorship, penjualan tiket dan merchandise, penginapan/hotel, makanan-minuman, hingga transportasi.

Secara umum terdapat dua horizon waktu terkait dengan dampak penyelenggaraan pentas olahraga pada perekonomian, yakni jangka pendek (ketika kontes olahraga berlangsung), dan jangka panjang (setelah pergelaran olahraga selesai). Secara detil, dampak-dampak tersebut bisa digambarkan dibawah ini.

Thursday, June 16, 2016

Seputar Masalah Pengangguran (Unemployment)

Pengangguran merupakan salah satu indikator utama terkait aktivitas ekonomi suatu negara. Ketersediaan lapangan kerja serta pertambahan penduduk usia kerja merupakan faktor penentu besarnya tingkat pengangguran (unemployment rate). Pada artikel ini kita akan membahas hal-hal yang berkaitan dengan masalah pengangguran.

Menyadari begitu kompleksnya masalah pengangguran, maka isu tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam kampanye the Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada tujuan ke delapan, yakni mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang terbuka dan berkesinambungan, serta meningkatkan tenaga kerja produktif dan pekerjaan yang layak.

Sesuai dengan standar internasional yang diadopsi oleh the International Labour Organization (ILO), definisi pengangguran (unemployment) adalah apabila seseorang:
  • tidak memiliki pekerjaan, dalam arti tidak berada dalam posisi memperoleh upah sebagai pekerja/karyawan badan usaha/perusahaan atau sebagai pekerja mandiri (self-employed) selama periode tertentu.
  • pada saat ini dalam posisi siap untuk bekerja atau berprofesi sebagai pekerja mandiri.
  • sedang mencari pekerjaan, dalam arti sedang berupaya aktif untuk mendapatkan penghasilan sebagai pekerja/karyawan atau pekerja mandiri.
Definisi diatas tertuang dalam laporan the International Conferences of Labour Statisticians (ICLS) ke-19 di Geneva, Swiss pada 2-11 Oktober 2013.

Seputar Masalah Pengangguran (Unemployment)

Tuesday, June 14, 2016

Mengenal Konsep Gross National Happiness (GNH) dan Happiness Index

Dalam literatur ilmu ekonomi dikenal beberapa instrumen pengukuran kesejahteraan nasional, diantaranya pertumbuhan ekonomi (economic growth), produk domestik bruto (gross domestic product/GDP), serta pendapatan per kapita (per capita income), yang penghitungannya didasarkan pada sumberdaya modal (capital resources), output produksi, dan kekayaan finansial. Pada perkembangannya, muncul konsep-konsep baru mengenai kesejahteraan bangsa (nation's welfare) yang tidak semata-mata mendasarkan diri pada hal-hal yang bersifat materi.

Konsep Gross National Happiness (GNH) dan Happiness Index
Sebagai model alternatif terhadap GDP, konsep-konsep tersebut menawarkan penilaian dengan mempertimbangkan dimensi yang lebih luas, seperti aspek psikologis dan spiritual. Salah satu konsep yang hingga kini menjadi diskusi aktual adalah Gross National Happiness (GNH) dan Happiness Index (indeks kebahagiaan).

Sekilas, konsep tersebut terdengar absurd dan tidak realistis. Oleh karenanya tulisan ini dimaksudkan untuk menyajikan pemahaman tentang konsep dasar Gross National Happiness (GNH) dan Happiness Index.

Bagi sebagian pihak, GDP dianggap gagal menempatkan manusia sebagai aktor utama pembangunan, karena hanya berlandaskan pada faktor-faktor ekonomi dengan memperlakukan manusia tidak lebih dari sekadar faktor tenaga kerja. Salah satu kritikan keras disuarakan oleh Stiglitz, Sen, dan Fitoussi yang menyatakan bahwa konsep GDP gagal menjawab tantangan terkait kualitas hidup manusia sebagai individu dalam pembangunan dan pentingnya relasi antar individu dalam masyarakat.

Saturday, June 11, 2016

Mempertanyakan Efektivitas Gross Domestic Product (GDP)

Setelah puluhan tahun dimanfaatkan untuk menilai keberhasilan ekonomi suatu negara, maka seiring perkembangan pengetahuan dan teknologi, muncul penelitian-penelitian yang mengkritisi efektivitas Gross Domestic Product (GDP). Artikel ini mencoba mencermati studi-studi yang mempertanyakan keakuratan GDP dalam mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat dan stabilitas makro ekonomi.

Mempertanyakan Efektivitas Gross Domestic Product (GDP)
Secara historis, konsep GDP pertama kali muncul di Amerika Serikat pada era 1930’an, ketika negara tersebut dipimpin oleh Presiden Franklin D. Roosevelt. Pada saat itu Roosevelt menginginkan adanya data terukur mengenai kondisi anggaran negara yang tersedia untuk digunakan sebagai dasar penentuan kebijakan publik. Keputusan ini diambil sebagai persiapan jikalau Amerika Serikat terlibat dalam perang dunia ke-2.

Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa pada awalnya, keinginan menggunakan data statistik yang tergambar dalam GDP lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan finansial dalam rangka perang dunia ke-2, sambil tetap menjaga terpenuhinya standar kehidupan warga Amerika Serikat (Marcuss, R, and Richard E. Kane, US National Income and Product Statistic: Born of the Great Depression and World War II, Bureau of Economic Analysis: Survey of Current Business, 2007).

Kemudian, konsep GDP juga terkait dengan pertemuan antar negara di Bretton Woods pada 1944, dimana pada saat itu disepakati terbentuknya beberapa organisasi multinasional, seperti the International Monetary Fund (IMF) dan the World Bank (Bank Dunia).

Thursday, June 9, 2016

Meneropong Denmark, Negara Kaya yang Miskin Korupsi

Tulisan kali ini akan mengulas tentang kondisi sosial-ekonomi salah satu negara yang menjadi role model negara dengan kesejahteraan rakyat yang tergolong tinggi dan angka korupsi yang relatif rendah, yakni Denmark.

Meneropong Denmark, Negara Kaya yang Miskin Korupsi
Berada di kawasan Eropa serta berbatasan dengan Swedia, Norwegia, dan Jerman, Denmark memiliki area seluas 43,094 km2. Seperti halnya Inggris, Denmark merupakan sebuah kerajaan (constitutional monarchy) yang dipimpin oleh seorang ratu, dengan pemerintahan dibawah kendali seorang perdana menteri.

Secara umum, Denmark membangun negara berdasarkan tiga pondasi utama, yakni demokrasi, peran aktif masyarakat, serta hubungan sosial yang terpelihara dengan baik.

Menurut data the World Bank, Denmark termasuk dalam kategori negara berpenghasilan tinggi (high-income country), dengan angka GDP sebesar US$ 342.4 milliar pada 2014 dan populasi penduduk sebanyak 5.64 juta jiwa di tahun yang sama. Sementara rata-rata usia harapan hidup penduduk negeri itu adalah 81 tahun (www.worldbank.org).

Pada 2014, sektor pariwisata Denmark menyumbang pendapatan nasional tak kurang dari DKK 91.9 milliar (setara US$ 14.05 milliar, dengan asumsi US$ 1 = DKK 6.54) dan menciptakan lebih dari 111,460 peluang kerja (www.visitdenmark.dk, Tourism in Denmark 2015).

Tuesday, June 7, 2016

Perlawanan Global Memberantas Korupsi

Korupsi menjadi salah satu penyebab masalah terbesar dalam pembangunan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta pemberantasan kemiskinan. Apabila sebelumnya kita membahas tentang kaitan korupsi dengan distribusi pendapatan dan pertumbuhan ekonomi, maka artikel kali ini akan menyoroti perlawanan terhadap korupsi yang digaungkan secara global.

Perlawanan Global Memberantas Korupsi
Pertama-tama, kita melihat laporan Transparency International (TI) tentang persoalan korupsi di berbagai negara pada 2015. Dari 168 negara yang menjadi objek penelitian, ternyata tidak satupun negara yang bebas dari kejadian korupsi.

TI juga menyatakan bahwa setidaknya terdapat lebih dari enam milliar orang hidup di negara dengan permasalahan korupsi yang tergolong serius. Hal ini tergambar dari skala yang ditunjukkan oleh laporan tersebut. Secara umum, dari skala 0 (angka korupsi tertinggi) hingga 100 (bebas korupsi), rata-rata kejadian korupsi secara global berada di angka 43.

Kemudian apabila di break-down menjadi area yang lebih kecil, kawasan Uni Eropa dan Eropa Barat memperoleh nilai 67, dengan angka korupsi terendah berada di negara Denmark. Sementara di kawasan Asia-Pasifik, total skor yang diperoleh ialah 43, dengan menempatkan negara Selandia Baru sebagai negara yang paling sedikit terpapar kasus korupsi dan Korea Utara dengan kejadian korupsi paling buruk.

Thursday, June 2, 2016

Kaitan Korupsi dengan Distribusi Pendapatan dan Pertumbuhan Ekonomi

Korupsi menjadi musuh banyak negara, mengingat dampak negatif yang begitu besar pada pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Tulisan kali ini akan mengulas pengertian korupsi dan beberapa studi tentang korupsi dari tinjauan ilmu ekonomi.

Kaitan Korupsi dengan Distribusi Pendapatan dan Pertumbuhan Ekonomi
Kata korupsi (corruption) memiliki makna yang luas dan bisa ditinjau dari berbagai perspektif keilmuan. Untuk itu kita akan membatasi pengertian korupsi secara umum dan dalam ruang lingkup ilmu ekonomi.

Menurut Merriam-Webster dictionary, pengertian korupsi adalah 'dishonest or illegal behavior especially by powerful people (such as government officials or police officers)'.

Apabila diterjemahkan secara bebas, maka korupsi merupakan perilaku tidak jujur atau melawan hukum, terutama oleh orang yang memiliki kekuasaan (misalnya pejabat negara atau petugas kepolisian).

Sedangkan menurut organisasi Transparansi Internasional (the International Transparency), korupsi dimaknai sebagai penyalahgunaan wewenang publik untuk kepentingan pribadi (www.transparencyinternational.org).

Sementara the World Bank menyatakan bahwa korupsi merupakan penyimpangan peraturan serta pelemahan pondasi institusi yang memberi dampak buruk bagi masyarakat. Lebih lanjut, the World Bank juga mengungkapkan kalau setiap tahun terdapat upaya penyuapan (bribery) diseluruh dunia dengan kisaran angka mencapai US$ 1,000 milliar dan angka korupsi yang diperkirakan berlipat-lipat dari nilai tersebut (www.worldbank.org, Anti-corruption, May 10, 2016).