Belajar dari Penurunan Populasi di Jepang

Thursday, February 4, 2016

Belajar dari Penurunan Populasi di Jepang

Artikel ini masih erat kaitannya dengan isu-isu yang mengemuka dalam bonus demografi (demographic bonus) yang kita ulas sebelumnya. Kita akan mempelajari fenomena unik yang terjadi di Jepang, yakni penurunan jumlah penduduk yang terjadi dari tahun ke tahun, terutama menyangkut faktor-faktor penyebab timbulnya hal tersebut dan bagaimana upaya pemerintah setempat mengatasinya.

Belajar dari Penurunan Populasi di Jepang
Apabila dibelahan dunia lain, terutama di negara berkembang dan negara miskin, permasalahan tentang populasi biasanya mengenai ledakan jumlah penduduk karena tingginya angka kelahiran (fertility rate), maka yang terjadi di Jepang justru sebaliknya.

Penelitian menunjukkan bahwa penurunan populasi untuk usia kerja (15-64 tahun) per tahun mencapai rata-rata satu juta orang, dan diprediksikan akan terus menurun hingga 17% sampai dengan 2030.

Perlu diketahui bahwa total penduduk Jepang pada 2015 mencapai kurang lebih 126.5 juta jiwa, jumlah ini akan merosot di 2030 menjadi sekitar 116.5 juta jiwa dan akan semakin menyusut menjadi 97 juta jiwa di 2050 (National Institute of Population and Social Security Research, Population Projections for Japan: 2011 – 2060, Januari 2012).

Pertanyaan yang mengemuka tentunya adalah bagaimana penurunan jumlah penduduk bisa terjadi. Di negara berkembang dan negara miskin, terutama yang sedang mengalami konflik, terjadinya generasi yang hilang (lost generation) cenderung diakibatkan oleh perang, konflik bersenjata, serta pembumi-hangusan (genocide) terhadap kelompok masyarakat tertentu.

Sementara yang terjadi di Jepang, penurunan populasi lebih disebabkan oleh faktor tingginya usia harapan hidup (life expectancy) yang dibarengi dengan menurunnya jumlah angka kelahiran (fertility rate). Faktor usia harapan hidup utamanya dipengaruhi oleh kesadaran akan pentingnya kesehatan oleh masyarakat sendiri, serta fasilitas kesehatan dan dana kesehatan yang disediakan oleh pemerintah Jepang.

Mengenai penurunan jumlah angka kelahiran lebih disebabkan adanya pemikiran dari generasi muda di Jepang yang lebih mengutamakan karir dan pekerjaan profesional daripada membangun keluarga. Selain itu, individu-individu yang telah berkeluarga cenderung mempunyai dedikasi yang tinggi untuk merawat anak dengan sebaik-baiknya, sehingga membuat mereka pada umumnya hanya memiliki satu anak dalam setiap keluarga.

Penyebab lain adalah terbatasnya ruang pribadi dan lahan perumahan, terutama di kota-kota besar akibat terbatasnya lahan. Hal ini menimbulkan keadaan yang kurang kondusif bagi kaum muda dan pasangan baru dalam membangun sebuah keluarga.

Disamping itu, studi juga menunjukkan bahwa penurunan populasi di Jepang berimplikasi negatif pada produk nasional bruto (Gross National Product/GNP). Hal ini terjadi karena penurunan populasi didominasi oleh kalangan usia kerja. Tercatat juga bahwa angkatan kerja diperkirakan mengalami penurunan sampai dengan 50% untuk 50 tahun mendatang. Faktor lain yang menjadi temuan adalah walaupun angka harapan hidup terbilang tinggi, sehingga memungkinkan individu-individu bisa bekerja (memperoleh penghasilan) dalam periode waktu yang lebih lama, namun hal ini tidak sebanding dengan berkurangnya angka kelahiran (sebagai faktor utama menurunnya proporsi angkatan kerja).

Sementara dari sektor rumah tangga, apabila individu/keluarga memiliki investasi atau saving yang tergolong besar, mereka cenderung tertarik untuk berinvestasi di luar negara Jepang. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terjadinya pelarian modal (Muto, et al, Macroeconomic Impact of Population Aging in Japan: A Perspective from an Overlapping Generations Model, November 2012).

Untuk menanggulangi bermacam persoalan diatas, pemerintah Jepang membuat pemetaan masalah dan menitikberatkan pada beberapa faktor utama, yaitu dengan meningkatkan partisipasi perempuan serta mengambil tenaga profesional dari luar negeri untuk mengisi pasar tenaga kerja domestik.

Pemerintah Jepang menyadari bahwa dari komposisi laki-laki dan perempuan dalam populasi, terjadi gap yang besar dalam kaitannya dengan tenaga kerja. Gender gap ini tercermin dari data yang menyatakan hanya sekitar 38% perempuan usia kerja yang tetap berprofesi sebagai tenaga kerja setelah melahirkan.

Oleh karenanya pemerintah Jepang berupaya memfasilitasi pekerja perempuan yang sudah memiliki anak, antara lain dengan membangun pusat perawatan anak (child-care), sehingga sang ibu bisa tetap fokus dengan pekerjaan tanpa khawatir dengan perkembangan anaknya. Cara ini juga ditempuh untuk sekaligus meningkatkan angka kelahiran bayi, sebab hal ini pun mampu mengurangi kekhawatiran keluarga apabila memiliki lebih dari satu anak.

Upaya diatas juga dimaksudkan untuk mewujudkan kesetaraan gender, sebab menurut data resmi, tercatat hanya sekitar 2,1% perempuan memegang jabatan setingkat dewan direksi di Jepang. Ini terlalu sedikit untuk negara maju seperti Jepang, dibandingkan dengan 36% di Norwegia atau 20% di Canada dan Amerika Serikat. Sementara di sektor pemerintahan, hanya sekitar 3,3% perempuan menduduki jabatan manajerial (Organisation for Economic Cooperation and Development, OECD Economic Surveys: Japan, April 2015).

Pemerintah Jepang juga gencar menerima pekerja asing untuk bekerja diberbagai sektor swasta yang tersedia. Meskipun demikian, pemerintah Jepang cenderung sangat berhati-hati dan menerapkan aturan ketat terhadap pekerja asing profesional, terutama berkaitan dengan kemampuan individu itu sendiri dan kemampuan berbahasa Jepang yang mesti dikuasai sampai dengan level tertentu.

Untuk pengetahuan lebih komprehensif tentang fenomena penurunan populasi di Jepang, literatur berikut bisa dijadikan rujukan, Demographic Change and the Family in Japan's Aging Society, by John W. Traphagan (ed), and Sir John Knight (ed), 2003.

Demikian poin-poin mengenai problem penurunan populasi di Jepang serta usaha pemerintah setempat menanggulangi permasalahan tersebut. **
ARTIKEL TERKAIT :
Upaya China Mengatasi Laju Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan Populasi Global beserta Permasalahannya
Memahami Dua Sisi Bonus Demografi (Demographic Bonus)
Hakikat Pembangunan Manusia (Human Development)

No comments:

Post a Comment