Mengenal Konsep Inflasi dalam Perekonomian

kopi

Thursday, December 8, 2016

Mengenal Konsep Inflasi dalam Perekonomian

Inflasi (inflation) menjadi salah satu pokok bahasan utama dalam kajian ekonomi. Angka yang ditunjukkan sebagai besaran inflasi sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi (economic growth) suatu negara. Dalam tulisan ini kita akan belajar tentang dasar-dasar inflasi, faktor-faktor yang menyebabkan munculnya inflasi, serta pengambilan kebijakan ekonomi untuk mengendalikan inflasi.

Inflasi dalam Perekonomian
Inflasi sering digunakan sebagai alasan dan/atau pembenaran bagi pengambil kebijakan publik atas tidak tercapainya target pertumbuhan ekonomi. Inflasi juga sering dimanfaatkan sebagai alat kampanye bagi calon pemimpin (presiden atau perdana menteri) untuk merebut suara para pemilih, dengan janji-janji untuk mengendalikannya. Bahkan konon di 1974, presiden Amerika Serikat saat itu, Gerald R. Ford, pernah menyatakan bahwa inflasi merupakan musuh nomor satu (public enemy no. 1) di Amerika Serikat.

Pertanyaannya adalah 'apa sebenarnya inflasi, kemudian bagaimana inflasi terjadi, dan mengapa diperlukan kebijakan ekonomi untuk mengendalikan inflasi?'

Konsep dasar inflasi.
Pertama-tama kita akan memahami arti inflasi. Blanchard menyatakan bahwa inflasi adalah ‘a sustained rise in the general level of prices’ (Blanchard, Olivier, Macroeconomics, 4th edition, 2006). Sementara Samuelson dan Nordhaus mengungkapkan bahwa inflasi (inflation or inflation rate) adalah ‘the percentage of annual increase in a general price level’ (Samuelson, Paul A., and William D. Nordhaus, Economics, 7th edition, 2002).

Secara umum bisa dikatakan bahwa inflasi merupakan kenaikan harga secara umum, yang terjadi dalam suatu periode tertentu. Kenaikan harga tersebut bisa dilihat dari perspektif luas, dimana kenaikan harga terjadi pada produk barang dan jasa, serta pada biaya kelayakan hidup (cost of living), atau bisa juga dilihat dari sudut pandang yang lebih sempit, misalnya kenaikan harga produk konsumsi seperti cabai, bawang, dan lain-lain.

Selain itu angka inflasi diukur dalam satuan persen (rate). Untuk mengukur inflasi, pertama-tama harus diketahui terlebih dahulu besaran indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI). Angka CPI diperoleh dengan cara menghitung biaya kelayakan hidup konsumen rumah tangga, antara lain meliputi biaya konsumsi barang dan jasa, biaya rumah termasuk sewa, dan sebagainya, dalam satu periode waktu tertentu.

Selanjutnya, angka yang diperoleh akan dibandingkan dengan angka indeks pada tahun dasar atau base year. Indeks tahun dasar ini menjadi patokan untuk setiap pengukuran angka inflasi. Perbandingan tersebut menghasilkan angka/indeks yang dinamakan Consumer Price Index (CPI). Kemudian, persentase perubahan CPI dari periode waktu tertentu itulah yang disebut dengan consumer price inflation atau bahasa sederhananya inflation/inflation rate atau tingkat inflasi. Misalnya, angka CPI di tahun dasar adalah 100, sementara tahun ini penghitungan CPI mencapai 105, maka tingkat inflasi (inflation rate) pada tahun ini adalah sebesar 5% ((105/100) - (100/100))x 100%).

Sebagai informasi, ada pula istilah Core Consumer Inflation, yang menggambarkan penghitungan biaya kelayakan hidup konsumen, namun dengan mengecualikan faktor-faktor harga produk tertentu yang sifatnya seasonal (produk yang bersifat seasonal atau musiman biasanya mengalami kenaikan harga melebihi kewajaran akibat permintaan yang meningkat, misalnya menjelang hari raya keagamaan, menjelang tutup tahun, dan sebagainya). Pengambil kebijakan publik cenderung memberikan perhatian lebih pada penghitungan Core Consumer Inflation, sebab perubahan harga yang terjadi sifatnya relatif stabil.

Lebih jauh, pengambil kebijakan ekonomi akan berusaha menjaga agar tingkat inflasi berada di kisaran angka tertentu, sebagai simbol stabilitas ekonomi dari waktu ke waktu. Disamping itu, dengan menjaga tingkat inflasi stabil di angka tertentu akan mempermudah setiap pengambilan kebijakan ekonomi. Tidak sedikit pula kajian ekonomi yang meyakini jika inflasi melebihi target yang diharapkan, maka bisa memicu inflasi lanjutan dengan tingkat yang lebih parah apabila tidak segera ditanggulangi.

Sebenarnya tidak ada patokan tertentu atas tingkat inflasi yang dianggap wajar, namun demikian ada kisaran (range) yang bisa membantu pengambil kebijakan ekonomi dalam menentukan tingkat inflasi yang ditargetkan dalam satu tahun ekonomi. Salah satu studi menyebut ketika inflasi berada diantara 0%-2.5% artinya perekonomian dalam kondisi stabil atau dalam fase price stability, sementara jika tingkat inflasi berada dikisaran 2.5%-5.0%, bisa dikatakan bahwa tingkat inflasinya moderat/sedang. Ketika inflasi mencapai angka 5%-8%, maka sudah masuk dalam kategori inflasi tinggi, sedangkan tingkat inflasi yang berada diatas angka 8% sudah memasuki fase inflasi berbahaya, dengan dampak lanjutannya berupa hiperinflasi (hyperinflation) (Hellerstein, Rebecca, The Impact of Inflation, Federal Reserve Bank of Boston, 1997).

