Jumat, 19 Oktober 2018

Tiga Model Pendekatan dalam Kajian Ilmu Ekonomi Makro

Pada materi terdahulu, kita telah mempelajari hakikat ilmu ekonomi serta perbedaan antara ilmu ekonomi mikro dan ilmu ekonomi makro. Kita juga sudah mengulas kajian-kajian yang terdapat dalam ilmu ekonomi mikro. Mulai materi ini dan selanjutnya, kita akan membahas pokok-pokok pikiran yang ada dalam ilmu ekonomi makro.

Pemahaman Dasar Ilmu Ekonomi Makro
Sebagai permulaan, kita akan memahami konsep dasar ilmu ekonomi makro serta pendekatan atau teori yang digunakan dalam kajiannya.

Untuk diingat kembali bahwa ilmu ekonomi makro merupakan ilmu yang mempelajari perilaku dan pengambilan keputusan pelaku ekonomi secara agregat atau keseluruhan, terkait output, pendapatan, harga, tingkat pengangguran, serta faktor lain yang bersifat agregat.




1. TIGA MODEL PENDEKATAN DALAM MEMAHAMI ILMU EKONOMI MAKRO.

Terdapat 3 model atau teori yang digunakan untuk mengkaji ilmu ekonomi makro, yakni:
  1. Pendekatan jangka pendek (the short-run theory). Model ini juga dikenal dengan istilah business-cycle theory. Kerangka pikirnya adalah bahwa fluktuasi permintaan menentukan kapasitas produksi yang tersedia untuk digunakan; dengan demikian mempengaruhi kuantitas output dan tingkat pengangguran. Dalam model ini harga cenderung tetap/konstan, sementara jumlah output relatif bervariasi. Dalam realita, model teori jangka pendek inilah yang sering digunakan dalam pengambilan kebijakan makroekonomi.
  2. Pendekatan jangka panjang (the long-run theory). Dalam pendekatan ini, unsur modal dan tingkat pemanfaatan teknologi dianggap konstan, namun tetap mempertimbangkan terjadinya shock pada teknologi.
  3. Pendekatan jangka sangat panjang (the very long-run theory). Fokus utama pendekatan ini adalah pertumbuhan ekonomi dan kapasitas produksi barang/jasa. Adapun faktor penting yang menjadi pembahasan antara lain akumulasi modal, investasi, dan perkembangan teknologi.
(catatan: terdapat literatur yang menggunakan istilah berbeda untuk pendekatan ke-2 dan ke-3 seperti tersebut diatas, yakni the medium-run theory (untuk model ke-2), dan the long-run theory (untuk model ke-3)).

Adapun penjelasan sederhana dari ketiga model tersebut adalah sebagai berikut:
  • the short-run theory/business-cycle theory digunakan untuk menjelaskan aktivitas ekonomi dari tahun ke tahun.
  • the long-run theory digunakan untuk menjawab perkembangan perekonomian dalam satu atau beberapa dekade.
  • the very long-run theory digunakan untuk melihat perekonomian pada satu atau beberapa abad.

Kita bisa menggunakan contoh sederhana sebagai berikut:
  • perekonomian Jepang di era 1900’an menitikberatkan pada sektor pertanian; namun memasuki era 2000’an, aktivitas ekonomi banyak memanfaatkan aplikasi teknologi, sehingga mengubah Jepang yang sebelumnya negara agraris menjadi negara industri maju hingga saat ini.
  • kita bisa melihat tren positif perkembangan perekonomian Jepang selama lebih dari satu abad. Namun jika dilihat dari tahun ke tahun, terdapat masa-masa dimana Jepang mengalami kemunduran ekonomi, terutama setelah mengalami kekalahan pada perang dunia ke-2 (catatan: pembahasan lengkap bisa dibaca pada artikel Mencermati Perkembangan Perekonomian Jepang).

2. SEJARAH AWAL KAJIAN ILMU EKONOMI MAKRO.

Studi menyatakan bahwa krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat pada era 1930’an (the great depression) merupakan awal munculnya pemikiran dan kajian ekonomi makro.

Pada saat itu, John Maynard Keynes (1883-1946), seorang ilmuwan dari Inggris, melakukan studi untuk menjawab berbagai persoalan yang terjadi, mulai dari penyebab terjadinya krisis hingga langkah yang perlu diambil untuk mengatasinya.

Satu diantara karya Keynes yang menjadi acuan studi ekonomi makro tertuang dalam buku The General Theory of Employment, Interest and Money (1936).

Salah satu pemikiran Keynes yang fundamental adalah jika permasalahan makro (agregat) diselesaikan dengan kebijakan mikro, maka yang dihasilkan justru inefisiensi dan kemunduran.

