Mengenal Konsep Gross National Happiness (GNH) dan Happiness Index

Tuesday, June 14, 2016

Mengenal Konsep Gross National Happiness (GNH) dan Happiness Index

Dalam literatur ilmu ekonomi dikenal beberapa instrumen pengukuran kesejahteraan nasional, diantaranya pertumbuhan ekonomi (economic growth), produk domestik bruto (gross domestic product/GDP), serta pendapatan per kapita (per capita income), yang penghitungannya didasarkan pada sumberdaya modal (capital resources), output produksi, dan kekayaan finansial. Pada perkembangannya, muncul konsep-konsep baru mengenai kesejahteraan bangsa (nation's welfare) yang tidak semata-mata mendasarkan diri pada hal-hal yang bersifat materi.

Konsep Gross National Happiness (GNH) dan Happiness Index
Sebagai model alternatif terhadap GDP, konsep-konsep tersebut menawarkan penilaian dengan mempertimbangkan dimensi yang lebih luas, seperti aspek psikologis dan spiritual. Salah satu konsep yang hingga kini menjadi diskusi aktual adalah Gross National Happiness (GNH) dan Happiness Index (indeks kebahagiaan).

Sekilas, konsep tersebut terdengar absurd dan tidak realistis. Oleh karenanya tulisan ini dimaksudkan untuk menyajikan pemahaman tentang konsep dasar Gross National Happiness (GNH) dan Happiness Index.

Bagi sebagian pihak, GDP dianggap gagal menempatkan manusia sebagai aktor utama pembangunan, karena hanya berlandaskan pada faktor-faktor ekonomi dengan memperlakukan manusia tidak lebih dari sekadar faktor tenaga kerja. Salah satu kritikan keras disuarakan oleh Stiglitz, Sen, dan Fitoussi yang menyatakan bahwa konsep GDP gagal menjawab tantangan terkait kualitas hidup manusia sebagai individu dalam pembangunan dan pentingnya relasi antar individu dalam masyarakat.

Perspektif yang semata-mata berdasarkan pada faktor produksi dan kekuatan finansial pada akhirnya menggeser keutamaan hidup, contohnya ketika dunia dipenuhi oleh produk-produk iklan yang menampilkan model yang bertubuh kekar, memakai arloji mewah, serta menenteng smartphone terbaru, maka image tersebut akan melekat dalam benak banyak orang dan menjadikannya sebagai standar orang sukses.

Perumpamaan lain, misalnya saat seorang model perempuan berambut panjang terurai, berkulit kuning langsat, bertubuh ramping, berkaki jenjang, dan mengenakan busana merek tertentu, maka model seperti inilah yang dijadikan sebagai standar kecantikan. Pada akhirnya, tujuan hidup yang dikejar hanyalah penampilan fisik dan kekayaan materi.

Sementara dari tinjauan spiritualitas, penampilan bagus dan harta yang dimiliki tidak terbukti membawa kebahagiaan hidup. Studi-studi empiris juga mengungkapkan bahwa individu yang tidak memiliki banyak harta, bisa jadi hidupnya bahagia, karena mempunyai banyak sahabat atau tingkat kekerabatan yang erat. Dari sudut pandang inilah gagasan mengenai Happiness Index mengemuka.

Lantas apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dalam konteks ini dan bagaimana mengukurnya?

Pada prinsipnya disadari bahwa kebahagiaan merupakan sesuatu yang abstrak dan bersifat subjektif. Meski demikian, terdapat keyakinan bahwa hakikat kebahagiaan sebenarnya tertuang dalam agenda the Sustainable Development Goals (SDGs) walau tidak secara eksplisit, yakni terkait dengan pembangunan manusia, pembangunan lingkungan dan ekosistem kehidupan, serta kerjasama antar negara untuk mewujudkan kesejahteraan jangka panjang.

Selain itu diyakini bahwa negara yang bahagia, selain menghasilkan pendapatan tinggi, juga memiliki ikatan kuat dalam komunitas sosial, tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi kepada pemerintah, serta kemampuan membangun kehidupan bermasyarakat secara berkualitas.

