Upaya Memelihara Kelestarian Tanah (Land Conservation)

Thursday, July 21, 2016

Upaya Memelihara Kelestarian Tanah (Land Conservation)

Tanah merupakan salah satu unsur penting kehidupan. Ia menjadi faktor penopang hidup sekaligus tempat tumbuh dan berkembang berbagai spesies. Sayangnya, eksistensi tanah yang semakin menyusut menjadi persoalan besar bagi keberlangsungan hidup. Di wilayah perkotaan contohnya, sebagian besar tanah sudah beralih fungsi menjadi bangunan, kantor, dan jalan raya. Disamping itu, berkurangnya ruang terbuka hijau menimbulkan dampak negatif yang tidak bisa disepelekan.

Kelestarian Tanah (Land Conservation)
Sementara di daerah pedesaan, luas lahan yang sebelumnya dimanfaatkan untuk pertanian produktif juga mengalami nasib serupa. Lahan pertanian banyak yang telah berubah bentuk menjadi rumah, pabrik, gudang, dan sebagainya. Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini kita akan mempelajari sejauh mana dampak kerusakan tanah, serta upaya-upaya yang dilakukan untuk memelihara kelestarian tanah (land conservation).

Badan Pusat Statistik Indonesia menyatakan adanya penurunan produksi padi secara nasional pada 2014 dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dari sebesar 71.28 juta ton menjadi 70.83 juta ton. Diperkirakan bahwa penurunan tersebut terjadi karena berkurangnya lahan pertanian, atau dengan kata lain terjadi alih fungsi lahan pertanian hingga mencapai 41,612 hektar lahan produktif (www.cnnindonesia.com, Pemerintah Tambah Luas Sawah 700 Ribu Hektare Tahun Ini, Selasa 07 April 2015).

Sementara di China, menurut situs resmi kementerian pertanian setempat (the Ministry of Agriculture of the People’s Republic of China), total lahan pertanian di negara itu kurang lebih sebesar 130.04 juta hektar pada 2006. Namun demikian, sejak 1978 lahan pertanian tersebut mengalami penurunan rata-rata sebanyak 0.14 juta hektar setiap tahunnya (www.english.agri.gov.cn).

Sedangkan di Amerika Serikat, lahan pertanian juga menyusut setiap tahun. Data menyebutkan bahwa dari 2000-2013, lahan pertanian menurun dari sekitar 2.16 juta hektar menjadi 2.10 juta hektar, atau mengalami penurunan sebesar 0.6 juta hektar (www.statistica.com).

Lebih lanjut, the United Nations Millenium Declaration menyatakan bahwa hampir 2 milliar hektar tanah mengalami degradasi (land degradation) akibat aktivitas manusia. Setiap tahun tidak kurang dari 20 juta hektar tanah pertanian mengalami penurunan produksi tanaman agrikultur atau berubah fungsi menjadi bangunan.

Di Afrika dan Asia, terdapat sekitar 60% area yang terdampak oleh degradasi, sementara di Eropa sekitar 11%, dan di Amerika Utara tidak kurang dari 8%. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa degradasi tanah merupakan masalah global yang serius.

Degradasi tanah sendiri terjadi antara lain karena pembalakan hutan, pembakaran lahan, pengasaman pada tanah, kontaminasi zat sisa industri, dan sebagainya.

Data-data diatas menunjukkan bahwa penurunan jumlah lahan produktif, tidak saja berakibat buruk kepada fungsi tanah, namun juga membawa akibat lain, yakni menurunnya produktivitas yang dihasilkan oleh tanah.

Selain karena faktor manusia, kerusakan tanah juga terjadi akibat erosi (land erosion). Erosi tanah terjadi secara alami akibat faktor alam, seperti angin atau air (misalnya saat terjadi angin topan, banjir, gempa bumi). Ketika tanah mengalami erosi, maka akibatnya adalah:
  • menurunnya produktivitas yang dihasilkan oleh tanah, terutama menyangkut perannya dalam memberi nutrisi pada tumbuh-tumbuhan.
  • menurunnya kuantitas dan kualitas air yang tersimpan dalam tanah.
  • menurunnya kualitas tanah itu sendiri.

Untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut, maka diperlukan pemahaman akan pentingnya fungsi tanah, yaitu:
  • sebagai wadah penampung air hujan.
  • sarana mencegah bencana banjir, sarana rekreasi dan kebutuhan sosial, serta perlindungan sumber-sumber kekayaan hayati (tumbuh-tumbuhan dan hewan).
  • untuk menjaga keberlangsungan sektor pertanian dan perhutanan, sehingga tetap menghasilkan produksi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
(Arnold, A, For the Sake of Water: Land Conservation and Watershed Protection, Sustain: A Journal of Environment and Sustainability, 2006).

