Ketika Bencana Kekeringan Melanda

Tuesday, April 12, 2016

Ketika Bencana Kekeringan Melanda

Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, kekeringan (drought) melanda berbagai negara di dunia, termasuk Afrika Selatan, India, China, Rusia, Australia, dan Indonesia. Beberapa hal memicu terjadinya peristiwa tersebut, yang paling lazim adalah karena perubahan iklim (climate change). Akan tetapi ada juga faktor tata kelola lingkungan hidup yang salah, sehingga mengubah keseimbangan lingkungan dan pada gilirannya mempengaruhi perubahan cuaca.

Ketika Bencana Kekeringan Melanda
Menurut pemaparan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bencana kekeringan di Indonesia yang terjadi pada 2015 terutama diakibatkan oleh adanya El-Nino. Lebih jauh BMKG menyebutkan akibat kekeringan yang melanda, yakni defisit persediaan air dibeberapa wilayah di Indonesia, diantaranya di sebagian Sumatera, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Total defistit air tercatat sekitar 20 milliar meter kubik, termasuk pada lahan pertanian seluas 111 ribu hektar (www.bnpb.go.id, Dampak El-Nino Tahun 2015 terhadap Kekeringan di Indonesia, 25 Agustus 2015).

El-Nino sendiri digambarkan sebagai suatu penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik. Karena laut dan atmosfir merupakan dua elemen yang saling terhubung, maka penyimpangan pada kondisi laut menyebabkan perubahan pada atmosfir, sehingga mengakibatkan terjadinya penyimpangan iklim (www.bmkg.go.id).

Akibat El-Nino antara lain berupa periode musim kemarau yang lebih panjang dari kondisi normal, curah hujan yang menurun tajam di musim kemarau, serta periode hari tanpa hujan yang lebih lama dari keadaan normal.

Dalam situsnya, the National Drought Mitigation Center (NDMC) mendefinisikan beberapa jenis kekeringan, antara lain:
  • Meteorogical drought, dimana kondisi kekeringan diukur dari tingkat kekeringan yang terjadi dibandingkan dengan situasai normal. Dikatakan meteorogical drought apabila tingkat penyerapan air berkurang drastis dan terjadi dalam jangka waktu lama.
  • Agricultural drought, menggambarkan suatu keadaan dimana kekeringan yang terjadi menyebabkan berkurangnya mineral tanah dalam menunjang kesuburan dan pertumbuhan tanaman diatasnya.
  • Hydrological drought, terjadi apabila terdapat penurunan kuantitas air, baik dipermukaan maupun dibawah tanah.
  • Socioeconomic drought, terjadi bila kekurangan persediaan air mulai mempengaruhi kehidupan manusia secara langsung, termasuk pada kesehatan dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
(www.drought.unl.edu).

Lebih jauh, kekeringan tidak hanya melanda negara-negara tropis, namun bisa terjadi dimana saja. Menurut catatan the United States Environmental Protection Agency (EPA), pada periode 2000-2013, setidaknya terdapat sekitar 20-70% area di Amerika Serikat yang mengalami kekeringan, mulai dari tingkat kekeringan rendah sampai dengan kekeringan ekstrim. Bahkan pada 2012 tercatat sebagai bencana alam kekeringan terpanjang selama satu dasawarsa.

Disamping itu, penelitian the Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan berbagai data tentang kekeringan dibeberapa negara.

Kenya mengalami bencana kekeringan setiap tahunnya. Salah satu peristiwa paling parah terjadi di 2009. Akibat kekeringan tersebut, terjadi penurunan hasil tanaman pertanian, utamanya gandum, sebesar 45% dari panen normal.

Lebih lanjut, bencana kekeringan juga terjadi di Australia. Kekeringan terbesar terjadi pada 2002, yang mengakibatkan produksi pertanian merosot hingga lebih dari 40%.

Berikutnya, pada 2010 beberapa wilayah di Rusia mengalami kerusakan parah akibat kekeringan. Dari data yang ada, kekeringan pada waktu itu merupakan bencana terburuk sejak lebih dari tigapuluh tahun terakhir.

Secara umum akibat kekeringan dibagi menjadi dua macam, yakni akibat langsung dan akibat tidak langsung. Berikut keterangan selengkapnya.

Akibat kekeringan secara langsung antara lain:
  • mengurangi produktifitas tanaman dan hutan.
  • mengurangi persediaan air.
  • menurunkan kualitas air.
  • meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
  • memberi dampak buruk pada kualitas hewan ternak.
  • meningkatkan kematian binatang peliharaan.
  • memungkinkan munculnya penyakit pada tanaman.
  • menimbulkan erosi dan memicu bencana alam lain, misalnya banjir.

Adapun akibat kekeringan secara tidak langsung adalah:
  • menurunnya hasil pertanian dan tanaman produksi.
  • berkurangnya tingkat kesejahteraan petani.
  • memicu tingginya angka inflasi akibat defisit persediaan pangan .
(www.fao.org, Drought, FAO Land & Water)

Berbagai cara ditempuh untuk mengatasi bencana kekeringan, atau setidaknya untuk mengurangi efek buruk yang diakibatkan oleh peristiwa tersebut. Pemerintah Indonesia misalnya, dengan menyadari dampak yang harus diderita oleh para petani, menetapkan bahwa untuk setiap kegagalan panen akibat perubahan iklim seperti bencana banjir dan kekeringan, akan mendapatkan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), yang berguna untuk melindungi kehidupan petani dan meringankan beban tanggungan mereka (www.pertanian.go.id, Asuransi Usaha Tani Padi, solusi kegagalan panen, 27 Januari 2016).

Sedangkan secara internasional, sebenarnya sudah ada kerjasama untuk menghadapi bencana kekeringan, misalnya pada 1977 melalui the United Nations Conference to Combat Desertification (UNCCD). Selain itu dicanangkan pula kampanye untuk mengurangi risiko kekeringan dalam the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) (the United Nations International Strategy for Disaster Reduction (ISDR), Drought, Desertification and Water Scarcity, May 2007).

Perlu dicatat bahwa isu mengenai bencana kekeringan juga menjadi salah satu target yang hendak dicapai dalam program the Sustainable Development Goals (SGDs) tujuan ketigabelas, yakni mengambil aksi nyata untuk menanggulangi perubahan iklim beserta dampaknya.

Sebagai kata penutup, bencana kekeringan bisa muncul dibelahan dunia manapun, baik di wilayah tropis maupun sub-tropis. Disamping itu, kekeringan telah menimbulkan dampak negatif yang signifikan terhadap lingkungan dan kehidupan manusia. **
ARTIKEL TERKAIT :
Melestarikan Hutan, Merawat Peradaban
SDGs: isu perubahan iklim, sumberdaya kelautan, dan ekosistem bumi
Sustainable Development Goals: mewujudkan pembangunan yang berkesinambungan
Faktor Lingkungan dalam Perekonomian

No comments:

Post a Comment