Kamis, 17 Desember 2015

Peranan Sektor Kesehatan dalam Pembangunan

Artikel kali ini masih berkaitan dengan pengembangan sumberdaya manusia dalam pembangunan. Jika sebelumnya kita mengulas tentang faktor pendidikan dalam pembangunan, pada tulisan ini kita akan menyajikan pemahaman mengenai peran kesehatan sebagai motor pembangunan suatu negara.

Kesehatan sebagai Investasi Pembangunan
Dalam situs resminya, organisasi kesehatan dunia (the World Health Organization) mendefinisikan kesehatan (health) sebagai “A state of complete physical, mental, and social well-being and not merely the absence of disease and infirmity”(www.who.int/en/).

Jika diterjemahkan secara bebas dinyatakan bahwa kesehatan adalah suatu kondisi secara menyeluruh mencakup fisik, mental, dan sosial dari individu, yang bukan semata-mata akibat tiadanya penyakit dan kerentanan terhadap penyakit.



Bila dijabarkan lebih lanjut, ada tiga kategori kesehatan yang disebutkan dalam definisi tersebut, yakni:
  • kesehatan fisik. 
  • kesehatan mental.
  • kesehatan sosial. 
Kesehatan fisik adalah kondisi kesehatan secara umum dari individu, mencakup kebugaran fisik serta keadaan bebas dari sakit fisik (physical illness).

Sementara kesehatan mental merupakan keadaan dimana individu memiliki kesadaran akan potensi dalam dirinya yang bisa digunakan untuk mengatasi beban mental (stress), bekerja dengan produktif, serta memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.

Berikutnya, kesehatan sosial digambarkan sebagai keadaan individu dimana ia lahir, tumbuh, bekerja, dan hidup dalam suatu sistem yang membentuk kehidupannya sehari-hari; termasuk didalamnya adalah sistem dan kebijakan ekonomi, agenda pembangunan, norma sosial, serta kebijakan politik dan sosial.

Lebih jauh, WHO juga menyatakan bahwa dalam pelaksanaan standar kesehatan terdapat beberapa kriteria harus diperhatikan, yakni:
  • Non diskriminasi. Upaya pencapaian standar kesehatan tidak boleh membeda-bedakan ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, dan perbedaan lain.
  • Ketersediaan. Berupa tersedianya fasilitas kesehatan yang memadai serta layanan kesehatan masyarakat yang berkualitas.
  • Aksesibilitas. Artinya layanan kesehatan harus bisa diakses oleh semua pihak.
  • Kualitas. Ini menyangkut standar fasilitas kesehatan, layanan kesehatan, serta produk kesehatan.
  • Akuntabilitas. Setiap upaya pencapaian standar kesehatan harus bisa dipertanggungjawabkan.
  • Universalitas. Hal ini mengandung makna bahwa segala upaya mewujudkan standar kesehatan diberlakukan untuk semua individu dimanapun dia berada.

Adapun pondasi yang menguatkan pentingnya kesehatan dalam pembangunan bisa dirumuskan sebagai berikut:
  • bahwa pencapaian standar tertinggi kesehatan merupakan hak asasi setiap individu tanpa membeda-bedakan suku, agama, kepentingan politik, maupun kondisi ekonomi dan sosial.
  • bahwa ketimpangan dalam mempromosikan kesehatan dan penanggulangan penyakit akan berkorelasi negatif dengan kemajuan pembangunan.
  • bahwa kesehatan adalah aset sekaligus sumberdaya untuk menciptakan stabilitas ekonomi dan sosial.
  • bahwa indikator kesehatan berhubungan erat dengan kinerja perekonomian dan kesejahteraan suatu bangsa.

Unsur kesehatan juga terkait langsung dengan pendidikan, sebab semakin sehat individu semakin besar kesempatan yang ia miliki untuk menyerap ilmu pengetahuan. Selanjutnya, semakin sehat seseorang semakin tinggi juga produktivitasnya. Selain itu, semakin sehat individu semakin tinggi pula usia harapan hidup; yang pada gilirannya akan menurunkan gen sehat pada generasi berikutnya.

Oleh karena kesehatan adalah hak asasi manusia, maka sudah menjadi tanggungjawab negara untuk menyediakan sarana dan prasarana kesehatan, mulai dari tenaga medis (dari sisi kuantitas dan kualitas), layanan kesehatan prima, sarana obat-obatan yang memadai, serta fasilitas penunjang kesehatan lainnya.

Sebagai kesimpulan, sektor kesehatan merupakan elemen penting pengembangan kualitas sumberdaya manusia. Kesehatan yang berkualitas mampu meningkatkan usia harapan hidup, menurunkan angka kematian, meningkatkan produktivitase, dan mengakselerasi laju pembangunan. **

UPDATE ARTIKEL (Sabtu, 13 Januari 2018):

Terkait dengan pentingnya kesehatan bagi pembangunan, sebuah studi meneliti tantangan-tantangan yang dihadapi negara dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan pada warganya.

Melalui penelitian terhadap 60 negara, studi tersebut berupaya mengukur sejauh mana kinerja sistem layanan kesehatan. Adapun beberapa faktor yang menjadi kriteria pengukuran antara lain: akses layanan anak dan ibu melahirkan, layanan pada pasien dengan penyakit menular, ketersediaan obat-obatan, serta layanan penunjang kesehatan seperti institusi yang menangani masalah kesehatan, kebijakan publik terkait kesehatan, dan infrastruktur pendukung.

Studi mengemukakan beberapa kesimpulan, yakni:
  1. negara yang memiliki komitmen politik dan finansial lebih mampu memberikan akses kesehatan yang berkualitas kepada masyarakatnya.
  2. investasi pada sektor kesehatan menggambarkan komitmen serius negara dalam memastikan kesehatan warganya. Investasi ini bisa berupa pusat layanan kesehatan, biaya kesehatan yang terjangkau, serta infrastruktur untuk mengakses layanan kesehatan.
  3. implementasi universal health coverage (cakupan kesehatan menyeluruh) menunjukkan kesungguhan pemerintah dalam meningkatkan layanan kesehatan bagi warganya.
  4. akses data pasien (riwayat kesehatan, penyakit yang pernah diderita, dan sebagainya) menjadi titik penting dalam upaya menolong pasien secara tepat dan cermat.
  5. tenaga medis dan tenaga profesional lain di sektor kesehatan memainkan peran penting dalam peningkatan layanan keseahatan masyarakat.
Studi juga menemukan bahwa investasi pada sektor kesehatan yang tidak memadai, khususnya di negara-negara miskin, berdampak pada banyaknya masyarakat mengalami penyakit serius dan menular, kematian mendadak, serta gangguan kesehatan akibat buruknya sanitasi dan faktor lingkungan.

Disisi lain, meskipun mampu menyediakan layanan dan sarana kesehatan yang memadai, namun penuaan populasi penduduk menjadi problem serius yang dihadapi negara-negara maju.

Sementara dari sisi masyarakat, biaya pengobatan dan biaya lain terkait kesehatan menjadi hambatan terbesar bagi mereka untuk mendapatkan akses layanan kesehatan. Disamping itu, kesulitan mendapatkan pertolongan pertama dari tenaga medis/dokter pada saat mengakses layanan kesehatan juga berakibat meningkatnya risiko bagi keselamatan pasien (The Economist Intelligence Unit. Global Access to Healthcare, Building sustainable health system, 2017).

Peran kesehatan sebagai modal pembangunan juga bisa dilihat dari dampak negatif layanan kesehatan yang tidak memadai. Rendahnya kualitas layanan kesehatan akan menurunkan kualitas hidup manusia, yang pada gilirannya akan berdampak buruk pada kinerja pembangunan.

WHO mencatat beberapa fakta penting terkait tingkat kesehatan secara global:
  1. Pada 2015 terdapat sekitar 830 perempuan meninggal saat hamil atau melahirkan. Di tahun yang sama, angka kematian balita mencapai 43 dari 1,000 anak.
  2. Ada kurang-lebih 212 juta kasus malaria di 2015, atau dialami oleh 94 dari 1,000 orang. Sementara tuberkulosis menyerang lebih dari 10.4 juta jiwa dan menyebabkan korban meninggal sebanyak 1.4 juta jiwa.
  3. Untuk penyakit tidak menular, tercatat ada lebih dari 8.8 juta kasus penyakit kanker dan 17.7 juta penyakit kardiovaskular di 2015.
  4. Pada 2013 ada tak kurang dari 1.25 juta orang meninggal karena kecelakaan di jalan raya, dan 50 juta lainnya mengalami luka. Sementara kasus kekerasan merenggut nyawa lebih dari 468 ribu jiwa di 2015.
(World Health Organization. World Health Statistics 2017: monitoring health for the SDGs, Sustainable Development Goals, 2017).

Penelitian lain menegaskan implementasi universal health coverage (UHC) atau cakupan kesehatan menyeluruh sebagai unsur penting tercapainya tujuan agenda the Sustainable Development Goals, yakni: hak-hak memperoleh kesehatan (SDGs tujuan ke-3), pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja (SDGs ke-8), kesetaraan gender (SDGs ke-5), pendidikan (SDGs ke-4), angka kecukupan gizi (SDGs ke-2), serta pengentasan kemiskinan (SDGs ke-1).

Adapun cakupan kesehatan menyeluruh merupakan sistem kesehatan yang bisa memastikan bahwa setiap individu memiliki akses yang adil dalam hal layanan kesehatan yang berkualitas dengan biaya terjangkau (World Health Organization and the World Bank. Healthy systems for universal health coverage – a joint vision for healthy lives, 2017).

Sebagai penutup, uraian-uraian diatas menegaskan kembali pentingnya faktor kesehatan sebagai salah satu motor pembangunan. **


ARTIKEL TERKAIT :
Melihat Progress Pelaksanaan SDGs (the Sustainable Development Goals)
Saat Pencemaran Udara Mempengaruhi Kehidupan Manusia
Teori dan Konsep Dasar Negara Kesejahteraan (Welfare State)
Mengenal Arti dan Tujuan SDGs (the Sustainable Development Goals): mewujudkan pembangunan yang berkesinambungan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar