March 2017

Thursday, March 30, 2017

Mengenang Tragedi Minamata, ketika aktivitas perekonomian mengabaikan faktor lingkungan

Disamping pesatnya perkembangan teknologi dan industrialisasi di Jepang, negara ini memiliki pengalaman pahit menyangkut dampak industrialiasasi terhadap lingkungan. Salah satu tragedi parah terkait dengan hal tersebut adalah peristiwa yang terjadi di wilayah Minamata dan sekitarnya, yang dikenal dengan istilah Minamata Disease, pada era 1950’an. Pada tulisan ini kita akan belajar tentang tragedi Minamata, sebagai gambaran dari aktivitas ekonomi yang mengabaikan lingkungan hidup.

Mengenang Tragedi Minamata, ketika aktivitas perekonomian mengabaikan faktor lingkungan
Kota Minamata berada di Perfektur Kumamoto, berbatasan dengan Perfektur Kagoshima, Pulau Kyushu, Jepang bagian selatan. Secara geografis, daerah ini dikelilingi oleh gugusan pegunungan dan laut. Selain itu, Minamata sangat kaya akan hasil laut seperti ikan, kerang, rumput laut, dan biota laut lain.

Setelah berakhirnya Perang Dunia ke-2, Jepang mulai memasuki era industrialisasi baru, dimana terdapat banyak industri yang menggunakan bahan kimia merkuri (mercury) sebagai instrumen dalam proses produksi, utamanya untuk produk botol, cangkir dan piring, filter rokok, serta serat sintetis. Merkuri sendiri dimanfaatkan sebagai katalis untuk memproduksi acetaldehyde, yang merupakan bahan baku dalam industri plastik.

Thursday, March 23, 2017

Belajar dari Pengelolaan Sampah di Jepang

Persoalan sampah merupakan problem yang terjadi seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, kemajuan pembangunan ekonomi, serta perkembangan industri. Setiap wilayah disudut bumi menghadapi masalah sampah; namun demikian tidak sedikit pemerintah suatu negara melakukan tindakan serius terhadap hal tersebut, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif yang berkepanjangan. Kali ini kita akan belajar tentang pengelolaan sampah (waste management) dari negara Jepang.

Belajar dari Pengelolaan Sampah di Jepang
Pengelolaan sampah dibedakan menjadi dua kelompok, yakni sampah industri dan sampah rumah tangga.

Pengelolaan sampah industri menjadi tanggung-jawab pihak terkait di sektor tersebut, baik melalui mekanisme pembakaran, pemurnian, atau ekstraksi sampah menjadi energi. Sementara pengelolaan sampah rumahtangga menjadi tanggung-jawab pemerintah setempat.

Thursday, March 16, 2017

Saat Pencemaran Udara Mempengaruhi Kehidupan Manusia

Salah satu isu lingkungan yang secara langsung mempengaruhi tingkat kesehatan dan angka harapan hidup adalah polusi udara (air pollution). Problem ini terjadi dihampir setiap wilayah di dunia, menandakan bahwa pencemaran udara merupakan persoalan global. Dalam tulisan ini kita akan belajar seputar masalah pencemaran udara.

Saat Pencemaran Udara Mempengaruhi Kehidupan Manusia
Organisasi Kesehatan Dunia, WHO (the World Health Organization), dalam laman resminya mengelompokkan sumber polusi udara menjadi dua tipe, yakni polusi udara dalam ruangan (household/indoor air pollution) dan polusi udara luar ruangan (ambient atau outdoor air pollution).

Polusi udara dalam ruangan adalah gas buangan yang dihasilkan dari aktivitas dalam rumahtangga, seperti kegiatan memasak dengan menggunakan gas, minyak tanah, atau arang; pemakaian tungku api dan penghangat ruangan; pemanfaatan pengatur suhu ruangan (air conditioner); serta pemakaian obat semprot.

