coba

09 Januari 2026

Melihat Perekonomian Dunia di 2026

2025 baru saja kita lalui dengan berbagai peristiwa besar. Perang yang masih berkecamuk di beberapa wilayah, tensi geopolitik yang tinggi antar negara, serta bencana ekologis, memengaruhi kondisi perekonomian dunia sepanjang tahun.

Pada ulasan ini, kita akan melihat bagaimana perkembangan ekonomi global di 2026, yang dirangkum dari berbagai sumber.

Pertama, kita akan melihat laporan IMF terkait situasi perekonomian di 2026.

IMF memperkirakan adanya penurunan pertumbuhan ekonomi, dari 3.2% di 2025, menjadi 3.1% di 2026.

Di satu sisi, negara-negara maju akan mengalami pertumbuhan hingga 1.6%, sementara pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang (EMDE), secara umum berpotensi mencapai 4.0%.

Selain itu, inflasi global diperkirakan mengalami penurunan, sebagai akibat dari berbagai kebijakan di sektor fiskal dan moneter. Adapun proyeksi angka inflasi di 2026 secara umum berada di kisaran 3.7%, turun dari tahun sebelumnya di angka 4.2%.

Namun demikian, angka inflasi ini tidak merata di semua negara.

Laporan menyebutkan jika angka inflasi di negara-negara maju berada di kisaran 2.2%, sedangkan di negara-negara berkembang berada di level 4.7%. Kondisi ekonomi dan sosial-politik domestik menjadi aspek penting dari capaian inflasi masing-masing negara.

Selanjutnya, ketidakstabilan sektor fiskal, penurunan kinerja pasar keuangan, serta rendahnya tingkat kepercayaan pada institusi, berpotensi memperburuk perekonomian dunia.

Lebih lanjut, kekhawatiran juga masih membayangi perekonomian dunia, terkait kebijakan ekonomi yang diliputi ketidakpastian, proteksionisme dan hambatan perdagangan, serta peningkatan jumlah tenaga kerja yang masif tanpa diimbangi ketersediaan lapangan kerja.

Studi juga menyatakan jika harga minyak dunia diproyeksikan turun di kisaran US$ 60 – 70 per barrel, sebagai konsekuensi dari kebijakan produksi minyak bumi yang ditetapkan OPEC.

Sementara untuk harga komoditas non-minyak, seperti beras, gandum, dan kakao, akan mengalami kenaikan meskipun tidak signifikan.

Terkait dengan sektor moneter, IMF menengarai adanya perbedaan kebijakan yang akan diambil masing-masing bank sentral. Amerika serikat misalnya, kemungkinan masih akan menurunkan tingkat suku bunga, hingga 2.75% – 3.00%, sampai dengan 2028.

Sementara negara-negara euro dan beberapa negara Asia seperti Jepang, akan tetap mempertahankan tingkat suku bunga di level 2%.

Kemudian untuk sektor fiskal, beberapa negara maju kemungkinan akan sedikit melonggarkan kebijakan fiskal, untuk menjaga stabillitas ekonomi domestik; sedangkan negara-negara berkembang akan lebih mengetatkan kebijakan fiskal di tahun ini, dengan tujuan yang sama.

Sehubungan dengan tarif perdagangan, IMF memandang masih adanya pertentangan dari beberapa negara besar, terutama Amerika Serikat dan China.

Dalam simpulannya, IMF merekomendasikan pentingnya penentuan kebijakan ekonomi yang mampu meningkatkan kepercayaan publik, melalui keputusan yang kredibel, transparan, serta berdampak positif dalam jangka panjang (International Monetary Fund. World Economic Outlook: Global Economy in Flux, Prospects Remain Dim, October 2025).

Berikutnya, kita akan melihat laporan Bank Dunia

Dalam studinya, Bank Dunia melihat kondisi perekonomian ke depan masih menghadapi banyak kendala, mulai dari peningkatan tarif dan batasan perdagangan, kebijakan ekonomi yang tidak tepat, peningkatan eskalasi geopolitik, serta bencana lingkungan yang ekstrim.

Adapun pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan sedikit meningkat, dari 2.3% di 2025, menjadi 2.4% di 2026.

Sementara angka inflasi global akan tetap di kisaran 2.9%, tidak berbeda dengan tahun sebelumnya.

Bank Dunia juga menyoroti kondisi pasar finansial global yang masih akan mengalami pengetatan, dikarenakan volatilitas pasar yang disertai dengan besarnya risiko perdagangan, serta kebijakan ekonomi yang dibayangi ketidakpastian (The World Bank. Global Economic Prospects. June, 2025).

Dilain pihak, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 2.9%, turun dari 3.2% di 2025.

OECD menyatakan jika proyeksi tersebut masih rentan berubah, mengingat masih berkembangnya isu-isu terkait hambatan perdagangan internasional, serta kondisi fiskal yang tidak stabil, yang berpotensi memengaruhi kinerja perekonomian jangka panjang. 

Lebih jauh, OECD juga menekankan pentingnya pengambilan kebijakan di sektor fiskal (pemerintah) dan sektor moneter (bank sentral) dilaksanakan secara terbuka, hati-hati, serta berperspektif jangka panjang, untuk tetap menjaga stabilitas perekonomian dunia (OECD. OECD Economic Outlook, Volume 2025 issue 2: Resillient Growth but with increasing Fragilities, 2025).

Dari uraian diatas, bisa disimpulkan jika perekonomian dunia di 2026 masih dibayangi berbagai persoalan, baik di sektor fiskal maupun moneter. 

Studi-studi tersebut juga menekankan pentingnya pengambilan kebijakan ekonomi yang inklusif, transparan, serta berperspektif jangka panjang, untuk menjaga stabilitas perekonomian global. 


ARTIKEL TERKAIT :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar