Mencegah dan Menanggulangi Bencana Banjir

Tuesday, May 3, 2016

Mencegah dan Menanggulangi Bencana Banjir

Ulasan kali ini berkaitan dengan permasalahan lingkungan, khususnya mengenai bencana (disaster). Apabila pada tulisan sebelumnya kita membahas mengenai bencana kekeringan, maka artikel ini akan membicarakan tentang bencana banjir (flood disaster).

Pertama-tama kita perlu memahami terlebih dahulu tentang pengertian banjir. Pada hakikatnya, banjir merupakan peristiwa alam dimana kuantitas air pada permukaan tanah melebihi ambang batas normal. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya banjir, yakni:
  • jumlah debit air yang meningkat di sungai.
  • hujan dengan intensitas tinggi dan terjadi dalam waktu relatif singkat.
  • masuknya air dari laut ke daratan.

Selain karena faktor alam, peran manusia juga turut mempengaruhi terjadinya banjir. Adapun faktor manusia yang menjadi penyebab bencana banjir antara lain:
  • adanya kegiatan penebangan hutan secara liar (illegal logging), sehingga mengurangi kemampuan hutan (pepohonan) menahan dan menyerap air hujan.
  • terjadinya sedimentasi pada bibir sungai yang disebabkan oleh adanya bangunan rumah, gedung, dan bangunan lain yang didirikan tanpa memperhatikan lingkungan.

Mencegah dan Menanggulangi Bencana Banjir
Di wilayah tertentu di dunia, banjir (dalam kadar normal) biasanya justru dinantikan, misalnya di beberapa area di benua Afrika, dimana kondisi tanah cenderung kering dan gersang. Dalam hal ini, peristiwa banjir bisa menyumbang persediaan air, baik untuk penduduk setempat, tumbuh-tumbuhan, maupun binatang ternak. Disamping itu, tanah yang terkena dampak banjir bisa menjadi lunak dan gembur, sehingga bisa dimanfaatkan untuk lahan tanaman produksi.

Namun demikian, dalam banyak hal bencana banjir lebih sering membawa dampak negatif. Selain mengganggu aktivitas manusia, banjir dalam skala tertentu menyebabkan kerusakan pada bangunan, jalan, rumah, bahkan berdampak langsung pada kesehatan dan nyawa manusia.

Beberapa laporan dibawah ini menunjukkan daya rusak bencana banjir yang menimpa beberapa wilayah di dunia.

Pada pertengahan 2005 terjadi banjir bandang yang diakibatkan oleh topan Katrina di Amerika Serikat. Akibat bencana banjir ini, total kerugian yang diderita senilai US$ 200 milliar, belum termasuk korban jiwa. Menurut otoritas setempat, peristiwa ini merupakan salah satu bencana banjir terburuk sepanjang sejarah Amerika Serikat.

Lebih lanjut, menurut the United States Geological Survey (USGS) bencana alam banjir di negara itu menimbulkan korban jiwa rata-rata sebanyak 140 orang setiap tahunnya, dengan kerugian aset (rumah, bangunan, jalan raya, dsb) tak kurang dari US$ 6 milliar (USGS Science Helps Build Saver Communities, Flood Hazard-A National Threat, Fact Sheet, January 2006).

Berikutnya, menurut keterangan pemerintah setempat, peristiwa banjir yang melanda ibukota Indonesia, Jakarta pada awal 2015, telah mengakibatkan kerugian tak kurang dari Rp 1.5 tilliun per hari. Angka ini diperoleh dari beberapa aspek kerugian, antara lain tidak beroperasinya sektor perdagangan (toko, kios, restoran), rusaknya persediaan barang dagangan/stok produksi, kemudian terhambatnya operasional usaha (perkantoran dan perusahaan), tidak beroperasinya moda transportasi umum, serta kendala terkait lainnya (www.republika.co.id, Kerugian Akibat Banjir, Kamis, 12 Pebruari 2015).

Negara-negara di kawasan Asia juga tidak sedikit yang mengalami bencana banjir dengan skala kerusakan masif. Bangladesh, April 1991, mengalami bencana banjir bandang akibat badai tropis hingga menelan korban lebih dari 130 ribu jiwa. Sementara di wilayah lain, pada 1998 China menderita kerugian setara dengan US$ 30 milliar akibat musibah banjir yang menimpa negara tersebut.

Yang juga tidak kalah dahsyat adalah peristiwa banjir yang menimpa Mumbai, India pada pertengahan Juli 2005. Musibah banjir kala itu mengakibatkan kematian tak kurang dari 1,000 orang dengan kerugian ekonomi senilai US$ 750 juta.

Kemudian, apabila dilihat dari kategorinya, terdapat jenis-jenis banjir yang secara umum dikenal, diantaranya:
  • Flash floods. Flash floods adalah banjir yang terjadi secara cepat, biasanya pada dataran rendah. Kejadian ini pada umumnya diawali dengan hujan yang sangat lebat, bisa juga disertai dengan runtuhnya bendungan atau dam penahan air, dan faktor-faktor lain yang mempercepat proses terjadinya banjir.
  • River flood. Banjir seperti ini biasanya terjadi karena sungai tidak muat lagi menampung air, sehingga air meluber memenuhi wilayah disekitarnya. Peristiwa ini biasanya didahului dengan intensitas hujan yang tinggi dan dalam jangka waktu yang lama.
  • Coastal floods. Banjir jenis ini terjadi apabila ada badai tropis yang membawa air laut masuk ke daratan. Coastal floods juga bisa muncul akibat adanya tsunami seperti yang melanda Jepang pada pertengahan Maret 2011. Pada saat itu bencana banjir akibat tsunami dengan kekuatan lebih dari 8 skala richter meluluh-lantakkan sisi timur laut Jepang, terutama di wilayah Fukushima, dengan total korban jiwa tak kurang dari 15,000 orang.
  • Urban floods. Banjir jenis ini terjadi di kawasan perkotaan, terutama sebagai akibat buruknya sistem drainase kota, sehingga gerimis kecil sekalipun bisa menyebabkan genangan air.

Sementara untuk mencegah agar banjir tidak terjadi, atau setidaknya mengurangi dampak meluasnya kerusakan akibat banjir, upaya mitigasi bencana banjir dilakukan dengan:
  • mempelajari proses awal munculnya bencana.
  • mengembangkan sistem peringatan dini bencana banjir (flood-disasters early warning system).
  • membangun sistem prakiraan banjir secara tepat dan akurat.
  • memaksimalkan peran otoritas lokal dan nasional dalam menanggulangi dampak banjir.
(International Council for Science, Science Plan on Hazards and Disasters: Earthquakes, Floods and Landslides, 2008).

Setiap negara memiliki program pencegahan dan penanggulangan bencana sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing. Namun beberapa hal prinsip wajib dilaksanakan dalam upaya pengelolaan lingkungan untuk mencegah datangnya bencana banjir, yakni:
  • menjaga sungai tetap bersih dan mengalir, antara lain dengan tidak membuang sampah dan kotoran lain kedalam sungai, kemudian dengan program pengawaan (monitoring program) secara rutin untuk memastikan ada/tidaknya masalah, baik pada aliran air sungai maupun daerah sekitarnya.
  • mengajak masyarakat setempat untuk terlibat secara aktif dalam menjaga kelestarian sungai sebagai lingkungan yang terintegrasi dengan kehidupan mereka.
  • memantau saluran air (khususnya diperkotaan) untuk mengurangi kemungkinan terjadinya banjir atau genangan air yang bisa mengganggu aktivitas masyarakat.
  • mempersiapkan unit siaga banjir setiap saat, sehingga apabila banjir terjadi, pertolongan dan penanganan kepada korban banjir bisa dilakukan secara efektif.

Kesimpulannya, bencana banjir bisa datang kapan dan dimana saja. Langkah pencegahan dini menjadi alternatif pertama agar kejadian banjir bisa diantisipasi; namun jika banjir sudah terjadi, maka kesigapan unit siaga bencana menjadi faktor penting dalam penanganan dampak banjir. **
ARTIKEL TERKAIT :
Ketika Bencana Kekeringan Melanda
Melestarikan Hutan, Merawat Peradaban
Perkenalkan: Environmental Economics
Faktor Lingkungan dalam Perekonomian

No comments:

Post a Comment