Selasa, 28 Juni 2016

Problem Ketahanan Pangan Global (Global Food Security)

Problem ketahanan pangan merupakan persoalan global yang berkaitan erat dengan kelangsungan hidup manusia. Tulisan ini membahas masalah-masalah yang mengemuka terkait dengan ketahanan pangan global.

Problem Ketahanan Pangan Global (Global Food Security)
Dalam the World Food Summit 1996 di Roma, Italia, dinyatakan dengan tegas bahwa ketahanan pangan adalah kondisi ketika semua orang, disetiap waktu, memiliki akses untuk memperoleh kecukupan dan keamanan pangan, serta sumber pangan bergizi untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menunjang kesehatan.

Data menunjukkan bahwa bantuan internasional melalui skema Official Development Assistance (ODA) di sektor agrikultur mengalami penurunan dari waktu ke waktu.



Tercatat pada 1979 ada sekitar 18% bantuan yang disalurkan ke sektor pertanian, namun di 2009 persentase bantuan merosot menjadi 6%.

Demikian pula investasi pemerintah di sektor pertanian rata-rata mengalami penurunan kurang-lebih 30% di negara-negara Afrika, serta 60% di kawasan Asia dan Amerika Latin.

Organisasi Pangan Dunia (FAO) mencatat pada 2011 terdapat sekitar 13.9 juta km2 lahan pertanian (arable land) yang menyokong kebutuhan pangan lebih dari 6.9 miliar manusia.

Disisi lain, masyarakat yang masuk dalam kategori miskin harus menghabiskan 50-80% penghasilan mereka untuk memenuhi kecukupan pangan.

Menurut studi the International Fund for Agricultural Development (IFAD), terdapat beberapa temuan terkait situasi pangan dunia:
  • diperkirakan sekitar 925 juta manusia mengalami kelaparan di berbagai penjuru dunia.
  • sekitar 1.4 miliar manusia memperoleh penghasilan kurang dari US$ 1.25 per hari, menempatkan mereka dalam golongan miskin.
  • populasi penduduk diyakini mencapai 9.1 miliar pada 2050.
  • produksi pangan yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat di negara berkembang pada 2050 di perkirakan mencapai dua kali lipat produksi pangan saat ini (2012).
  • tak kurang dari 40% lahan tanaman pangan mengalami degradasi, bahkan persentase tersebut bisa lebih besar lagi apabila memperhitungkan dampak buruk perubahan iklim (climate change).
(The International Fund for Agricultural Development. The Future of World Food and Nutrition Security, 2012).

Sedangkan isu-isu terkait ketahanan pangan global antara lain:
  • negara-negara yang bergantung pada impor pangan, terutama di kawasan Afrika, menjadi pihak yang terkena dampak paling besar akibat krisis pangan.
  • lonjakan harga pangan akibat terbatasnya persediaan pangan kemungkinan berlangsung dalam periode waktu yang lama.
  • kenaikan harga pangan merugikan semua pihak, baik petani sebagai produsen maupun masyarakat konsumen, terlebih yang berasal dari golongan ekonomi lemah.
  • kenaikan harga pangan dalam jangka pendek mampu mempengaruhi aspek kehidupan jangka panjang, terutama terkait kesehatan dan ketahanan tubuh individu.
  • tingginya harga pangan dalam jangka pendek berpotensi memicu krisis ekonomi.
  • diperlukan strategi tepat untuk meningkatkan produksi pangan, sekaligus kebijakan-kebijakan untuk mendukung terpeliharanya ketahanan pangan dalam jangka panjang.
  • investasi di sektor pertanian memainkan peran penting dalam mewujudkan kemandirian pangan dan pembangunan berkesinambungan.

Secara garis besar, problem ketahanan pangan muncul disisi permintaan (demand) maupun penawaran (supply), dimana:
  • terjadi kenaikan permintaan global atas produk pangan seiring pertambahan jumlah populasi penduduk.
  • terjadi penurunan ketersediaan pangan akibat berkurangnya jumlah produksi pangan, baik karena faktor alam, perubahan fungsi lahan pertanian, serta tidak memadainya investasi di sektor pertanian.

Perlu dicatat bahwa kecukupan pangan bagi setiap individu merupakan hak asasi manusia, sesuai yang tercantum dalam the International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights dan the Universal Declaration on the Eradication of Hunger and Malnutrition.

Selain itu upaya mewujudkan ketahanan pangan tercantum dalam agenda the Sustainable Development Goals (SDGs) terutama tujuan ke-2, mengatasi masalah kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan peningkatan nutrisi, serta mempromosikan sektor agrikultur yang berkesinambungan.

Untuk menjawab tantangan krisis pangan global yang mungkin memburuk di waktu-waktu mendatang, diperlukan solusi jangka pendek dan jangka panjang.

The United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) dalam penelitiannya merekomendasikan poin-poin penting, diantaranya:
  • memperkuat sistem dan mekanisme pengadaan produk pangan, baik di tingkat nasional, regional, maupun global; serta mengurangi biaya transportasi dan inefisiensi dalam proses tersebut.
  • mempromosikan aturan dan kebijakan yang mendukung sektor pangan dan pertanian.
  • memastikan ketersediaan pangan pada saat terjadi krisis.
  • membantu negara-negara berkembang dalam merumuskan strategi di sektor pangan dan pertanian, termasuk kebijakan tarif dan aturan terkait lainnya.
  • mempromosikan sistem pertanian berkelanjutan, sehingga mampu memenuhi persediaan pangan global serta membantu upaya pengentasan kemiskinan.
  • meningkatkan investasi, baik dengan skema ODA maupun bentuk lain untuk pengembangan sektor pertanian dan peningkatan teknologi pertanian.
  • menumbuhkan iklim persaingan sehat yang memungkinkan berkembangnya sektor pertanian untuk menunjang kesejahteraan masyarakat.
  • melakukan assessment terhadap faktor ekonomi dan lingkungan, terkait produktivitas tanaman pangan, serta pemberian subsidi sektor pertanian dan penunjang ketahanan pangan.
(The United Nations Conference on Trade and Development. Addressing the Global Food Crisis: Key trade, investment and commodity policies in ensuring sustainable food security and alleviating poverty, 2008).

Selain hal-hal tersebut diatas, dibutuhkan pula terobosan-terobosan berupa:
  • pengembangan varietas tanaman pangan baru yang lebih berkualitas, bernutrisi, dan tahan cuaca.
  • pemeliharaan varietas tanaman dan hewan ternak secara terpadu dan berkelanjutan, sehingga tidak cepat habis untuk konsumsi saat ini.
  • pengembangan metode baru dalam menjaga dan meningkatkan nutrisi pada produk tanaman pangan.
  • pengembangan metode produksi tanaman pangan secara efisien dan efektif, misalnya dengan memanfaatkan media air dan pengembangan konsep urban agriculture untuk mengurangi ketergantungan produksi pada lahan pertanian tradisional.

Persoalan ketahanan pangan sudah semestinya menjadi prioritas utama untuk dicarikan solusinya, karena menyangkut kelangsungan hidup manusia. **

UPDATE ARTIKEL (Selasa, 30 Oktober 2018):

Laporan menyebutkan pada 2017 terdapat sekurang-kurangnya 821 juta individu mengalami kekurangan gizi (under-nourished), atau satu diantara sembilan orang di dunia.

Catatan ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni 801 juta jiwa.

Sebagian besar kawasan Afrika menjadi wilayah terparah dengan angka kejadian yang relatif tinggi, dimana secara total terdapat sekitar 20.4% populasi di Afrika menderita kekurangan gizi.

Sementara sebagian wilayah Asia, terutama Asia Barat, Tengah, dan Selatan mencatatkan angka kekurangan gizi sekitar 11%-14% dari total populasi yang mendiami kawasan tersebut.

Selain itu terdapat sekitar 151 juta anak usia dibawah 5 tahun mengalami gangguan pertumbuhan (stunting), lebih dari 50 juta lainnya mengalami kekurangan berat badan (wasting), dan kurang-lebih 38 juta anak menderita obesitas.

Di sisi lain, orang dewasa yang mengalami obesitas tercatat lebih dari 672 juta jiwa, atau setara satu diantara delapan orang.

Problem-problem tersebut muncul akibat faktor ketersediaan pangan; dalam hal ini semakin langka ketersediaan pangan dan semakin mahal harganya, semakin buruk dampaknya bagi kehidupan individu, baik fisik maupun psikologis.

Studi menyatakan bahwa ketersediaan pangan dipengaruhi banyak hal, diantaranya perubahan iklim dan bencana alam yang membuat gagal panen, serta terjadinya konflik-konflik di wilayah tertentu yang membuat harga pangan semakin mahal dan ketersediaannya semakin terbatas (FAO, IFAD, UNICEF, WFP, and WHO. The State of Food Security and Nutrition in the World 2018: Building Climate Resilience for Food Security, 2018).

Penelitian lain mencatat sekitar 90% dari 570 juta lahan pertanian secara global dikelola oleh petani secara individu atau bersama keluarga. Adapun lahan pertanian tersebut mayoritas berada di kawasan Asia dan Sub-Sahara Afrika.

Dari jumlah tersebut, terdapat sekitar 84% lahan pertanian yang luasnya kurang dari 2 hektar. Meski demikian, lebih dari 80% persediaan pangan dunia berasal dari lahan pertanian itu.

Alhasil, hal ini menjadi tantangan bagi ketersediaan pangan dimasa-masa mendatang.

Untuk menghadapi potensi masalah yang ada, studi menekankan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai kunci utama pemenuhan ketahanan pangan global.

Dalam hal ini, ilmu pengetahuan dan teknologi harus diterapkan dari hulu hingga ke hilir, misalnya:
  • untuk pemberdayaan sumber pangan tanaman dilakukan dari sejak pemilihan bibit tanaman yang unggul, metode pemupukan dan irigasi, proses pemanenan, penyimpanan hasil panen, serta distribusi pangan siap konsumsi ke pasar.
  • untuk peningkatan sumber pangan dari peternakan dimulai dari proses pembenihan, penyediaan pakan ternak yang bergizi untuk perkembangbiakan, serta perawatan kesehatan ternak secara rutin.
(United Nations Conference on Trade and Development. The Role of Science, Technology and Innovation in Ensuring Food Security by 2030, 2017).

Demikian perkembangan kondisi ketahanan pangan global hingga saat ini. ***


ARTIKEL TERKAIT :
Mencermati Situasi Perekonomian Dunia di 2018
Memahami Teori Pertumbuhan Populasi Thomas Robert Malthus
Menakar Kebutuhan Sumberdaya Energi di Masa Depan
Perkembangan Produksi Beras Dunia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar