OPEC: menggali ladang minyak dunia

Thursday, April 28, 2016

OPEC: menggali ladang minyak dunia

Sejak lebih dari tujuh dekade terakhir, minyak bumi menjadi salah satu elemen penting dalam perekonomian global. Perannya sebagai bahan bakar untuk industri manufaktur, listrik, hingga transportasi, membuatnya menjadi ‘nyawa’ yang menyokong pertumbuhan ekonomi negara.

Terlebih lagi apabila melihat bahwa kebutuhan minyak bumi terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut data, kebutuhan minyak mentah (crude oil) pada 2016 diperkirakan berada diangka 94.2 juta barrel per hari, meningkat sebesar 1.2 juta barrel dari tahun sebelumnya (OPEC, Monthly Oil Market Report, 10 February 2016).

OPEC: menggali ladang minyak dunia
Sebagai catatan, beberapa tahun terakhir harga minyak mentah bergejolak tidak menentu, mulai dari kenaikan harga yang mencapai angka diatas US$ 100 per barrel (www.money.cnn.com, Oil prices surge above $106, gasoline tops $ 3.50, September 29, 2014), hingga penurunan harga yang drastis dibawah US$ 30 per barrel (www.bloomberg.com, Crude Falls Below $30 a Barrel for the First Time in 12 Years, January 13, 2016).

Gejolak harga minyak tersebut diatas pada kenyataannya sangat berpengaruh terhadap stabilitas makroekonomi negara-negara di dunia. Hal ini menjadi indikator penting yang menunjukkan besarnya peran minyak dalam menentukan laju perekonomian.

Dalam kaitannya dengan minyak bumi, artikel ini akan mengulas tentang salah satu organisasi multinasional yang terdiri dari negara-negara pengekspor minyak, yakni the Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC).

OPEC dibentuk pada September 1960 saat gelaran Baghdad Conference, di Irak. Lima negara pendiri organisasi ini adalah Irak, Iran, Kuwait, Arab Saudi, dan Venezuela. Kemudian beberapa negara lain bergabung sebagai anggota, yakni Qatar, Indonesia, Libya, Uni Emirat Arab, Algeria, Angola, Ekuador (dalam status suspended), dan Nigeria (www.opec.org).

Latar belakang berdirinya OPEC didahului oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat saat itu, Dwight Eisenhower yang hendak membatasi kuota impor minyak mentah dari Venezuela dan Timur Tengah, serta mengutamakan industri minyak dari Kanada dan Meksiko. Keputusan inilah yang kemudian mendasari keinginan negara-negara di kawasan Timur Tengah dan Venezuela membentuk aliansi kerjasama yang kemudian dikenal dengan nama OPEC.

Maksud awal pendirian OPEC adalah untuk menjaga stabilitas harga minyak mentah dunia dengan cara membatasi jumlah minyak mentah yang beredar di pasaran. Karena negara anggota OPEC merupakan supplier minyak mentah, maka bisa dikatakan bahwa organisasi ini menerapkan sistem kartel (cartel). Sebagai informasi, kartel merupakan persetujuan formal dari dua atau lebih penjual dalam pasar yang bersifat oligopoli (didominasi oleh beberapa supplier). Dalam persetujuan tersebut, anggota kartel melakukan kesepakatan atas harga, kuantitas produk yang dipasarkan, alokasi konsumen, hingga pembagian keuntungan (www.stats.oecd.org).

Adapun tujuan OPEC seperti yang tercantum dalam statuta organisasi adalah:
  • untuk mengkoordinasikan dan menyeragamkan kebijakan tentang minyak dari masing-masing negara anggota, serta untuk menentukan metode terbaik dalam melindungi kepentingan negara anggota, baik secara individu maupun secara bersama-sama.
  • untuk mengupayakan stabilitas harga minyak mentah dunia di pasar internasional melalui penanganan fluktuasi harga.
  • untuk menghasilkan manfaat ekonomi bagi negara produsen, ketersediaan minyak untuk negara konsumen, serta keuntungan yang adil bagi para investor di sektor industri perminyakan.
(Organization of the Petroleum Exporting Countries, Statute, 2012).

Apabila dilihat dari kontribusinya, negara-negara OPEC mengendalikan kurang lebih 75% cadangan persediaan minyak mentah dunia dan 40% produksi minyak mentah. Secara global, OPEC setidaknya menguasai sekitar 55% pangsa pasar minyak mentah. Ini sekaligus menunjukkan pengaruh OPEC dalam menentukan harga melalui kuota produksi minyak mentah.

Sementara itu, untuk menjaga stabilitas harga minyak mentah dunia, OPEC memiliki beberapa mekanisme, diantaranya: secara sukarela mengurangi produksi minyak mentah atau meningkatkan persediaan minyak mentah di pasaran saat terjadi lonjakan kebutuhan.

Dalam perjalanannya, OPEC menghadapi beberapa tantangan, baik internal maupun eksternal.

Konflik Irak-Iran 1980-1988.
Konflik ini tidak berhubungan langsung dengan keberadaan OPEC. Ada beberapa pemicu timbulnya perang Irak-Iran, mulai dari ideologi, hegemoni wilayah, situasi geopolitik kawasan, serta faktor ekonomi. Salah satu penyebab terjadinya perang Irak-Iran adalah perebutan jalur dagang di Semenanjung Arab (Shatt al-Arab waterway). Jalur ini menjadi sengketa karena merupakan wiilayah strategis yang menjadi pintu awal lalu lintas perdagangan menuju Eropa dan kawasan sekitarnya (Mearsheimer, J and Walt, S, An Unnecessary War, Foreign Policy, January-February 2003).

Invasi Irak atas Kuwait (Perang Teluk) pada 1990-1991.
Meningkatnya tensi antara Irak dengan Kuwait salah satunya akibat bangkrutnya Irak setelah perang panjang melawan Iran. Perang tersebut menyisakan utang yang harus ditanggung Irak, salah satunya kepada Kuwait. Pada saat itu Irak menginginkan agar utang dianggap lunas, namun keinginan tersebut ditolak oleh Kuwait.

Selain itu, Irak menuduh Kuwait memainkan kuota minyak di OPEC, sehingga mengakibatkan anjloknya harga minyak mentah dunia. Oleh Irak, hal ini dianggap merugikan karena mengurangi keuntungan yang diperoleh dari penjualan. Atas alasan-alasan tersebut, Irak meng’invasi Kuwait (Keesing’s Record of World Events, Iraqi Invasion of Kuwait-International Response, Vol. 36, August 1990).

Embargo Uni Eropa dan dunia internasional atas impor minyak dari Iran, 2012.
Peristiwa ini sebenarnya tidak berkaitan secara langsung dengan OPEC, namun mengingat Iran adalah salah satu supplier minyak mentah terbesar dunia, maka dampaknya menjadi signifikan. Pada prinsipnya embargo ini diberlakukan atas ujicoba senjata nuklir yang dikembangkan Iran.

Hal tersebut dianggap berbahaya dari segi keamanan dan politik kawasan Timur Tengah; dengan kata lain, pengembangan senjata nuklir oleh Iran menjadi ancaman bagi negara-negara lain. Adapun menurut salah satu sumber berita, kerugian yang dialami Iran akibat embargo tersebut kurang lebih senilai US$ 133 juta per hari (www.bloomberg.com, Iran Loses $133 Million a Day on Embargo, Buoying Obama, August 02, 2012).

Isu global warming dan perubahan iklim.
Persoalan pemanasan global dan perubahan iklim sampai dengan saat ini termasuk dalam isu internasional, salah satunya menyangkut dampak penggunaan minyak bumi sebagai bahan bakar (industri, transportasi) yang berpotensi merusak lingkungan dan kehidupan manusia dalam jangka panjang. Mengenai isu pemanasan global telah dibahas dalam artikel Bilamana Bumi Meleleh: hakikat dan dampak global warming.

Selain beberapa tantangan diatas, penelitian-penelitian yang terus dikembangkan dalam rangka menemukan sumber energi alternatif sebagai pengganti minyak bumi diperkirakan akan dapat mempengaruhi kebutuhan minyak mentah di pasar internasional di waktu-waktu mendatang.

Demi melihat masih besarnya ketergantungan negara-negara pada sumberdaya minyak bumi, maka kehadiran the Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) akan tetap dibutuhkan; meskipun dalam perjalanannya, OPEC menghadapi berbagai persoalan, baik internal maupun eksternal. **
ARTIKEL TERKAIT :
Konsep dan Permasalahan dalam Perdagangan Internasional
Perdamaian, Keadilan, dan Kerjasama Global untuk Pembangunan Jangka Panjang
SDGs: isu perubahan iklim, sumberdaya kelautan, dan ekosistem bumi
Harga Minyak Dunia dan Kaitannya Dengan Perekonomian

No comments:

Post a Comment