Suku Bunga Bank Sentral: darimana dia berasal?

Thursday, October 29, 2015

Suku Bunga Bank Sentral: darimana dia berasal?

Beberapa waktu terakhir, perekonomian dunia sedang mengalami gejolak. Gejolak perekonomian tersebut muncul karena terkait dengan kemungkinan bank sentral Amerika Serikat (The US Federal Reserve/The Fed) menaikkan suku bunga acuan, atau istilah populernya Fed rate. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kita akan mempelajari tentang suku bunga bank sentral dan pengaruhnya terhadap perekonomian.

Suku Bunga Bank Sentral: darimana dia berasal?
Sesuai literatur ilmu ekonomi, secara garis besar terdapat dua kebijakan ekonomi ditinjau dari perspektif pengambil kebijakan. Yang pertama adalah kebijakan fiskal, dimana pengambil kebijakan tersebut adalah lembaga pemerintah/eksekutif melalui institusi didalamnya, terutama kementerian keuangan; sedangkan yang kedua adalah kebijakan moneter, yang berada dibawah kendali institusi bank sentral (Samuelson and Nordhaus, Economics, International Edition, 2002).

Adapun suku bunga bank sentral merupakan salah satu instrumen kebijakan moneter. Lantas, apa dan bagaimana pengaruh besarnya suku bunga bank sentral terhadap perekonomian?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita akan membuat suatu contoh sederhana.  Apabila kita memiliki rekening tabungan atau deposito berjangka di salah satu bank umum, maka kita akan mendapatkan bunga simpanan sebesar sekian persen setiap bulan.

Disisi lain, jika kita meminjam uang dari bank yang sama, misalnya berupa pinjaman tanpa agunan atau pinjaman kredit perumahan rakyat, bank akan memungut sejumlah persentase dari uang yang dipinjamkannya kepada kita sebagai bunga kredit.

Besaran bunga seperti tersebut diatas (baik bunga pinjaman maupun bunga kredit) ditetapkan oleh bank berdasarkan pada acuan tertentu, yakni suku bunga bank sentral.

Selanjutnya, bagaimana bank sentral memutuskan besarnya suku bunga?

Tolok ukur penentuan besarnya suku bunga bank sentral utamanya berasal dari data-data ekonomi, misalnya nilai kurs (nilai tukar) mata uang domestik terhadap mata uang negara lain (terutama dibandingkan dengan mata uang US dollar, sebagai mata uang yang diterima secara internasional), angka inflasi dalam negeri, proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik, serta indikator ekonomi lainnya.

Lebih jauh, secara rutin bank sentral melakukan evaluasi dan membuat laporan mengenai perkembangan perekonomian nasional yang akan dipakai sebagai dasar penentuan kebijakan moneter. Di Amerika Serikat misalnya, sebelum memutuskan penentuan besarnya tingkat suku bunga, komite dalam institusi bank sentral (The Fed) akan berdiskusi terlebih dahulu dalam forum yang disebut dengan Federal Open Market Committe (FOMC) Meeting.

Apabila dalam keputusannya, bank sentral menetapkan kenaikan suku bunga sebesar poin tertentu dari sebelumnya, maka kemungkinan yang terjadi di pasar perekonomian adalah sebagai berikut: kenaikan tingkat suku bunga cenderung membuat kurs mata uang tersebut terkerek naik. Alasannya, karena investor akan lebih memilih untuk memegang uang dan/atau menanamkannya di bank daripada membelanjakannya untuk konsumsi atau memakainya sebagai modal usaha, mengingat bunga simpanan cenderung ikut naik.

Kebijakan ini biasanya diambil apabila keadaan perekonomian suatu negara memasuki kondisi recovery selepas dari krisis yang terjadi sebelumnya. Hal inilah yang terjadi di Amerika Serikat belakangan ini, sehingga pada akhirnya The Fed memutuskan untuk menaikkan Fed rate.

Lebih jauh, jika Fed rate naik, maka akan mengurangi persediaan US dollar di pasar (karena investor lebih memilih memegang dollar), sehingga pada gilirannya akan meningkatkan kurs mata uang US dollar terhadap mata uang negara lain.

Demikian pula sebaliknya, bila suku bunga bank sentral diturunkan, maka investor akan memilih membelanjakan uangnya (untuk konsumsi, investasi saham, properti, atau digunakan sebagai modal usaha dan transaksi perdagangan), sebab suku bunga simpanan sudah tidak lagi kompetitif.

Seberapa besar pengaruh tingkat suku bunga bank sentral pada perekonomian tentu berbeda-beda. Jika mata uang suatu negara digunakan dalam perdagangan internasional, seperti US dollar dan euro; atau bila perekonomian suatu negara memiliki peran yang signifikan pada perekonomian internasional, semisal China, maka kenaikan atau penurunan suku bunga bank sentral bukan saja berdampak pada perekonomian domestik negara bersangkutan, namun juga pada perekonomian global. **

ARTIKEL TERKAIT :
Bank Sentral dan Kebijakan Moneter
Devaluasi Yuan: mengapa menjadi sorotan?
Apa Yang Terjadi Setelah Quantitative Easing Dihentikan?
Apa Sih Quantitative Easing Itu?

No comments:

Post a Comment