Seputar Terbentuknya Bank Dunia (The World Bank)

Thursday, April 7, 2016

Seputar Terbentuknya Bank Dunia (The World Bank)

Selain menjadi awal terbentuknya the International Monetary Fund (IMF), pertemuan di Bretton Woods pada Juli 1944 telah menghasilkan kesepakatan untuk mendirikan instituisi yang bertugas untuk mempromosikan pembangunan ekonomi jangka panjang serta mengupayakan pengentasan kemiskinan melalui bantuan teknis dan finansial, terutama pada sektor-sektor publik, seperti pembangunan sarana pendidikan dan pusat kesehatan, penyediaan listrik dan air, penanggulangan penyakit, serta pelestarian lingkungan.

Seputar Terbentuknya Bank Dunia (The World Bank)
Berdasarkan maksud tersebut, dibentuklah institusi Bank Dunia atau the World Bank (pada awalnya bernama the International Bank for Reconstruction and Development/IBRD). Tujuan semula didirikannya Bank Dunia ini ialah untuk membangun perekonomian kawasan Eropa melalui pemberian dana investasi pada pembangunan.

Tidak jauh berbeda dari IMF, donatur terbesar dari lembaga multinasional ini adalah Amerika Serikat, Kanada, Perancis, Jerman, dan Inggris; dimana Amerika Serikat tetap menempatkan dirinya sebagai pemegang dominasi atas institusi ini.

Dalam perkembangannya, Bank Dunia mengalami beberapa kali penyesuaian organisasi. Hingga saat ini Bank Dunia memiliki lima sub-organisasi, yakni the International Bank for Reconstruction and Development (IBRD), the International Development Association (IDA), the International Finance Corporation (IFC), the Multilateral Investment Guarantee Agency (MIGA), dan the International Center for Settlement of Investment Disputes (ICSID).

Dalam melaksanakan misinya, masing-masing elemen organisasi tersebut memiliki fungsi dan tugasnya sendiri. IBRD dan IDA berfokus pada pemberian fasilitas pinjaman lunak dan pengawasan kebijakan pubik. Sedangkan IFC, MIGA, dan ICSID lebih menitikberatkan pada sektor privat, yakni dengan memberikan dana bantuan, layanan asuransi, serta jasa penyelesaian masalah di sektor privat.

Secara garis besar, misi IBRD adalah membantu negara-negara berkembang melalui pemberian pinjaman lunak untuk meningkatkan perekonomian disektor riil. Sementara institusi IDA lebih menyasar kepada negara-negara yang termasuk dalam kategori miskin (dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita), yakni dengan menyediakan pinjaman tanpa bunga.

Di lain pihak, IFC banyak berurusan dengan sektor privat. Lembaga ini memberikan bantuan berupa dana investasi serta layanan konsultasi, terutama pada sektor bisnis.

Lantas, MIGA berfungsi untuk mendorong investasi melalui foreign direct investment (FDI) kepada negara-negara berkembang dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengurangi angka kemiskinan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat; dan yang terakhir, ICSID memberikan fasilitas internasional dalam rangka penyelesaian sengketa menyangkut investasi (www.worldbank.org).

Aturan dasar yang diterapkan oleh Bank Dunia adalah setiap negara yang ingin bergabung dalam lembaga ini harus terlebih dahulu menjadi anggota IMF. Dengan kata lain, anggota Bank Dunia secara otomatis adalah anggota IMF.

Sementara dalam penentuan hak bagi setiap anggota, lembaga Bank Dunia juga mengenal kuota dan hak suara (vote); dan seperti halnya IMF, hak keanggotaan didasarkan pada skala ekonomi dan posisi neraca perdagangan negara bersangkutan, serta besarnya dana yang disetorkan pada Bank Dunia.

Lebih jauh, seperti permasalahan yang dihadapi IMF secara organisasional, Bank Dunia pun menghadapi persoalan yang serupa, yakni ketidaksetaraan dalam pemberian hak kepada masing-masing anggota. Negara-negara kecil dan negara-negara berkembang berada dalam posisi yang lebih lemah dan tidak bisa berpartisipasi aktif dalam setiap pengambilan keputusan.

Sebagai gambaran, pada saat awal berdirinya the World Bank, Amerika serikat menyumbang tidak kurang dari 35% total saham pada institusi tersebut, maka tidak mengherankan apabila negara ini memiliki hak suara yang sangat signifikan dalam pengambilan keputusan; dan sekali lagi, tidak sedikit yang berpendapat bahwa keputusan apapun yang dihasilkan oleh Bank Dunia tidak terlepas dari kepentingan Amerika Serikat (Grifith-Jones, S, Governance of the World Bank, Report Prepared for DFID, 2002).

Kritikan lain mengenai kinerja Bank Dunia terkait dengan tidak diperhitungkannya faktor lingkungan dalam pengambilan keputusan. Jika dilihat dari sejarahnya, setiap pemberian pinjaman oleh Bank Dunia memang semata-mata didasarkan pada kemampuan negara debitur dalam mengembalikan pinjaman.

Akibatnya, dari bantuan yang diterima negara debitur, ada yang digunakan untuk pembangunan tanpa disertai dengan assessment terhadap lingkungan, sehingga menimbulkan efek negatif berupa kerusakan ekosistem dan habitat kehidupan disekitarnya.

Hal ini kemudian direspon oleh Bank Dunia dengan memasukkan faktor lingkungan sebagai salah satu kriteria utama dalam penilaian kelayakan suatu negara memperoleh pinjaman. Pun demikian, hingga saat ini concern mengenai peran Bank Dunia dalam pemeliharaan kelestarian lingkungan masih menjadi sorotan para pengkritisi.

Kritikan berikutnya adalah hasil penelitian yang mengungkap bahwa bantuan pinjaman lebih banyak tertuju ke negara yang termasuk dalam kategori mampu, bukan kepada negara miskin. Hal ini terjadi karena salah satu syarat dikucurkannya dana adalah kemampuan negara debitur mengembalikan pinjaman (Meltzer, A, The Report of the International Financial Institution Advisory Commission: Comments on the Critics, 2000).

Walau demikian, dari data yang dimuat dalam situsnya, the World Bank menyatakan telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam pembangunan ekonomi di seluruh belahan dunia, termasuk di negara-negara dengan tingkat perekonomian terbelakang yang tersebar di benua Afrika. Disamping itu, laporan kinerja Bank Dunia disajikan dalam berbagai publikasi yang bisa diakses secara umum di www.worldbank.org.

Pada akhirnya, sebagai lembaga multi negara, the World Bank menghadapi banyak tantangan dalam misi'nya mempromosikan pembangunan ekonomi jangka panjang dan mengupayakan pengentasan kemiskinan. **
ARTIKEL TERKAIT :
The International Monetary Fund: misi dan kontroversi
Sejarah Perkembangan Bank Sentral Eropa (The European Central Bank)
The Federal Reserve: pilar kekuatan ekonomi Amerika
ASEAN Dalam Perekonomian Global

No comments:

Post a Comment