Perkembangan Industri di Korea Selatan

Tuesday, March 1, 2016

Perkembangan Industri di Korea Selatan

Setelah sebelumnya membahas mengenai perekonomian Korea Selatan secara umum, kini kita akan mengupas lebih detil tentang perkembangan sektor perindustrian Korea Selatan yang menurut banyak studi dikategorikan sebagai sebuah pencapaian yang fenomenal.

Perkembangan Industri di Korea Selatan
Industri di Korea Selatan secara umum berorientasi pada pasar ekspor. Konsep internasionalisasi industri ini memang menjadi visi pemerintah negara Korea Selatan dalam upaya menjadikan Korea Selatan sebagai penguasa pangsa pasar di sektor perindustrian berskala global.

Salah satu upaya pemerintah Korea Selatan dalam memacu peningkatan sektor perindustrian adalah dengan memperkenalkan konsep universitas riset (research universities) beserta pusat penelitian (research center) yang secara aktif melakukan penelitian-penelitian. Salah satu contohnya adalah Korea Technology Transfer Center (KTTC) yang didirikan pada 2000.

Angka statistik menunjukkan bahwa perkembangan teknologi Korea Selatan, yang ditunjang dengan strategi, transfer teknologi, dan komersialisasi teknologi telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini cukup beralasan, sebab pemerintah negara Korea Selatan menyediakan dana dalam jumlah besar untuk investasi pada riset dan pengembangan (research and development/R&D).

Pada 2004 saja, pemerintah Korea Selatan menggelontorkan dana sebear US$ 22 miliar untuk pengembangan teknologi. Hasilnya adalah: Korea Selatan memiliki lebih dari 300 ribu ilmuwan berpengaruh dalam sektor perindustrian. Selain itu, hasil riset-riset tersebut juga diterapkan oleh industri-industri besar Korea Selatan (Chaebol) yang beberapa diantaranya telah menguasai pangsa pasar dunia (Young Roak Kim, Technology Commercialization in Republic of Korea, 2001).

Menilik kebelakang, sejarah awal perkembangan perindustrian di Korea Selatan dimulai pada era 1950 dan awal-awal 1960’an, dimana pada saat itu industri-industri lebih terkonsentrasi pada model industri manufaktur sederhana, yang strateginya meniru model yang sudah ada di pasaran namun dengan memberikan harga yang lebih terjangkau.

Kemudian di era 1960 sampai awal 1970’an, pemerintah negara Korea Selatan mulai mengembangkan industri-industri baru yang lebih modern, dengan mulai menggarap pasar ekspor secara terbatas. Hal ini diikuti dengan reformasi kebijakan ekonomi dan perindustrian melalui instrumen fiskal dan moneter, antara lain dengan memberikan subsidi pajak, memberikan kredit dengan suku bunga yang terjangkau, dan aturan yang mendukung lainnya.

Era 1970’an ditandai dengan didirikannya industri-industri berat, seperti peralatan pertahanan dan keamanan, industri baja dan perkapalan, dan industri otomotif. Selain itu, untuk menyaingi Jepang dalam sektor perindustrian, pemerintah Korea Selatan membangun infrastruktrur yang lebih teratur dan terhubung diberbagai lini.

Pemerintah negara Korea Selatan juga memberikan insentif pada kelompok industri besar (Chaebol) agar bisa berkembang dengan lebih cepat. Di era inilah mulai terlihat kemajuan-kemajuan industri-industri besar Korea Selatan yang di kemudian hari berkembang menjadi perusahaan multinasional yang diperhitungkan oleh para pesaing.

Kemudian era riset dan pengembangan (R&D) sendiri baru mulai muncul diawal-awal 1980 hingga 1990’an, dimana industri-industri terus mengalami kemajuan, dan pada akhirnya menjelma menjadi raksasa-raksasa yang menguasai berbagai lini usaha di pasar internasional.

Akan tetapi, terjadinya krisis moneter dipertengahan 1997 membuat kondisi perekonomian Korea Selatan terpuruk, sehingga banyak perusahaan besar menghadapi kekurangan likuiditas dan akhirnya mengalami kebangkrutan. Era ini merupakan era kelam dalam sejarah perekonomian modern, karena krisis tersebut bukan hanya menimpa Korea Selatan, namun juga banyak negara lain di kawasan Asia, seperti Malaysia, Thailand, dan Indonesia.

Setelah melakukan berbagai restrukturisasi utang dan meminta bantuan pada organisasi the International Monetary Fund (IMF), Korea Selatan mampu melakukan recovery kondisi perekonomian dalam negeri. Meskipun masih menyisakan banyak persoalan, terutama meningkatnya angka pengangguran, pemerintah Korea Selatan berhasil keluar dari krisis yang mendera negeri itu dalam waktu relatif singkat.

Di kurun waktu 2000’an sektor perindustrian Korea Selatan mengalami kebangkitan, tak lama kemudian pemerintah Korea Selatan berhasil melunasi pinjamannya kepada IMF. Kemampuan Korea Selatan mengatasi krisis ini mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari kalangan internasional.

Bacaan berikut bisa menjadi sumber referensi mengenai perkembangan industri di Korea Selatan, Financial Crisis and Transformation of Korean Business Groups: The Rise and Fall of Chaebols, by Sea-Jin Chang, 2006.

Hingga kini, banyak industri Korea Selatan telah menguasai pasar global, contohnya industri peralatan elektronika (televisi, lemari pendingin), industri telekomunikasi (smartphones, tablets), industri otomotif, dan industri besar lainnya. Merk-merk terkenal dari industri-industri tersebut tentunya akrab di telinga kita, antara lain: Samsung, LG Electronics, Hyundai, Daewoo, serta KIA.

Sebagai penutup, meskipun dalam sejarah perkembangannya, sektor perindustrian Korea Selatan sempat mengalami keterpurukan akibat krisis ekonomi, serta menyisakan persoalan domestik berupa peningkatan angka pengangguran, namun patut dicatat bahwa negeri ini telah berhasil membangun sektor perindustrian hingga mampu menjadi pemenang dalam pasar persaingan global. **
ARTIKEL TERKAIT :
Pendekatan Budaya Modern dalam Menguasai Dunia: fenomena Korean Wave
Perekonomian Korea Selatan: antara Data dan Realita
Mencermati Perkembangan Kekuatan Ekonomi China
Konsep dan Permasalahan dalam Perdagangan Internasional

No comments:

Post a Comment