Industri di Korea Selatan secara umum berorientasi pada pasar ekspor.
Salah satu upaya pemerintah Korea Selatan dalam memacu peningkatan sektor perindustrian adalah dengan memperkenalkan konsep universitas riset (research universities) beserta pusat penelitian (research center) yang secara aktif melakukan penelitian-penelitian.
Angka statistik menunjukkan bahwa perkembangan teknologi Korea Selatan, yang ditunjang dengan strategi, transfer teknologi, dan komersialisasi teknologi telah mengalami perkembangan yang sangat pesat.
Pada 2004 saja, pemerintah Korea Selatan menggelontorkan dana sebear US$ 22 miliar untuk pengembangan teknologi.
Menilik ke belakang, sejarah awal perkembangan perindustrian di Korea Selatan dimulai pada era 1950 dan awal-awal 1960’an, dimana pada saat itu industri-industri lebih terkonsentrasi pada model industri manufaktur sederhana, yang strateginya meniru model yang sudah ada di pasaran, namun menawarkan harga yang lebih terjangkau.
Kemudian di era 1960 sampai awal 1970’an, pemerintah Korea Selatan mulai mengembangkan industri-industri baru yang lebih modern, yakni dengan menggarap pasar ekspor secara terbatas.
Era 1970’an ditandai dengan didirikannya industri-industri berat, seperti peralatan pertahanan dan keamanan, industri baja dan perkapalan, serta industri otomotif.
Pemerintah Korea Selatan juga memberikan insentif pada kelompok industri besar agar bisa berkembang dengan lebih cepat.
Kemudian era riset dan pengembangan (R&D) mulai muncul diawal-awal 1980 hingga 1990’an, dimana industri-industri terus mengalami kemajuan, dan akhirnya menjelma menjadi raksasa-raksasa yang menguasai berbagai lini usaha di pasar internasional.
Akan tetapi, terjadinya krisis moneter dipertengahan 1997 membuat kondisi perekonomian Korea Selatan terpuruk, sehingga banyak perusahaan besar menghadapi kekurangan likuiditas dan akhirnya mengalami kebangkrutan.
Setelah melakukan berbagai restrukturisasi utang dan meminta bantuan pada the International Monetary Fund (IMF), Korea Selatan mampu melakukan recovery kondisi perekonomian dalam negeri.
Sementara di era 2000’an, sektor industri Korea Selatan mengalami kebangkitan, disusul dengan keberhasilan pemerintah Korea Selatan melunasi pinjamannya pada IMF.
Hingga kini, banyak industri Korea Selatan telah menguasai pasar global, contohnya industri peralatan elektronika (televisi, lemari pendingin), industri telekomunikasi (smartphones, tablets), industri otomotif, dan industri besar lainnya.
Sebagai penutup, meskipun dalam sejarah perkembangannya, industri-industri di Korea Selatan sempat mengalami keterpurukan akibat krisis ekonomi serta menyisakan persoalan domestik berupa peningkatan angka pengangguran, namun patut dicatat bahwa negeri ini telah berhasil membangun sektor perindustrian hingga mampu menjadi pemenang dalam pasar persaingan global. *
UPDATE ARTIKEL (Minggu, 13 Agustus 2017):
Pada perkembangan terkini, industri-industri di Korea Selatan menghadapi persaingan serius dengan China.
Seperti yang diungkapkan oleh the Korea Institute for Industrial Economics and Trade (KIET), dari beberapa industri yang ada, misalnya industri otomotif, perkapalan, besi dan baja, telekomunikasi, semikonduktor, hingga perlengkapan rumahtangga, kualitas produk-produk China mampu menyamai, bahkan lebih unggul daripada produk-produk buatan Korea Selatan; dengan harga jual yang lebih kompetitif (english.hani.co.kr. South Korea’s leading industries feeling the heat of competition from China, July 01, 2016).
Namun demikian KIET memperkirakan bahwa industri makanan dan minuman, informasi dan komunikasi, serta tekstil akan sanggup bersaing dengan lebih unggul pada 2017.
Sebagai informasi, Artificial Intelligence mengacu pada teknologi dimana komputer digital dan/atau mesin yang dikendalikan oleh komputer mampu mengerjakan tugas-tugas yang memerlukan kecerdasan tertentu (www.britannica.com).
Disisi lain, kebijakan proteksionisme yang diterapkan Amerika Serikat disinyalir akan berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan penjualan produk-produk Korea Selatan di Amerika Serikat.
Beberapa hal tersebut diatas akan menjadi tantangan bagi sektor perindustrian Korea Selatan di 2017 dan masa-masa berikutnya. **
UPDATE
ARTIKEL (Senin, 26 Januari 2026):
Saat
ini, industri di Korea Selatan makin berkembang pesat, mulai dari aspek
kualitas produk, ekosistem digital yang lebih modern, serta jaringan bisnis
yang terkoneksi dengan baik.
Salah
satu sektor industri yang paling mencolok adalah industri konten (content
industry).
Industri
ini antara lain berupa periklanan (advertising), informasi pengetahuan (knowledge
information), serta penyelesaian masalah (solutions).
Kecepatan
internet yang tinggi serta dukungan platform digital sangat berperan bagi
majunya industri ini, mengingat hampir semua hal bisa di akses secara daring (online).
Menurut
catatan, industri ini mampu menghasilkan pendapatan nasional yang signifikan, dari
sebesar 57 triliun Won di 2005, menjadi 137 triliun Won pada 2021.
Industri
konten juga berkaitan erat dengan sektor-sektor yang lebih luas, termasuk
keahlian di bidang pemrograman komputer (computer programming), serta
jasa keilmuan atau teknis.
Keterkaitan
lintas sektor inilah yang menjadi penentu level kualitas konten yang
dihasilkan.
Selain
itu, minat masyarakat global pada Korea Selatan juga sangat mendukung pertumbuhan
industri domestik.
Hal
ini tercermin dari semakin tingginya animo masyarakat internasional pada film
dan drama Korea (K-drama), musik dan lagu (K-pop), serta permainan
ala Korea (K-games).
Laporan
juga menyebutkan kalau industri konten mampu menghasilkan angka ekspor yang
terus meningkat, dari US$ 3.23 miliar di 2010, melejit hingga US$ 12.45 miliar
pada 2021 (Lee, Jinkook. The ascent of K-content: Industry structure and
growth drivers, KDI Focus, No. 140, Korea Development Institute, Sejong,
2025).
Penelitian
lain menyatakan jika Korea Selatan merupakan eksportir global terbesar ke-8
pada 2023, setara 40% GDP. Adapun GDP Korea Selatan pada tahun tersebut berada
di level US$ 1.84 triliun.
Industri
yang menjadi penyumbang terbesar adalah industri semikonduktor dan otomotif (termasuk
suku cadang). Masing-masing berkontribusi hingga 20% dan 12% dari total ekspor
Korea Selatan.
Adapun
nilai total ekspor pada 2023 berada di level US$ 645 miliar.
Sementara
industri lain yang berkontribusi diantaranya industri petrokimia, perkapalan,
perangkat elektronik, serta produk-produk berbasis besi dan baja.
Amerika
Serikat dan China merupakan tujuan ekspor terbesar, dengan nilai ekspor ke
masing-masing negara berada di atas US$ 100 miliar dan US$ 200 miliar, pada
2023.
Namun
demikian, perlambatan pertumbuhan ekonomi global sejak beberapa tahun terakhir,
ditambah dengan meningkatnya tensi ketegangan geopolitik antar negara, berpotensi
negatif terhadap nilai ekspor Korea Selatan (H. Chai, and H. Kim. Korea in a
Changing Global Trade Landscape. Selected Issues Paper SIP/12/024,
International Monetary Fund, Washington DC, 2025). ***
ARTIKEL TERKAIT :
Menyoroti Perkembangan Industri Ritel (Retail Industry) di Era Digitalisasi
Perkembangan Teknologi dan Industrialisasi di Jepang
Perekonomian Korea Selatan: antara Data dan Realita
Mencermati Perkembangan Kekuatan Ekonomi China

Tidak ada komentar:
Posting Komentar