Mengenang Tragedi Minamata, ketika aktivitas perekonomian mengabaikan faktor lingkungan

Disamping pesatnya perkembangan teknologi dan industrialisasi, Jepang memiliki pengalaman pahit menyangkut dampak industrialiasasi terhadap lingkungan. Salah satu tragedi parah terkait dengan hal tersebut adalah peristiwa yang terjadi di wilayah Minamata dan sekitarnya, yang dikenal dengan istilah Minamata Disease, pada era 1950’an. Pada tulisan ini kita akan belajar tentang tragedi Minamata, sebagai gambaran dari aktivitas ekonomi yang mengabaikan lingkungan hidup.

Mengenang Tragedi Minamata, ketika aktivitas perekonomian mengabaikan faktor lingkungan
Kota Minamata berada di Perfektur Kumamoto, berbatasan dengan Perfektur Kagoshima, Pulau Kyushu, Jepang bagian selatan.

Secara geografis, daerah ini dikelilingi oleh gugusan pegunungan dan laut. Selain itu, Minamata sangat kaya akan hasil laut seperti ikan, kerang, rumput laut, dan biota laut lain.



Setelah berakhirnya Perang Dunia ke-2, Jepang mulai memasuki era industrialisasi baru, dimana terdapat banyak industri yang menggunakan bahan kimia merkuri (mercury) sebagai instrumen dalam proses produksi, utamanya untuk produk botol, cangkir dan piring, filter rokok, serta serat sintetis. Merkuri sendiri dimanfaatkan sebagai katalis untuk memproduksi acetaldehyde, yang merupakan bahan baku dalam industri plastik.

Dalam prosesnya, reaksi antara merkuri dengan zat kimia lain yang digunakan dalam produksi menghasilkan residu yang dinamakan methyl mercury (CH3Hg+) yang sangat berbahaya dan beracun. Zat inilah yang dikemudian hari diketahui mencemari perairan Minamata (Minamata Bay).

Menurut studi, methyl mercury merupakan logam yang berbentuk cair pada suhu ruang. Zat ini juga dikenal dengan sebutan quicksilver. Dinyatakan pula bahwa hampir semua unsur dalam zat ini beracun. Methyl mercury biasanya digunakan untuk bahan baku lampu penerangan, baterai, dan cat lateks. Kekuatan racun yang terkandung dalam zat ini mampu mempengaruhi kinerja otak dan sistem syaraf.

Adapun gejala-gejala keracunan methyl mercury antara lain berupa kebutaan, gerakan anggota tubuh yang tak terkoordinasi, pertumbuhan badan yang tidak sempurna, fungsi mental yang terganggu, kerusakan paru-paru, serta pengecilan ukuran kepala (www.medlineplus.gov, Methylmercury poisoning, September 10, 2015).

Lebih lanjut, wabah Minamata awalnya terdeteksi pada 1956, kemudian diikuti dengan pernyataan resmi pemerintah Jepang pada 1968 yang menyebutkan keterlibatan sebuah perusahaan yang bernama Chisso Co., Ltd. Perusahaan ini merupakan perusahaan listrik tenaga air yang mulai beroperasi pada 1908 dan kemudian mengembangkan usahanya dibidang industri kimia dan pupuk kimiawi.

Pada penyelidikan awal diketahui adanya gangguan yang diderita penduduk setempat yang terkena dampak racun, seperti rasa kebas pada tangan dan kaki (numbness), kelelahan berat, dengung di telinga, pandangan mata yang kabur, serta gerakan tubuh yang tidak normal.

Sedangkan dampak lanjutannya, para korban menjadi hilang ingatan (insane), hilang kesadaran, hingga meninggal dunia dalam beberapa waktu sejak terkena paparan racun (Minamata Disease Municipal Museum, Ten Things to Know abaut Minamata Disease, 1994).

Dari situ terungkap bahwa masyarakat yang mengalami keracunan tersebut sebelumnya mengkonsumsi ikan, kerang, dan hasil laut dari perairan Minamata Bay yang tercemar methyl mercury.

Menurut catatan, tak kurang dari 17,000 warga dari dua perfektur, Kumamoto dan Kagoshima, diperkirakan terkena dampak racun, serta lebih dari 2,200 orang yang dinyatakan positif menderita penyakit akibat paparan methyl mercury dalam tubuh mereka. Sedangkan korban yang meninggal mencapai lebih dari 1,400 orang.

Sementara dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, dari 1950’an hingga 1960’an, ditemukan juga zat berbahaya yang sejenis dengan methyl mercury di Perfektur Niigata (wilayah utara Jepang, di Pulau Honshu), tepatnya di sungai Agano akibat aktivitas perusahaan Showa Denko Co.

Penyakit yang muncul akibat paparan zat beracun tersebut mengharuskan para pasien melakukan pemeriksaan secara rutin. Mengingat efek yang dialami para penderita berlangsung hingga bertahun-tahun, maka seiring usia yang menua, mereka mesti menjalani perawatan secara lebih intensif. Bisa dikatakan bahwa para penderita tidak bisa sembuh total dari dampak negatif methyl mercury.

Selain itu muncul ketakutan diantara masyarakat setempat akan kemungkinan penularan penyakit, sehingga membuat hubungan sosial menjadi renggang. Mereka yang menjadi penderita mengalami perlakuan diskriminatif akibat ketidaktahuan tentang penyakit yang melanda wilayah tersebut. Alhasil banyak pasien yang semakin terasing dari warga lain dan membuat mereka tidak mengaku sebagai korban terdampak penyakit Minamata.

Adapun Chisso Co., Ltd diharuskan membayar kompensasi atas kerusakan lingkungan, kerugian yang dialami masyarakat, serta biaya pengobatan bagi para penderita. Lebih dari US$ 86 juta dikeluarkan sebagai biaya kompensasi kepada masyarakat, belum termasuk biaya pembersihan Minamata Bay dari kontaminasi methyl mercury.

Dibutuhkan waktu lebih dari 20 tahun hingga akhirnya permerintah menyatakan Minamata Bay bersih dari polutan beracun, tepatnya pada 29 Juli 1997 melalui sebuah deklarasi, Minamata Bay Safety Declaration, ditandai dengan pelepasan jaring yang telah dipasang sebagai alat pengaman area perairan dari partikel beracun yang kemungkinan masih ada (Minamata City Planning Division, Minamata Disease: Its History and Lessons, 2007).

Jika dirangkum dengan singkat, berikut dampak pencemaran lingkungan oleh zat methyl mercury yang menimpa kota Minamata dan sekitarnya:
  • masalah kesehatan yang dialami penderita, baik manusia maupun hewan peliharaan.
  • kerusakan lingkungan beserta ekosistem yang hidup didalamnya, terutama di perairan Minamata Bay, yang berlangsung dalam jangka panjang.
  • konflik dalam masyarakat, termasuk perlakuan diskriminatif kepada para korban, yang dilandasi rasa cemas apabila penyakit tersebut menular.

Sebagai kesimpulan, tragedi Minamata merupakan salah satu gambaran nyata ketika pembangunan perekonomian dilakukan dengan mengabaikan lingkungan hidup. **



ARTIKEL TERKAIT :
Belajar dari Pengelolaan Sampah di Jepang
Saat Pencemaran Udara Mempengaruhi Kehidupan Manusia
Upaya Memelihara Kelestarian Tanah (Land Conservation)
Masalah Ketersediaan Sumber Air Bersih (Fresh-Water Resources) sebagai Penopang Kehidupan

2 komentar:

  1. Wah terima kasih atas artikelnya

    Semoga sehat selalu :')

    BalasHapus
  2. Terima kasih kak. Izin dijadikan referensi untuk buat resume ya kak ^^

    BalasHapus