Apa Yang Terjadi Setelah Quantitative Easing Dihentikan?

Monday, October 26, 2015

Apa Yang Terjadi Setelah Quantitative Easing Dihentikan?

Setelah pada artikel sebelumnya dibahas tentang pengertian dan pelaksanaan quantitative easing di Amerika Serikat, pada pemaparan kali ini akan diulas mengenai proses dihentikannya kebijakan QE setelah perekonomian negara tersebut menunjukkan perubahan kearah positif.

Apa Yang Terjadi Setelah Quantitative Easing Dihentikan?
Indikator-indikator ekonomi yang menunjukkan hasil konstruktif, seperti inflasi yang stabil, kenaikan secara siginifikan perdagangan di pasar saham, penjualan perumahan yang semakin membaik, serta indikator positif lain, mendorong the Fed untuk menghentikan kebijakan quantitative easing.

Setelah melalui beberapa kali pertemuan dalam FOMC meeting, the Fed mengambil keputusan untuk melakukan tapering, yakni mengurangi secara gradual jumlah pembelian obligasi.

Dalam pelaksanaannya, the Fed mengurangi pembelian obligasi pemerintah menjadi sebesar US$ 75 milliar per bulan berlaku sejak Januari 2014 dan rencananya akan berakhir sampai dengan Oktober 2014.

Lalu pertanyaannya adalah bagaimana dampak pengurangan pembelian obligasi pemerintah tersebut?

Uraian sederhana dijelaskan sebagai berikut. Karena jumlah uang dollar yang beredar di pasar menjadi lebih sedikit dari kondisi sebelumnya, maka harga mata uang dollar menjadi lebih mahal (menguat) dibandingkan dengan mata uang negara lain. Dengan penguatan mata uang dollar, dampaknya terlihat pada transaksi perdagangan yang menggunakan mata uang tersebut.

Sektor ekspor negara-negara lawan transaksi Amerika Serikat sebenarnya diuntungkan dengan keadaan ini, dengan syarat apabila biaya bahan baku dan proses produksi menggunakan mata uang domestik negara tersebut, sedangkan harga jual produk jadi menggunakan mata uang US dollar.

Sebaliknya dalam hal impor, para importir dari negara lawan transaksi Amerika Serikat akan terkena dampak berupa berkurangnya margin keuntungan. Hal ini terjadi karena nilai tukar mata uang negara tersebut per US$ menjadi lebih rendah; artinya mereka mesti merogoh kocek lebih dalam lagi untuk belanja barang impor atau bahan baku produksi dalam jumlah yang sama.

Lebih lanjut, karena belanja bahan baku produksi menjadi lebih mahal, maka hal tersebut akan berdampak pada kenaikan harga jual produk. Adanya kenaikan harga jual pada produk jadi cenderung akan mengurangi kemampuan masyarakat untuk membeli; dengan kata lain menyebabkan terjadinya penurunan permintaan konsumen.

Hal ini diperkeruh lagi dengan adanya ulah para investor besar yang melakukan spekulasi di pasar. Mereka memanfaatkan situasi ini dengan memborong US dollar sebanyak-banyaknya untuk memperoleh keuntungan jangka pendek (membeli US dollar pada saat harga masih rendah, dan menjualnya kembali ketika harga sudah tinggi).

Sebagai penutup, Amerika Serikat menunjukkan keberhasilannya keluar dari krisis ekonomi melalui kebijakan quantitative easing, dan ketika kondisi makroekonomi dalam negeri mulai stabil, secara bertahap kebijakan ini dihentikan. Sementara bagi negara-negara lawan transaksi, kebijakan penerapan QE maupun keputusan penghentian kebijakan tersebut turut mempengaruhi stabilitas perekonomian masing-masing negara. **
ARTIKEL TERKAIT :
Bank Sentral dan Kebijakan Moneter
Devaluasi Yuan: mengapa menjadi sorotan?
Suku Bunga Bank Sentral: darimana dia berasal?
Apa Sih Quantitative Easing Itu?

No comments:

Post a Comment