Memotret Madagaskar: Kemiskinan, Malnutrisi, dan Instabilitas Politik Dalam Negeri

Tuesday, August 23, 2016

Memotret Madagaskar: Kemiskinan, Malnutrisi, dan Instabilitas Politik Dalam Negeri

Madagaskar (the Republic of Madagascar) merupakan sebuah negara kecil di kawasan Samudera Hindia (Indian Ocean), tepatnya di Semenanjung Afrika bagian selatan. Negara ini menampilkan keindahan alami sebagai sebuah pulau yang bersentuhan langsung dengan laut. Sayangnya tidak demikian dengan kondisi sosial-ekonomi masyarakatnya. Kemiskinan, tingginya angka kekurangan gizi (malnutrition), serta konstelasi politik dalam negeri menjadi contoh seriusnya problem yang dihadapi Madagaskar. Artikel ini akan mengupas kondisi domestik Madagaskar beserta isu-isu yang melingkupinya.

Memotret Madagaskar: Kemiskinan, Malnutrisi, dan Instabilitas Politik Dalam Negeri
Dari perspektif geografis, Madagaskar memiliki luas area sekitar 587 ribu km2. Sebagai sebuah negara yang berbentuk pulau, negeri ini memiliki panorama yang sangat indah dengan habitat flora dan fauna yang beraneka ragam.

Selain mempunyai wilayah pesisir nan elok, Madagaskar dikaruniai perbukitan hijau yang menjadi habitat berbagai hewan eksotis, seperti lemur (sejenis primata) dan bermacam spesies burung.

Sementara perekonomian Madagaskar banyak ditunjang dari sektor pertanian, peternakan dan perikanan, agro industri, transportasi, serta pariwisata.

Bank Dunia melaporkan bahwa pada 2015 Madagaskar mencatatkan Gross Domestic Product (GDP) lebih kurang sebesar US$ 9.98 milliar. Dengan total populasi penduduk sebanyak 24.2 juta jiwa, maka GDP per kapita Madagaskar berada dikisaran US$ 420. Angka ini menjadikan Madagaskar sebagai salah satu negara termiskin di dunia (data.worldbank.org).

Selain itu, berdasarkan penelitian the World Economic Forum yang dituangkan dalam the Global Competitiveness Index 2015-2016, Madagaskar menempati peringkat 130 dari 140 negara yang menjadi objek penelitian terkait dengan daya saing global. Adapun kriteria penilaian tersebut antara lain meliputi struktur pemerintahan, kebijakan publik, kondisi makroekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar, inovasi, serta faktor-faktor pendukung produktivitas perekonomian lainnya. Hal ini menunjukkan betapa rendahnya pencapaian Madagaskar dalam berbagai aspek, termasuk ekonomi maupun sosial (World Economic Forum, The Global Competitiveness Report 2015-2016, 2015).

Disisi lain, the International Monetary Fund (IMF) mengungkapkan bahwa sekitar 62% populasi penduduk Madagaskar berada dibawah garis kemiskinan (menggunakan asumsi serapan kalori minimal 2,100 kalori/perhari). Sementara lebih dari 90% masyarakat memperoleh penghasilan dibawah US$ 2/hari. Angka ini sekaligus menegaskan data yang disampaikan Bank Dunia diatas, yang menyatakan Madagaskar sebagai salah satu negara termiskin di dunia. Disamping itu, karena 80% penduduk miskin tinggal di wilayah perdesaan, maka kawasan rural menjadi episentrum kemiskinan negeri ini.

Lebih lanjut, laporan juga menyebutkan bahwa pengeluraan pemerintah Madagaskar untuk sektor pendidikan pada 2012 hanya sebesar 2.7% dari total GDP. Sementara angka kekurangan gizi (malnutrisi) pada balita tergolong sangat besar, yakni mencapai angka 49%. Dengan kata lain, satu dari dua balita di Madagaskar menderita kekurangan gizi (International Monetary Fund, Republic of Madagascar: Selected Issues, IMF Country Report No. 15/25, 2015).

Sementara dalam indeks pembangunan manusia (Human Development Index) yang dirilis oleh the United Nations Development Programme (UNDP) pada 2015, Madagaskar berada di peringkat 154 dari total 188 negara yang diteliti, sehingga memasukkan negeri ini dalam kategori Low Human Development. Hal ini antara lain disebabkan karena lingkungan kerja yang buruk, banyaknya tenaga kerja yang tidak terampil (unskilled labor), rendahnya tingkat pendidikan, masifnya ketidaksetaraan gender (gender inequality), serta angka korupsi yang tinggi, hingga mengakibatkan terhambatnya pembangunan sumberdaya manusia (The United Nations Development Programme, Human Development Report 2015: Work for Human Development, 2015).

Lebih jauh, pada 2013 Madagaskar berhasil mengadakan pemilihan umum setelah lebih dari empat tahun mengalami gejolak politik dalam negeri. Krisis politik tersebut mengakibatkan Madagaskar terisolasi dari dunia internasional. Namun demikian, dibawah kendali pemimpin baru, Presiden Hery Rajaonarimampianina, gejolak politik Madagaskar tidak berhenti; belum lagi persoalan ekonomi yang makin memperburuk situasi domestik Madagaskar.

Pasalnya, semenjak pemilihan umum yang menghasilkan pemerintahan baru, kondisi ekonomi Madagaskar masih jauh dari harapan. Pertumbuhan ekonomi hanya berada dikisaran 3% pada 2014, ditandai dengan minimnya investasi domestik dan kurangnya bantuan internasional, baik dalam skema kerjasama bilateral maupun multinasional. Disamping itu instabilitas politik domestik masih mengancam pembangunan ekonomi dan mengurangi minat investor asing untuk menanamkan modalnya ke negara ini.

Disisi lain, tingkat pendidikan yang relatif rendah membuat kualitas tenaga kerja yang tersedia tidak memiliki daya saing dan produktivitas tinggi untuk membangun perekonomian. Persentase terbesar tenaga kerja yang bekerja di sektor publik, swasta, serta sektor usaha non-formal, cenderung diisi oleh tenaga kerja lulusan pendidikan dasar. Bahkan disebutkan pula bahwa mayoritas masyarakat lokal belum mengerti penggunaan komputer.

Tenaga kerja kurang terampil dan berlatar belakang pendidikan relatif rendah menjadi salah satu penyebab minimnya investasi asing dalam bentuk Foreign Direct Investment (FDI) yang mau menanamkan modalnya di Madagaskar (Ravelosoa, Julia R., et.al, Country Paper for Madagascar: Labor Market, Economic Situation, and Development Policy, Swiss Programme for Research on Global Issues for Development, R4D Working Paper 2015/3, 2015).

Sebagai penutup, berbagai persoalan mulai dari tingginya angka kemiskinan, instabilitas politik dalam negeri, hingga buruknya asupan gizi masyarakat (malnutrisi) mengakibatkan Madagaskar berada diposisi terbelakang dalam pencapaian kesejahteraan masyarakat dan pembangunan sumberdaya manusia. **
ARTIKEL TERKAIT :
Venezuela: Krisis Ekonomi dan Ketergantungan pada Minyak Bumi
Ketika Sistem Perekonomian Tertutup Menjadi Pilihan: tinjauan ekonomi Korea Utara
Mencermati Krisis Ekonomi Yunani
Memahami Kasus Hiperinflasi di Perekonomian Modern

No comments:

Post a Comment