Sejarah Perkembangan Bank Sentral Eropa (The European Central Bank)

Saturday, March 26, 2016

Sejarah Perkembangan Bank Sentral Eropa (The European Central Bank)

Tidak jauh berbeda dengan The Federal Reserve, sejarah yang menjadi latar belakang hadirnya the European Central Bank/ECB (Bank Sentral Eropa) juga terjadi dalam jangka waktu yang lama. Sebelum sampai kepada ECB, terlebih dahulu kita akan memelajari cikal bakal terbentuknya komunitas Uni Eropa (the European Union) pada 1952.

Sejarah Perkembangan Bank Sentral Eropa (The European Central Bank)
Pada saat itu, dengan dimotori oleh Belgia, Jerman, Perancis, Italia, Luxemburg, dan Belanda, dibentuklah kerjasama dalam bidang perdagangan komoditas tertentu yang bernama the European Coal and Steel Community (ECSC).

Dalam perkembangannya, untuk memperluas area kerjasama antar negara, maka pada awal 1958 keenam negara tersebut membentuk the European Economic Community (EEC) yang dituangkan dalam kesepakatan Treaties of Rome. EEC menjadi awal terintegrasinya perekonomian negara-negara Eropa. Meski demikian, kala itu belum ada pemikiran untuk membentuk mata uang bersama (Scheller, H, The European Central Bank, History, Role and Functions, 2006).

Melalui EEC inilah kemudian mulai digagas penggunaan mata uang tunggal Eropa, pada saat itu bernama the Economic and Monetary Union (EMU), dengan tujuan untuk memudahkan transaksi perdagangan antar negara. Pada 1969, gagasan ini dituangkan dalam sebuah rencana yang disebut Barre Plan.

Setelah melalui periode waktu yang cukup lama, akhirnya disepakati bahwa EMU akan dilakukan dalam tiga tahap: yang pertama mulai 1990, dengan menghapus semua aturan yang menghambat lalu-lintas perdagangan barang dan jasa, serta pergerakan individu antar negara. Kemudian fase kedua pada 1994 dengan membentuk the European Monetary Institute (EMI) yang menjadi cikal bakal the European Central Bank (ECB).

Lantas pada Juni 1998 dibentuklah the European Central Bank, yang tugas pertamanya adalah mempersiapkan kerangka kerja operasional untuk kebijakan moneter tunggal yang akan dimulai pada awal tahun berikutnya. Dan akhirnya pada 1 Januari 1999, secara resmi Euro menjadi mata uang tunggal negara-negara anggota Euro Area.

Adapun fungsi Bank Sentral Eropa antara lain menjadi pusat pengambilan keputusan berkaitan dengan kebijakan moneter, memastikan diimplementasikannya keputusan, memiliki kewenangan sebagai regulator, serta menginisiasi peraturan-peraturan disektor moneter dan perbankan.

Sementara untuk menjaga stabilitas finansial di kawasan, ECB melaksanakannya melalui analisa ekonomi dan analisa moneter. Analisa ekonomi mendasarkan diri pada kondisi ekonomi dan finansial. Analisa ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan harga dalam kaitannya dengan permintaan dan penawaran barang. Disisi lain analisa moneter dipakai untuk mencermati perkembangan sektor moneter termasuk besaran inflasi (European Central Bank, Facts: The European Central Bank, The Eurosystem, The European System of Central Banks, 2006).

Terintegrasinya negara-negara dikawasan tersebut membuat Euro Area menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan dalam perdagangan internasional. Berikut akan kita simak data terakhir dari Bank Dunia mengenai perekonomian 19 negara yang tergabung dalam Uni Eropa.

Pada 2014, produk domestik bruto (GDP) Euro Area tercatat sebesar US$ 13.4 triliun. Dengan total populasi berkisar di angka 338.7 juta, maka pendapatan per kapita pada tahun tersebut kurang lebih sebesar US$ 39,162. Dengan kekuatan ekonomi sebesar ini, Euro Area menjadi penantang yang sangat serius bagi Amerika Serikat dan Jepang sebagai jawara kekuatan ekonomi dunia (data.worldbank.org).

Selanjutnya kita akan melihat bagaimana upaya ECB menghadapi krisis ekonomi 2007-2008 yang menghantam Eropa.

Pada saat itu, setelah bangkrutnya Lehman Brothers ada kekhawatiran bahwa hal tersebut akan berdampak juga pada korporasi-korporasi di Eropa. Ini membuat ECB segera melakukan tindakan awal melalui analisa atas dampak utang-utang negara Euro Area terhadap stabilitas kawasan.

Lalu ECB meninjau ulang kebijakan yang telah ada sebelumnya, termasuk besaran suku bunga (minimum bid rate) yang berlaku. Dari berbagai analisa tersebut, diputuskanlah kebijakan pemangkasan suku bunga dengan tujuan menggairahkan perekonomian disektor riil. Perubahan juga dilakukan dengan pelonggaran ketentuan mengenai syarat-syarat utang perbankan untuk mengurangi beban yang harus ditanggung debitur.

Tidak sampai disitu saja, ternyata krisis di Eropa berlanjut pada 2010 ketika Yunani mengalami gagal bayar (default), akibat salah pengelolaan pemerintahan. Melalui serangkaian dinamika perdebatan dan diwarnai konflik politik domestik, hingga isu keluarnya Yunani dari Euro (Grexit), akhirnya Yunani mendapatkan bantuan (bail out) dengan skema yang telah disepakati oleh ECB dan negara Euro Area.

Persoalan belum berhenti juga, karena sejak 2013-2015 perekonomian dunia mengalami perlambatan, ditambah dengan isu perang mata uang (currency war), dimana negara-negara berlomba-lomba menurunkan tingkat suku bunga untuk menarik investor asing masuk berinvestasi, termasuk ketika China memotong nilai tukar Yuan terhadap US Dollar, sebuah kebijakan yang dianggap tidak lazim di perekonomian modern.

Dan perkembangan terakhir adalah keputusan yang juga tidak kalah mengejutkan, yakni ECB memberlakukan suku bunga negatif, hingga minus 0.04% untuk mendorong perekonomian disektor riil (The Wall Street Journal, ECB Cuts Rates and Expands Stimulus – Recap, Mar 10, 2016). Keputusan ini mengundang perdebatan panjang. Namun begitu, seperti yang pernah kita pelajari jauh sebelum ini bahwa setiap keputusan ekonomi yang penting dan berdampak luas, hampir pasti selalu mendatangkan pro dan kontra.

Demikian pokok-pokok yang berkenaan dengan sejarah perkembangan dan peran Bank Sentral Eropa pada stabilitas perekonomian Euro Area. **
ARTIKEL TERKAIT :
Kebijakan Moneter: tinjauan dasar
Bank Sentral dan Kebijakan Moneter
ASEAN Dalam Perekonomian Global
Devaluasi Yuan: mengapa menjadi sorotan?

No comments:

Post a Comment