Bilamana Bumi Meleleh: hakikat dan dampak global warming

Tuesday, April 26, 2016

Bilamana Bumi Meleleh: hakikat dan dampak global warming

Isu pemanasan global (global warming) menjadi perhatian penting sejak beberapa dekade terakhir, terutama karena dampak yang diakibatkan oleh pemanasan global itu secara langsung mempengaruhi eksistensi lingkungan dan kehidupan manusia.

Dimasukkannya masalah pemanasan global dan perubahan iklim pada agenda besar the Sustainable Development Goals (SDGs), serta dipromosikannya berbagai bentuk kerjasama dan kesepakatan internasional menunjukkan urgensi dari persoalan tersebut.

Bilamana Bumi Meleleh: hakikat dan dampak global warming
Sebagai gambaran, setiap tahun manusia membuang gas emisi karbon dioksida (CO2) sebanyak 20 milliar ton ke lapisan atmosfir bumi, sedangkan pepohonan mengeluarkan gas karbon dioksida tak kurang dari 700 milliar ton per tahun (meskipun mengeluarkan gas karbon dioksida, namun pepohonan juga menyerap gas tersebut dan menghasilkan oksigen yang dibutuhkan sebagai zat hidup).

Selain itu, the World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa polusi udara (air pollution) akibat asap kendaraan bermotor, limbah udara dari pabrik, telah membunuh tak kurang dari 3.7 juta orang pada 2012. Gambaran diatas menjadi penting untuk diungkapkan, sebab hal-hal tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari isu pemanasan global (www.who.int).

Adapun proses terjadinya pemanasan global dapat dijabarkan sebagai berikut: pada saat matahari memancarkan cahaya, hanya sebagian (kurang lebih sepertiga) sinar yang sampai ke permukaan bumi, sedangkan sebagian lain dipantulkan kembali oleh lapisan atmosfir bumi. Dari pancaran sinar yang sampai ke permukaan bumi tadi, sebagian diserap oleh tanah, samudera, serta menghasilkan suhu (energi panas) dengan derajat tertentu dipermukaan bumi untuk menunjang kehidupan.

Lebih lanjut, energi panas tersebut tidak selamanya menetap dipermukaan bumi. Ketika suhu udara di bumi mulai meningkat, energi panas tadi bergerak kembali menuju atmosfir (ini sesuai dengan hukum fisika: udara mengalir dari tempat yang bertekanan tinggi menuju ke tempat yang bertekanan rendah), akibatnya suhu permukaan bumi kembali menjadi sejuk. Demikian siklus tersebut terjadi secara alami.

Yang kemudian menjadi concern adalah gas rumah kaca (greenhouse gas) pada atmosfir bumi telah dipenuhi oleh zat polutan berbahaya, seperti gas karbon dioksida (CO2) dan gas metana (CH4). Karena adanya zat-zat berbahaya tersebut, energi panas tadi kembali menuju ke bumi dan meningkatkan suhu permukaan bumi. Faktor inilah yang menjadi penyebab terjadinya global warming.

Dengan bahasa sederhana bisa dikatakan bahwa global warming adalah peningkatan suhu rata-rata dipermukaan bumi, yang disebabkan oleh tidak sempurnanya proses aliran energi panas di atmosfir bumi. Sebagai catatan, peningkatan suhu permukaan bumi dari 1906-2006 berada dikisaran 0.6-0.9 derajat celcius (Riebeek, H, Global Warming, earthobservatory.nasa.gov, June 3, 2010).

Literatur berikut menyajikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang fenomena global warming, An Inconvenient Truth: The Crisis of Global Warming, by Albert Jr. Gore, 2007.

Sementara studi lain menerangkan bahwa pada atmosfir bumi terdapat beberapa lapisan, diantaranya adalah stratosfir (stratosphere) dan troposfir (troposphere).

Pada troposfir terdapat lapisan ozone (O3) yang berfungsi untuk mengurangi radiasi sinar matahari (ultraviolet) yang menuju ke bumi, sementara di stratosfir (lapisan terbawah atmosfir) banyak terkumpul zat polutan hasil emisi gas buang dari bumi, seperti zat kimia pada pestisida, zat chlorofluorocarbons (CFC) pada lemari es, asap kendaraan bermotor, limbah udara dari industri, dan sebagainya. Sayangnya, lapisan ozone pada troposfir pun telah mengalami kerusakan akibat zat-zat tersebut (www.airnow.gov, Good Up High Bad Nearby – What is Ozone?, September 2014)

Selanjutnya, salah satu penelitian mengenai dampak jangka panjang pemanasan global terhadap beberapa aspek kehidupan menghasilkan beberapa poin penting, diantaranya:
  • dari sisi perubahan iklim (climate change). Di awal abad-20, global warming belum membawa dampak signifikan pada perubahan iklim. Peningkatan suhu mulai terjadi pada pertengahan abad ke-20, dan akan terus menghangat hingga abad ke-21, dengan derajat peningkatan yang konstan.
  • dampak pemanasan global terhadap perekonomian tercatat positif di awal abad ke-20 dengan rata-rata kenaikan sebesar 0.5% terhadap GDP, kemudian berjalan stabil beberapa dekade berikutnya, dan akhirnya menurun hingga 1.2% dari GDP saat memasuki abad ke-21.
  • dari pola konsumsi dan ketersediaan sumberdaya air, dampak global warming menunjukkan nilai minus, berupa peningkatan konsumsi air yang mengakibatkan terjadinya inefisiensi. Dimulai sejak awal abad ke-20 hingga masa selanjutnya, secara konsisten terjadi inefisiensi pemakaian air sebesar 0.1-0.2% dari produk domestik bruto.
  • dampak global warming terhadap kesehatan menunjukkan tren positif hingga 0.4% dari GDP pada pertengahan abad ke-20; akan tetapi menjadi negatif saat memasuki abad ke-21 dikisaran 0.3%, terutama di negara-negara miskin dan negara yang secara geografis bersuhu tinggi.
  • dampak negatif pemanasan global juga tercermin pada konsumsi sumberdaya energi, yang dari waktu ke waktu mencatatkan penurunan hingga 1.9% terhadap GDP.
  • di sektor agrikultur, dampak global warming menghasilkan peningkatan yang cukup signifikan. Secara umum terjadi kenaikan hasil panen sebesar 0.8% dari produk domestik bruto. Hal ini ditengarai karena unsur gas karbon dioksida yang mempercepat masa panen produk pertanian.
(Tol, R, Climate Change: The Economic Impact of Climate Change in the 20th and 21th Centuries, Assessment Paper, Copenhagen Consensus on Human Challenges, 2011).

Adapun langkah-langkah yang disarankan sebagai cara untuk menanggulangi efek global warming atau setidaknya mengurangi dampak pemanasan global, antara lain:
  • melalui efisiensi pemanfaatan energi, antara lain dengan mengurangi pemakaian kendaraan bermotor, melakukan penghematan konsumsi listrik, dan seterusnya.
  • dengan memanfaatkan sumber daya yang bisa diperbarui (renewable resources) dan/atau energi yang ramah lingkungan, seperti energi angin, biogas, dan lain-lain.
  • dengan melakukan gerakan penanaman pepohonan, baik dalam skala kecil (halaman rumah atau kebun), maupun pada ruang yang lebih luas (taman kota, ruang terbuka hijau).
  • peremajaan hutan, penanggulangan kerusakan hutan, serta penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Sebagai penutup, persoalan pemanasan global pantas mendapatkan perhatian serius, sebab dalam jangka panjang bisa mempengaruhi masa depan lingkungan dan kehidupan manusia. **
ARTIKEL TERKAIT :
Ongkos Kebakaran Hutan dan Lahan
Menakar Dampak Negatif Asap Rokok
SDGs: isu perubahan iklim, sumberdaya kelautan, dan ekosistem bumi
Sumberdaya Air, Energi, Pertumbuhan Ekonomi, dan Infrastruktur sebagai Elemen Penting pada Sustainable Development Goals

No comments:

Post a Comment