Ketersediaan Sumber Air Bersih (Fresh-Water Resources) sebagai Penopang Kehidupan

Thursday, June 30, 2016

Ketersediaan Sumber Air Bersih (Fresh-Water Resources) sebagai Penopang Kehidupan

Laju pertumbuhan penduduk dunia yang tidak diimbangi dengan tersedianya pasokan air untuk menunjang kehidupan akan membawa dampak serius pada kesehatan dan berpotensi meningkatkan angka kematian. Selain itu, kurang tercukupinya kebutuhan air untuk menopang produksi tanaman pangan bisa memicu bencana kelaparan. Tulisan ini hendak mengulas tentang problem ketersediaan air bersih secara global.

Ketersediaan Sumber Air Bersih (Fresh-Water Resources)
Dalam laporannya mengenai perkembangan populasi penduduk dunia, the United Nations Food and Population (UNFPA) menyatakan bahwa pada 2015 terdapat lebih dari 7.3 milliar manusia menghuni planet bumi, dengan rata-rata pertumbuhan penduduk setiap tahun sejak 2010-2015 mencapai angka 1.18%.

Salah satu konsekuensi dari laju pertumbuhan penduduk adalah meningkatnya kebutuhan air layak konsumsi. Mengingat bahwa persediaan air bersih tidak mampu mengimbangi kebutuhan penduduk dunia, maka berpotensi menimbulkan krisis ketersediaan air secara global (www.unfpa.org).

Disamping itu, the World Health Organization (WHO) dan the United Nations Children Emergency Fund (UNICEF) mengungkapkan bahwa pada 2002 terdapat sebanyak 2.6 milliar penduduk dunia menjalani hidup tanpa fasilitas sanitasi yang layak. Catatan menyebutkan pula bahwa kekurangan air layak konsumsi dan buruknya kualitas sanitasi telah menyebabkan kematian bayi sebanyak 4,500 jiwa setiap hari (WHO and UNICEF, Water For Life: Making it Happen, WHO/UNICEF Joint Monitoring Programme for Water Supply and Sanitation, 2005).

Disisi lain, the Food and Agriculture Organization (FAO) menekankan bahwa planet bumi mengandung air tak kurang dari 1,400 juta km3. Dari total air tersebut, kurang lebih hanya 0.003% atau setara dengan 45 ribu km3 yang bisa dikategorikan sebagai sumber air bersih (fresh-water resources) atau air yang bisa dimanfaatkan sebagai air minum, kepentingan agrikultur, dan keperluan industri.

Lebih lanjut, FAO memperkirakan bahwa persediaan air layak konsumsi hanya berkisar diantara 9,000-14,000 km3, padahal total kebutuhan air setiap hari per individu bisa mencapai 2,000-5,000 liter. Bisa dibayangkan berapa banyak kebutuhan air per hari untuk mencukupi total populasi penduduk dunia.

Sementara sektor agrikultur merupakan sektor terbesar yang menggunakan sumber air yang tersedia, yakni 70% di negara-negara maju dan sekitar 90% di negara-negara berkembang. Sayangnya sektor agrikultur sendiri menghadapi problem serius, yakni bencana kekeringan yang berimbas langsung pada persediaan produk pangan. Menurut sumber yang sama, wilayah Afrika merupakan area terdampak paling parah akibat tidak tersedianya air untuk menunjang produksi tanaman pangan. Tercatat hanya sekitar 4% tanaman produksi pangan yang memperoleh pasokan air irigasi (www.fao.org, Water at a Glance: The relationship between water, agriculture, food security and poverty).

Dari data dan fakta diatas, terungkap adanya dua masalah pokok terkait ketersediaan air, yaitu:
  • Jumlah persediaan air bersih (fresh water) yang sangat terbatas.
  • Distribusi air yang tidak merata di penjuru dunia.

Sementara itu the World Bank menekankan pentingnya kampanye pemeliharaan ketersediaan air untuk menunjang kehidupan jangka panjang, diantaranya dengan pemeliharaan sumber air tanah, penanggulangan polusi air, pengelolaan kebutuhan air, serta perawatan sanitasi.

Lebih lanjut, Bank Dunia memperkenalkan konsep pengelolaan sumber air yang terintegrasi (Integrated Water Resources Management/IWRM), dimana pembangunan bukan sekadar menitikberatkan pada bangunan fisik, namun juga terkoordinasi dengan pengelolaan air, tanah, serta sumberdaya lain, sehingga selain mampu mendatangkan manfaat ekonomi, sekaligus memelihara kelestarian lingkungan.

Pendekatan-pendekatan yang berbasis lingkungan tersebut menghasilkan kemajuan signifikan. Melalui studi terhadap negara-negara yang memperoleh pinjaman untuk pengelolaan masalah air selama periode 1997-2007 diperoleh beberapa temuan penting, diantaranya:

Dalam kaitan dengan pinjaman atas proyek yang berhubungan dengan sumberdaya air (water portfolio):
  • Pendekatan integratif antara pembangunan dan pemeliharaan sumberdaya air dinilai efektif.
  • Perhatian terhadap sumberdaya air mengalami perkembangan positif, ditandai dengan tingkat kepuasan yang tinggi pada lebih dari 70% proyek yang dijalankan.
  • Pinjaman Bank Dunia bervariasi mulai dari pembangunan dam (bendungan), saluran irigasi, maupun pembangkit tenaga air. Namun ada beberapa sektor yang kurang mendapatkan perhatian, yakni pengelolaan zona pantai, pengendalian pencemaran air, serta pemeliharaan air tanah.

Dalam kaitan dengan pengelolaan sumberdaya air:
  • Pengelolaan air yang efektif menjadi kunci penting untuk menanggulangi ancaman kelangkaan air bersih. Peran teknologi pengolahan dan pemanfaatan sumberdaya air sangat signifikan untuk mewujudkan efisiensi pemanfaatan air bersih.
  • Pengelolaan sumberdaya air yang terintegrasi menunjukkan perkembangan yang kurang signifikan. Hal ini terjadi karena kurangnya perhatian tentang dampak ekonomi dari pengelolaan sumberdaya air.
  • Pemanfaatan pendekatan IWMR masih belum dilakukan secara konsisten, bahkan ketika pendekatan tersebut mampu memberikan dampak positif pada satu periode waktu tertentu.
  • Jumlah proyek yang berkaitan dengan persoalan ketersediaan sumberdaya air tanah mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

Dalam keterkaitan antara sumberdaya air dengan lingkungan:
  • Perbaikan atas kerusakan lingkungan belum mendapatkan perhatian yang memadai.
  • Masih terpusatnya perhatian pada infrastruktur, tanpa memberikan porsi lebih terhadap keberlangsungan lingkungan sekitar.
  • Lingkungan sekitar pantai semestinya juga menjadi fokus perhatian, mengingat populasi penduduk yang menetap di area ini akan meningkat dimasa mendatang.
  • Meskipun pengelolaan sumberdaya air mendapatkan porsi yang relatif besar, namun tidak banyak proyek yang benar-benar memperhatikan kualitas air.
(Independent Evaluation Group, Water and Development, An Evaluation of World Bank Support, 1997-2007, IEG Study Series Volume 1, 2010).

Lebih lanjut, berdasarkan penelitian the World Health Organization (WHO), melalui investasi pada air bersih dan sanitasi akan diperoleh manfaat berupa:
  • Penghematan ongkos perawatan kesehatan akibat penyakit yang berasal dari air tidak layak konsumsi: dari sisi institusi kesehatan sebesar US$ 7 milliar, sedangkan dari sisi kesehatan masyarakat senilai US$ 340 juta per individu.
  • Peningkatan produktivitas pada anak dan remaja terkait kehadiran di sekolah, serta terpeliharanya kesehatan balita. Apabila diukur secara finansial mencapai US$ 9.9 milliar per tahun.
  • Tersedianya air layak minum dan sanitasi yang sehat akan meningkatkan produktivitas kerja setara dengan US$ 63 milliar per tahun.
  • Investasi pada air layak konsumsi dan sanitasi turut berperan dalam menurunkan angka kematian, dengan demikian mengurangi beban ekonomi senilai US$ 3.6 milliar per tahun.
(the World Health Organization, Evaluation of the Cost and Benefits of Water and Sanitation Improvements of the Global Level, 2004).

Dari uraian-uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ketersediaan sumberdaya air bersih sangat signifikan manfaatnya, baik ditinjau dari perspektif lingkungan, ekonomi, maupun keberlangsungan hidup manusia. **
ARTIKEL TERKAIT :
Mencegah dan Menanggulangi Bencana Banjir
Bilamana Bumi Meleleh: hakikat dan dampak global warming
Ketika Bencana Kekeringan Melanda
Ongkos Kebakaran Hutan dan Lahan

No comments:

Post a Comment