Tuesday, March 14, 2017

Menakar Kebutuhan Sumberdaya Energi di Masa Depan

Sumberdaya energi merupakan unsur vital bagi keberlangsungan kehidupan. Berbicara tentang sumberdaya energi, terdapat dua jenis sumberdaya yang kita kenal, yakni sumberdaya energi terbarukan (renewable resources) dan sumberdaya energi tak terbarukan (non-renewable resources). Pada tulisan ini kita akan melihat sejauh mana kebutuhan sumberdaya energi untuk masa depan.

Menakar Kebutuhan Sumberdaya Energi di Masa Depan
Penelitian menyatakan bahwa seiring dengan peningkatan jumlah populasi manusia di planet bumi yang diperkirakan mencapai lebih dari 8 miliar jiwa di 2020, total kebutuhan energi diproyeksikan akan meningkat hingga 2% setiap tahun. Disisi lain, ketersediaan sumberdaya energi akan menyusut sampai dengan 1.1% per tahunnya.

Sementara menurut the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), pada 2050 perekonomian dunia akan meningkat hingga empat kali lipat, disertai dengan kebutuhan energi yang mengalami peningkatan mencapai 80%. Hal ini akan diikuti dengan peningkatan emisi gas buang karbondioksida (CO2) hingga dua kali lipat jika tidak ada aturan untuk mengendalikannya (OECD, Energy: The Next Fifty Years, 1999).

Thursday, March 9, 2017

Beberapa Catatan tentang Reklamasi (Land Reclamation)

Kegiatan reklamasi (land reclamation) bukan hanya ada di satu atau dua negara saja. Terdapat banyak negara yang melakukan reklamasi daerah pesisir dengan berbagai alasan, antara lain karena tidak mencukupinya lahan yang ada di daratan serta pertimbangan strategis lainnya. Tulisan ini merupakan catatan tentang aktivitas reklamasi yang dilakukan oleh beberapa negara di dunia, termasuk persoalan yang terkait didalamnya.

Beberapa Catatan tentang Reklamasi (Land Reclamation)
Kegiatan reklamasi merupakan upaya penambahan luas daratan yang dilakukan dengan cara menimbun kawasan perairan dengan material padat (pasir, batu, dan lain-lain) sehingga terbentuk daratan baru di tempat tersebut.

Negara-negara yang melakukan reklamasi kebanyakan menggunakan alasan terbatasnya luas wilayah daratan yang mereka miliki. Adapun tujuan reklamasi biasanya bermotif ekonomi, misalnya untuk pengembangan kawasan perindustrian, perdagangan, sekaligus perumahan. Namun demikian ada juga yang memanfaatkan reklamasi untuk kepentingan non-ekonomi.

Thursday, March 2, 2017

Mengenal Skema Kerjasama Kontrak Karya (Production Sharing Agreement)

Belum lama ini terjadi perdebatan antara Pemerintah Indonesia dan PT. Freeport McMoran terkait dengan kerjasama penambangan sumberdaya mineral di Propinsi Papua, Indonesia. Disatu sisi, Pemerintah Indonesia hendak mengubah kesepakatan dari Kontrak Karya (Production Sharing Agreement) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) sesuai amanat undang-undang, sementara disisi lain pihak perusahaan ingin tetap pada sistem Kontrak Karya (Financial Times, Freeport-McMoRan threatens to sue Indonesia over mine dispute, www.ft.com, February 21, 2017). Tulisan ini tidak akan membahas perdebatan tersebut, melainkan mempelajari tentang skema kerjasama Kontrak Karya (Production Sharing Agreement).

Mengenal Skema Kerjasama Kontrak Karya (Production Sharing Agreement)
Pada hakikatnya, Kontrak Karya atau Production Sharing Agreement (PSA) merupakan kontrak kerjasama antara satu atau beberapa investor dengan pemerintah suatu negara (biasanya diwakili oleh kementerian yang membawahi masalah sumberdaya energi atau perusahaan negara dibidang terkait) yang didalamnya terdapat hak untuk mengeksplorasi dan mengekstraksi/mengeksploitasi sumberdaya mineral di suatu area dalam jangka waktu yang telah ditentukan.