The Food and Agriculture Organization (FAO) menekankan pentingnya fungsi dan peran tanah bagi lingkungan hidup, serta perlunya memelihara dan mengelola tanah secara bijak.

Dalam salah satu konferensi'nya, the 39th Session of the FAO Conference pada 6-13 Juni 2015 di Roma, Italia, FAO menyepakati revisi atas kesepakatan yang tertuang dalam the World Soil Charter, yang pada hakikatnya memuat pentingnya memelihara kelestarian tanah, termasuk langkah-langkah implementasinya.

Salah satu kalimat kunci yang menjadi pondasi persetujuan tersebut menegaskan bahwa tanah merupakan unsur utama kehidupan di bumi, dan bahwa pengelolaan tanah menjadi elemen dasar bagi kelangsungan hidup dalam jangka panjang.

Selain itu terdapat prinsip-prinsip utama dalam upaya perlindungan dan pemeliharaan tanah, berikut beberapa diantaranya:
  • Tanah merupakan sumberdaya penting sebagai pusat tumbuhnya makanan bagi kehidupan. Dengan demikian, pemeliharaan sumberdaya tanah sangat krusial dalam usaha memenuhi kebutuhan pangan, air, serta sumberdaya enegi lainnya.
  • Sumberdaya tanah terbentuk dari proses yang memakan waktu lama dan berbeda di setiap ekosistemnya. Oleh karenanya, upaya pemeliharaan sumberdaya tanah harus memperhitungkan karakteristik tanah serta tipe pemanfaatannya.
  • Pengelolaan sumberdaya tanah yang berkesinambungan merupakan kunci untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam jangka panjang. Oleh karena itu menjadi sangat penting untuk menyeimbangkan antara pemanfaatan dan pemeliharaan.
  • Degradasi tanah akan mengurangi fungsi dan kemampuan tanah dalam menunjang ekosistem kehidupan; maka diperlukan pencegahan agar kerusakan tanah tidak terjadi, dan segera dilakukan rehabilitasi pada tanah yang telah mengalami kerusakan.
(www.fao.org, New World Soil Charter, June, 2015).

Berikut adalah praktik-praktik umum pemeliharaan sekaligus perlindungan tanah diberbagai wilayah:
  • Untuk lahan sawah dan ladang dilakukan metode rotasi tanaman, caranya dengan menanam jenis tumbuhan tertentu secara berurutan dalam satu tahun. Adapun tujuannya untuk mengurangi erosi tanah sekaligus memenuhi variasi kebutuhan konsumsi masyarakat.
  • Pengelolaan sisa tanaman dengan memanfaatkan bagian tanaman yang tidak dipakai (setelah panen), misalnya untuk diolah menjadi pupuk atau produk ramah lingkungan (tas, kerajinan tangan, dan sebagainya).
  • Selain melalui sistem rotasi, pada lahan persawahan bisa diterapkan sistem pengolahan secara miring (sistem terasering), terutama pada kontur tanah yang tidak rata atau berbukit-bukit. Tujuannya untuk mengurangi kemungkinan terjadinya erosi tanah.
  • Penanaman tumbuhan pelindung. Beberapa jenis tanaman memiliki akar kuat sehingga mampu melindungi tanah dan kandungan mineral didalamnya .
  • Untuk tanah/lahan hutan, diupayakan pencegahan kerusakan hutan dan lahan, termasuk kebakaran, pembakaran, serta penebangan liar (illegal logging).
  • Untuk lahan perkotaan, dilakukan dengan menyediakan ruang terbuka hijau dan tanah lapang yang berfungsi sebagai penyimpan cadangan air serta pencegahan terhadap bencana banjir dan polusi udara.

Sebagai penutup, dengan menyadari pentingnya keberadaan sumberdaya tanah sebagai unsur utama kehidupan, maka upaya memelihara kelestarian dan fungsi tanah niscaya akan mampu mencegah kerusakan tanah dalam jangka panjang. **
ARTIKEL TERKAIT :
Problem Ketahanan Pangan Global (Global Food Security)
Mencegah dan Menangani Bencana Banjir
Bilamana Bumi Meleleh: hakikat dan dampak global warming
Ongkos Kebakaran Hutan dan Lahan

No comments:

Post a Comment