Salah satu negara yang mencanangkan kebahagiaan sebagai indeks nasional ialah Bhutan. Adapun konsep indeks kebahagiaan dikemukakan pertama kali oleh Raja Bhutan, Jigme Singye Wangchuck pada era 1970’an.

Dalam pandangannya, pembangunan berkelanjutan seharusnya diwujudkan melalui pendekatan holistik, dengan memperhitungkan faktor-faktor ekonomi dan non-ekonomi. Ditambahkannya pula bahwa kebahagiaan lebih dari sekadar inspirasi, melainkan juga prinsip utama bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan publik. Secara filosofis dinyatakan bahwa jika suatu pemerintah tidak mampu menciptakan kebahagiaan bagi warganya, maka tidak ada gunanya pemerintah tersebut berdiri.

Secara konseptual, terdapat empat pilar yang menjadi pondasi indeks kebahagiaan, yakni tata kelola pemerintahan yang baik, pembangunan sosial-ekonomi yang berkesinambungan, ketahanan dan perlindungan budaya, serta ketahanan dan pemeliharaan lingkungan.

Lebih lanjut, empat pilar tersebut dijabarkan menjadi sembilan poin sasaran, yaitu kesehatan psikologis, kesehatan fisik, pendidikan, pemanfaatan waktu, ketahanan dan keanekaragaman budaya, tata kelola pemerintahan, ikatan komunitas, ketahanan ekologi, serta standar hidup. Poin-poin ini kemudian di break-down lagi menjadi 33 indikator yang digunakan sebagai dasar penilaian. Dari penilaian terhadap poin-poin tersebut ditetapkanlah besaran indeks kebahagiaan secara nasional (the Gross National Happiness Index).

Dalam GNH Index terdapat tiga tipe hasil pengukuran, yakni headcount, intensity, dan GNH total. Headcount menunjukkan persentase warga yang bahagia (tingkat kebahagiaan warga negara), intensity merupakan angka rata-rata warga yang menikmati kebahagiaan, sedangkan GNH total menunjukkan hasil akhir indeks kebahagiaan secara agregat, dimana semakin tinggi angka indeks (mendekati angka 1) menunjukkan bahwa negara tersebut semakin bahagia (Ura, K, Alkire, S, and Tshoki Zangmo, GNH and GNH Index, The Centre for Bhutan Studies, 2011)

Namun demikian perlu digarisbawahi bahwa pendekatan yang digunakan dalam penilaian GNH Index memiliki beberapa catatan, diantaranya:
  • Metodologi yang digunakan dalam GNH tidak mampu menjawab bagaimana mendistribusikan kebahagiaan kepada setiap individu, atau dengan kata lain tidak bisa menjelaskan bagaimana mencapai distribusi kebahagiaan yang seimbang.
  • Konsep kebahagiaan bukanlah suatu tujuan fisik atau yang bisa diwakili dengan angka, tahun, maupun nilai mata uang, sehingga sulit untuk menentukan target kebahagiaan.
  • Kondisi bahagia merupakan kondisi subjektif individu dan tidak mewakili komunitas masyarakat, dengan demikian tidak bisa diterapkan secara kolektif, sebab kebahagiaan seseorang tidak sama dengan kebahagiaan orang lain.

Kesimpulan, meskipun masih menjadi perdebatan, Gross National Happiness (GNH) dan Happiness Index hadir sebagai alternatif Gross Domestic Product (GDP) sebagai alat ukur keberhasilan pembangunan yang tidak semata-mata didasarkan pada output produksi dan kekayaan finansial, namun terkait pula dengan pembangunan mental-spiritual manusia. **
ARTIKEL TERKAIT :
Mempertanyakan Efektivitas Gross Domestic Product (GDP)
Memahami Konsep Kemiskinan
Hakikat Pembangunan Manusia (Human Development)
SDGs: Perdamaian, Keadilan, dan Kerjasama Global untuk Pembangunan Jangka Panjang

No comments:

Post a Comment