Analoginya demikian:
  • dalam sebuah rumah tangga yang terdiri dari ayah, ibu dan dua anak, hanya sang ayah yang bekerja untuk menghidupi keluarga.
  • suatu ketika perusahaan tempat ayah bekerja mengalami kebangkrutan, yang membuat ayah kehilangan pekerjaan.
  • untuk sementara waktu (sebelum ayah memperoleh pekerjaan baru), keluarga tersebut melakukan penghematan dalam pengeluaran, misalnya dengan mengurangi konsumsi telur dari 1 kg/minggu menjadi 0.5 kg/minggu.

Menurut Keynes, langkah yang dilakukan keluarga tersebut sudah tepat, yakni memangkas anggaran pengeluaran (spending cut) supaya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, selama ayah belum bekerja (keterangan: ini bisa dibaca sebagai perspektif ilmu ekonomi mikro).

Namun begitu, jika keputusan keluarga tersebut dilakukan secara kolektif (oleh banyak keluarga), maka yang didapatkan justru inefisiensi ekonomi.

Mengapa demikian? Karena dalam perekonomian agregat, pengeluaran bagi satu keluarga merupakan penghasilan bagi keluarga lain (Ingat! ketika keluarga tersebut mengurangi jumlah belanja telur dari 1 kg menjadi 0.5 kg, maka pendapatan yang diperoleh penjual telur akan berkurang).

Lebih lanjut Keynes menyatakan jika sektor industri tidak mau melakukan investasi dan produksi, sementara sektor rumah tangga tidak mau melakukan konsumsi, maka pemerintah yang harus memutus siklus negatif tersebut.

Adapun caranya adalah dengan menerapkan instrumen kebijakan, seperti pemangkasan tarif pajak untuk mendorong produktivitas sektor riil, sekaligus mengurangi beban yang harus ditanggung sektor rumah tangga.

Kebijakan lain misalnya dengan meningkatkan pengeluaran pemerintah (government expenditures), diantaranya melalui pembangunan infrastruktur (jalan, pelabuhan, dsb) untuk mempercepat rantai produksi dan distribusi, sehingga meningkatkan efisiensi. Hal ini akan menarik sektor industri untuk berinvestasi dan melakukan produksi.

Efisiensi tersebut pada gilirannya akan mampu menekan ongkos produksi, sehingga menghasilkan harga jual yang lebih kompetitif bagi konsumen.

Selain itu Keynes juga memasukkan konsep ketidakpastian (uncertainty) dan harapan (expectation) dalam menganalisa perilaku ekonomi, karena setiap keputusan ekonomi bergantung pada banyak faktor, termasuk dua hal tersebut.

Secara ringkas, terdapat beberapa sasaran utama dalam pengambilan kebijakan makroekonomi, yakni:
  • besarnya output ekonomi yang diukur dalam GDP.
  • peningkatan angka tenaga kerja, disertai dengan turunnya angka pengangguran.
  • tercapainya harga-harga yang stabil.

Sedangkan dalam penerapan kebijakan makroekonomi, terdapat dua instrumen yang bisa digunakan, yaitu:
  • kebijakan fiskal (fiscal policy), yakni kebijakan yang diambil pemerintah melalui beberapa instrumen seperti pajak dan anggaran pengeluaran pemerintah.
  • kebijakan moneter (monetary policy), yakni kebijakan yang ditetapkan oleh bank sentral untuk mengelola jumlah uang beredar, menentukan tingkat suku bunga, serta manajemen sistem perbankan nasional.

Demikian konsep dan pendekatan yang digunakan dalam kajian ilmu ekonomi makro. *



Referensi:
  1. Blanchard, Olivier, and David R. Johnson. (2013). Macroeconomics, 6th Edition. Pearson Education, Inc.
  2. Dornbusch, Rudiger, Stanley Fischer, and Richard Startz. (2011). Macroeconomics, 11th Edition, McGraw-Hill.
  3. Mankiw, N. Gregory. (2010). Macroeconomics, 7th Edition, Worth Publishing.
Materi sebelumnya:
Kurva Permintaan-Penawaran serta Ekuilibrium di Pasar Faktor Sumberdaya Fisik (Land) dan Modal (Capital)
Ekuilibrium di Pasar Tenaga Kerja dan Pasar Input Monopsonistik

Materi selanjutnya:
Memahami Konsep GDP, GDP Nominal-GDP Riil, dan GDP Deflator
Komposisi GDP pada Sistem Perekonomian Sederhana, Perekonomian Tertutup, dan Perekonomian Terbuka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar