Memahami Dua Sisi Bonus Demografi (Demographic Bonus)

Tuesday, February 2, 2016

Memahami Dua Sisi Bonus Demografi (Demographic Bonus)

Topik tulisan kali berkenaan dengan masalah pertumbuhan populasi dalam kaitannya dengan pembangunan ekonomi suatu negara. Bahasan utama yang kita pelajari adalah mengenai bonus demografi (demographic bonus). Ada dua sisi yang akan kita lihat, yakni bonus demografi sebagai kekuatan yang menunjang perekonomian, sementara disisi lain sebagai ancaman bagi pembangunan itu sendiri.

Memahami Dua Sisi Bonus Demografi (Demographic Bonus)
Pertama-tama kita akan memahami pengertian bonus demografi. Menurut Ross, bonus demografi digambarkan sebagai suatu keadaan dimana terjadi penurunan angka kelahiran dalam jangka panjang, sehingga menurunkan proporsi penduduk usia muda; hal ini mengakibatkan berkurangnya beban investasi yang harus dikeluarkan untuk pemenuhan kebutuhan.

Oleh karena itu, sumber investasi tersebut bisa digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan keluarga (Ross, J, Understanding the Demographic Dividen: Policy Project, September 2004).

Selain itu, pola terjadinya bonus demografi diyakini bervariasi sesuai dengan kondisi umum suatu wilayah. Kondisi tersebut antara lain mencakup kinerja institusi pemerintahan, termasuk institusi hukum, sistem birokrasi, kebijakan sosial dan ekonomi, kebebasan berpolitik, adanya keterbukaan, sistem pelayanan kesehatan, dan sebagainya. Semakin bagus performa dari indikator-indikator tersebut, maka akan semakin bermanfaat pula bonus demografi dalam jangka panjang.

Beberapa penjabaran lebih detil adalah sebagai berikut: pertama, meningkatnya usia harapan hidup (life expectancy) yang dibarengi dengan menurunnya jumlah angka kematian (mortality rate) sangat erat kaitannya dengan semakin membaiknya sarana dan prasarana kesehatan, pelayanan kesehatan kepada masyarakat, serta berkembangnya ilmu pengetahuan dibidang kedokteran sehingga mampu menemukan metode-metode pencegahan dan penyembuhan penyakit.

Hal kedua adalah dengan semakin membaiknya nilai gizi dan asupan nutrisi, terutama yang dikonsumsi anak-anak dalam masa pertumbuhan, memungkinkan mereka memiliki usia harapan hidup yang lebih tinggi daripada generasi sebelumnya. Usia harapan hidup yang tinggi, kondisi kesehatan yang prima, dan tingkat pendidikan yang layak, berkorelasi positif dengan produktivitas yang nantinya akan tergambar pada pertumbuhan ekonomi dan pendapatan nasional.

Dari keterangan diatas bisa ditarik benang merah bahwa elemen penting yang menjadi pondasi bonus demografi agar bisa memberikan manfaat bagi pembangunan jangka panjang adalah sistem pendidikan dan pelayanan kesehatan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Beberapa penelitian lain menyatakan bahwa bonus demografi hanya bisa bermanfaat apabila kondisi pasar tenaga kerja berada pada kondisi terserap penuh (full-employment), serta dalam produktivitas yang optimal. Bila ini tidak terpenuhi, maka yang muncul justru dampak negatif.

Dampak negatif yang timbul bila angkatan tenaga kerja tidak terserap di pasar ialah bertambahnya angka pengangguran. Tingginya angka pengangguran akan membebani perekonomian dari sisi konsumsi, investasi, dan aspek ekonomi lain. Kemudian dari sisi non-ekonomi, pengangguran yang tinggi juga menimbulkan masalah sosial, termasuk bertambahnya angka kriminalitas.

Ada satu kasus menarik di Jepang, yang meskipun masyarakatnya memiliki tingkat kesehatan dan asupan nutrisi yang prima, serta mempunyai usia harapan hidup yang tinggi, namun kondisi tersebut tidak diimbangi dengan pertumbuhan angka kelahiran (fertility rate). Ini terjadi karena kaum usia muda lebih memilih berkarier daripada berkeluarga dan memiliki anak. Akibatnya Jepang mengalami pertumbuhan penduduk negatif, atau dengan kata lain terjadi pengurangan jumlah penduduk dari tahun ke tahun. Fenomena ini semestinya menjadi perhatian bagi negara lain, agar bisa dicegah sehingga tidak kontraproduktif bagi pembangunan.

Kesimpulannya: pertama, bonus demografi akan memberikan manfaat jangka panjang bagi pembangunan suatu bangsa apabila dilandasi dengan sistem pendidikan dan pelayanan kesehatan yang layak bagi masyarakat. Kedua, kebijakan pemerintah, dalam hal ini mengenai pertumbuhan populasi dan angka kelahiran, termasuk program keluarga berencana (family-planning program), mesti diterapkan secara efektif, sehingga mampu mencegah dampak negatif pertumbuhan penduduk bagi pembangunan. **
ARTIKEL TERKAIT :
Pertumbuhan Populasi Global beserta Permasalahannya
Belajar dari Penurunan Populasi di Jepang
Kesehatan sebagai Investasi Pembangunan
Pendidikan dalam Pembangunan

No comments:

Post a Comment