September 2016

kopi

Thursday, September 29, 2016

Creative-based Economy, Kekuatan Ide yang Bernilai Tinggi

Dimasa depan, ekonomi berbasis kreativitas/ekonomi kreatif (creative-based economy/creative economy) diyakini akan menjadi kunci keberhasilan pertumbuhan ekonomi global. Tanda-tanda itu sudah mulai terlihat dari semakin maraknya industri berskala kecil maupun besar yang bekerja berdasar pada konsep kreativitas. Apalagi dukungan teknologi yang semakin canggih dan keberadaan jaringan internet yang mempermudah interkoneksi antar waktu-antar wilayah. Artikel ini akan menyajikan ulasan tentang konsep creative-based economy atau ekonomi berbasis kreativitas.

Creative-based Economy, Kekuatan Ide yang Bernilai Tinggi
Creative-based economy (beberapa literatur menggunakan istilah creative economy), muncul sebagai buah dari penerapan konsep ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy).

Secara umum, ekonomi berbasis kreativitas digambarkan sebagai muara aktivitas-aktivitas dan eksperimen-eksperimen kreatif, penciptaan kelompok-kelompok kreatif dalam suatu lingkungan, serta kerjasama dari beragam bentuk inovasi.

Tuesday, September 27, 2016

Knowledge-based Economy (KBE), Pondasi Utama Perekonomian Modern

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, berkembang pula cara pandang manusia dalam berpikir dan berkreasi. Demikian halnya dengan metode menciptakan produk dan layanan. Dalam ilmu ekonomi terdapat satu konsep baru yang patut untuk dipelajari, yakni Knowledge-based Economy (KBE) atau ekonomi berbasis pengetahuan. Oleh karenanya, tulisan ini akan membahas Knowledge-based Economy (KBE).

Pergeseran Pola Industri dan Ekonomi.
Jika sekian dasawarsa lalu, perekonomian ditandai dengan model industri padat karya (labor-intensive industries) dan padat modal (capital-intensive industries), maka beberapa tahun belakangan ini, model tersebut mulai mengalami perubahan seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi, komputer, jaringan internet, dan temuan teknologi lainnya.

Dari sinilah kemudian dikenal konsep Knowledge-based Economy (KBE). KBE diyakini menjadi pondasi bagi perekonomian modern yang mampu mempengaruhi proses kerja, perilaku tenaga kerja, serta komunitas masyarakat sebagai konsumen.

Thursday, September 22, 2016

Gerakan Non Blok (Non-Aligned Movement) dan Relevansi'nya di Dunia Modern

Gerakan Non Blok (Non-Aligned Movement/NAM) merupakan salah satu entitas yang dibentuk berdasarkan kondisi sejarah. Ketika kekuatan dunia terpusat pada dua kutub yang saling berlawanan, maka negara-negara yang tidak terlibat atau melibatkan diri dalam pertikaian tersebut membentuk aliansi ketiga yang menawarkan format kerjasama antar negara berdasarkan kesetaraan dan persahabatan. Artikel ini akan membahas tentang latar belakang munculnya Gerakan Non Blok (Non-Aligned Movement/NAM) dan relevansi’nya di dunia modern.

Sejarah Gerakan Non Blok (Non-Aligned Movement) dan Relevansi'nya di Dunia Modern
Gerakan Non Blok mulai di inisiasi pada saat diadakannya Konferensi Asia-Afrika (Afro-Asian Conference/Bandung Conference) di Bandung, Indonesia pada 18-24 April 1955.

Tiga pemimpin negara dunia ketiga saat itu, Presiden Soekarno dari Indonesia, Presiden Gamal Abdel Nasser dari Mesir, serta Perdana Menteri Jawaharlal Nehru, mendiskusikan posisi negara-negara dalam konstelasi dunia yang terpusat pada dua kutub kekuatan, yakni Amerika Serikat di satu sisi (Blok Barat/Western Bloc) dan Uni Soviet di sisi berlawanan (Blok Komunis/Communist Bloc).

Tuesday, September 20, 2016

Dinamika Kerjasama ASEAN Plus Three (APT)

Kerjasama yang melibatkan banyak negara (multilateral) menjadi sarana setiap negara untuk memperkokoh stabilitas ekonomi, politik, dan keamanan domestik maupun regional. Namun demikian, tidak jarang terdapat dinamika yang unik dari kerjasama tersebut, mengingat adanya permasalahan diantara negara-negara yang terlibat, tak terkecuali dalam format kerjasama ASEAN Plus Three (APT). Artikel ini akan mengulas tentang dinamika kerjasama ASEAN Plus Three, termasuk berbagai isu diantara negara anggota.

Dinamika Kerjasama ASEAN Plus Three (APT)
ASEAN Plus Three (APT) terdiri dari 10 negara anggota ASEAN dan Jepang (Japan), China (the People’s Republic of China), serta Korea Selatan (the Republic of Korea), mulai di inisiasi pada akhir 1997, dan secara resmi di institusionalisasi pada 1999, saat terjadi pertemuan tingkat tinggi ASEAN Plus Three ke-3 (the 3rd ASEAN Plus Three Summit) di Manila, Phillipina.

Adapun kehadiran format kerjasama APT ini difungsikan sebagai sarana untuk memperluas basis kerjasama perdagangan, perekonomian, serta keamanan kawasan.

Thursday, September 15, 2016

Menelisik Hubungan Kerjasama ASEAN-Amerika Serikat

Tidak bisa dipungkiri bahwa perdagangan antar negara menjadi salah satu wujud kerjasama dalam rangka memelihara relasi, sekaligus mencegah terjadinya konflik dan persaingan. Hubungan perdagangan, baik bilateral maupun multilateral, juga menjadi media diplomasi bagi negara untuk meningkatkan kerjasama dalam cakupan yang lebih luas. Artikel ini akan memaparkan hubungan kerjasama antara ASEAN dengan Amerika Serikat (the United States of America).

Melihat Sejauh Mana Hubungan Kerjasama ASEAN-Amerika Serikat
Karena hubungan antar negara melibatkan kepentingan masing-masing pihak, maka kita akan melihat dari berbagai sudut pandang, baik dari sisi Amerika Serikat maupun dari perspektif ASEAN sebagai satu kesatuan institusi dan menurut kepentingan masing-masing negara anggota ASEAN.

Dari sudut pandang Amerika Serikat.
Amerika Serikat memiliki hubungan bilateral yang relatif baik dengan negara-negara anggota ASEAN, kecuali (mungkin) dengan Myanmar. Hal ini diakibatkan karena konstelasi politik domestik Myanmar serta masalah demokrasi dan hak asasi manusia (setidaknya demikian yang sering diserukan oleh Amerika Serikat).

Thursday, September 8, 2016

Perkembangan Teknologi dan Industrialisasi di Jepang

Jepang memiliki sejarah panjang dalam pengembangan teknologi dan industrialisasi yang membawa pengaruh signifikan pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan negara tersebut. Perpaduan antara riset (R&D) dan penerapan teknologi mampu mengubah negara yang sebelumnya hancur karena kekalahan di perang dunia kedua, menjadi salah satu negara maju dengan pendapatan tertinggi di dunia (high-income country). Artikel ini akan mengupas tentang industrialisasi dan perkembangan teknologi di negara Jepang.

Industrialisasi dan Perkembangan Teknologi di Jepang
Dengan luas area sekitar 377.9 kilometer2 dan jumlah populasi penduduk sebanyak 126.32 juta pada 2016, Jepang (Nippon-koku/the State of Japan) merupakan salah satu negara dengan pendapatan tertinggi menurut the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), yakni dengan menghasilkan Gross Domestic Product (GDP) kurang-lebih sebesar US$ 4.11 triliun pada 2015, dan GDP per kapita tak kurang dari US$ 32.5 ribu.

Berbicara mengenai teknologi, faktor ini diyakini menjadi elemen penting dalam era globalisasi dan peningkatan daya saing. Teknologi juga dipercaya memiliki peran utama dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Tuesday, September 6, 2016

Tinjauan tentang Modal Sosial (Social Capital) serta Kaitannya dengan Ekonomi dan Pembangunan

Modal sosial (social capital) merupakan konsep yang multidisipliner. Berbagai penelitian, baik dalam kajian sosiologi, kebudayaan, maupun ekonomi, memberikan penekanan secara khusus tentang konsep modal sosial. Tulisan ini akan merangkum beberapa tinjauan tentang modal sosial (social capital) dan kaitannya dengan ekonomi dan pembangunan.

Tinjauan tentang Modal Sosial (Social Capital) dan Kaitannya dengan Ekonomi
Hingga saat ini belum ada kesepakatan tunggal yang mampu menggambarkan makna modal sosial. Setiap peneliti memiliki sudut pandang yang berbeda-beda atas pengertian yang melekat pada konsep tersebut. Dibawah ini terdapat beberapa pihak yang menyatakan pandangannya tentang konsep dasar modal sosial (social capital).

Pierre Bourdieu.
Bourdieu, seorang sosiolog asal Perancis berpendapat bahwa konsep masyarakat (society) tidak hanya bisa dilihat dari sudut pandang ekonomi semata, namun juga dari perspektif yang lebih luas.

Thursday, September 1, 2016

Silicon Valley, Ketika Inovasi Menjadi Motor Pembangunan Ekonomi

Pada tulisan sebelumnya telah dibahas mengenai konsep cluster-based economy. Pada kesempatan kali ini kita akan melihat salah satu model cluster-based economy atau agglomeration economies yang menjadi benchmark studi-studi terkait pembangunan kawasan (spatial development), yakni Silicon Valley.

Silicon Valley, Ketika Inovasi Menjadi Motor Penggerak Ekonomi
Terletak di bagian selatan the San Francisco Bay Area, Amerika Serikat, sampai dengan saat ini Silicon valley disebut sebagai pembangunan kawasan industri yang paling sukses, sekaligus sebagai pusat inovasi dunia, terutama dibidang teknologi informasi.

Secara geografis, Silicon Valley memiliki luas wilayah sekitar 2,980 km2, dihuni populasi kurang-lebih sebanyak 3.0 juta jiwa. Industri-industri yang terdapat di area ini rata-rata menghasilkan pendapatan hingga US$ 122 ribu per tahun. Tercatat pula bahwa pendapatan per kapita di kawasan Silicon Valley pada 2014 mencapai US$ 79.1 ribu, atau meningkat US$ 1,460 dari tahun sebelumnya (Joint Venture Silicon Valley, 2016 Silicon Valley Index: People, Economy, Society, Place, Governance, 2016).