Disisi lain, apabila inflasi berada dibawah 0% disebut sebagai negative inflation atau deflation (deflasi). Deflasi juga menjadi perhatian pengambil kebijakan ekonomi, karena bisa membawa dampak negatif bagi perekonomian. Namun demikian, pembahasan mengenai deflasi akan disajikan dalam ulasan tersendiri.

Faktor pemicu inflasi.
Ada beberapa hal yang memicu terjadinya inflasi. Salah satunya adalah dampak kebijakan moneter, misalnya penambahan jumlah uang beredar di pasar atau penurunan tingkat suku bunga acuan. Penggambarannya sebagai berikut: ketika uang beredar di pasar bertambah banyak, maka nilai uang akan merosot. Kebijakan ini sebenarnya wajar saja untuk memacu peningkatan konsumsi, namun ketika penurunan nilai uang lebih besar daripada skala ekonomi (the size of economy), maka yang terjadi justru kenaikan harga produk sebagai penyesuaian atas menurunnya nilai uang.

Keterkaitan antara jumlah uang beredar (money supply) dengan skala ekonomi (the size of economy) ini dikenal dalam konsep The Quantity Theory of Money, yang muncul pada abad ke-16, dikembangkan oleh ekonom-ekonomi aliran klasik (classical economists) seperti John Stuart Mill, David Hume, dan David Ricardo.

Namun demikian, kebijakan fiskal yang dilakukan pemerintah juga bisa menimbulkan inflasi. Misalnya ketika pemerintah meningkatkan pengeluaran/belanja (spending), hal ini memicu peningkatan permintaan (demand). Akan tetapi ketika demand melebihi supply, akan terjadi kelangkaan sumberdaya produksi (production resources) sehingga mengakibatkan kenaikan harga produk. Hal ini yang disebut sebagai demand-pull inflation.

Perubahan pada persediaan (supply) produk juga bisa menjadi pemicu timbulnya inflasi. Terjadinya supply shocks, misalnya ketika terjadi bencana alam, akan meningkatkan ongkos produksi (production costs) yang pada gilirannya akan menurunkan kuantitas persediaan produk, sehingga melambungkan harga. Dengan kata lain, inflasi terjadi karena adanya gangguan terhadap persediaan produk. Fenomena ini dikenal dengan istilah cost-push inflation.

Kebijakan untuk mengendalikan inflasi.
Mengingat faktor-faktor pemicu inflasi seperti diuraikan diatas, maka pengambil kebijakan ekonomi mesti berhati-hati dalam setiap pengambilan kebijakan fiskal, moneter, maupun dalam rangka keseimbangan demand-supply.

Apabila terjadi inflasi yang tidak diharapkan, maka kebijakan-kebijakan tertentu bisa diterapkan, misalnya bank sentral melakukan contractionary policy, yakni dengan menaikkan tingkat suku bunga acuan, sehingga bisa menekan permintaan (sebagian pelaku ekonomi akan menahan uang mereka dan tidak menggunakannya untuk konsumsi). Selain itu, bank sentral juga bisa mengambil kebijakan dengan cara memperketat aturan untuk memperoleh kredit (pinjaman). Pada umumnya, kebijakan seperti ini dalam jangka pendek bisa berdampak negatif terhadap ekonomi, misalnya pada sektor perumahan.

Ada satu ungkapan dalam upaya mengatasi inflasi, yakni ‘problem must intentionally be made worse before it gets better!’, artinya kondisi ekonomi harus dibuat menjadi ‘lebih buruk’ dalam jangka pendek, sebelum mengalami perbaikan dalam jangka panjang. Bisa disimpulkan bahwa mengelola laju inflasi agar tetap stabil merupakan langkah terbaik, sebab jika inflasi sudah tidak terkendali, maka ongkos yang harus dikeluarkan menjadi sangat mahal.

Namun jika penyebab inflasi tersebut dari faktor global, maka kebijakan ekonomi suatu negara tidak akan berpengaruh signifikan. Perlambatan ekonomi global pada 2007-2008 membuktikan, ketika terjadi kenaikan tajam pada harga minyak mentah dunia, banyak negara yang tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan hal tersebut. Lantas, kebijakan yang diambil pada umumnya berupa penambahan subsidi dan/atau pengurangan anggaran negara di sektor tertentu untuk meminimalisir dampak inflasi.

Penutup.
Dari uraian diatas, kita bisa memperoleh gambaran tentang pengertian inflasi, faktor pemicu terjadinya inflasi, serta alasan mengapa diperlukan kebijakan ekonomi untuk mengendalikan inflasi. **
ARTIKEL TERKAIT :
Kartel, Struktur Pasar Monopolistik, dan Inefisiensi Ekonomi
Memahami Makna Economic Bubbles (Gelembung Ekonomi)
Consumer Confidence Index (CCI) dan Fungsinya dalam Perekonomian
Konsep Purchasing Power Parity dan Pemanfaatannya dalam Perdagangan dan Pasar Uang

No comments:

Post a Comment