13 Februari 2026

Tax Revenue serta Deadweight Loss di Pasar Permintaan dan Penawaran

Pada materi sebelumnya, kita telah mempelajari bagaimana intervensi pemerintah, berupa kebijakan harga dan kebijakan pajak, memengaruhi ekuilibrium pasar permintaan dan penawaran.

Kali ini kita akan melihat sejauh mana kebijakan pajak menghasilkan pendapatan (tax revenue) bagi pemerintah, serta menciptakan distorsi (deadweight loss) pada pasar permintaan dan penawaran.

www.ajarekonomi.com
Untuk lebih jelasnya, kita bisa melihat pada Gambar 1. berikut.

www.ajarekonomi.com

keterangan:

·     ekuilibrium awal ada di titik E, dengan ekuilibrium harga di P1, dan ekuilibrium kuantitas di Q1.
·     penerapan pajak mengakibatkan penurunan ekuilibrium kuantitas, dari Q1 ke Qt.
·     artinya, dengan kuantitas sebanyak Qt, penjual hanya menerima hasil sebesar V, sementara  pembeli harus membayar sebesar W.
·     adapun jarak dari V ke W sama dengan jarak dari X ke Y. Ini merupakan besaran pajak (T).

Lalu, berapa pendapatan pajak yang diterima?

Perlu dicatat, total pendapatan pajak = besaran pajak (T) dikalikan kuantitas produk yang terjual setelah penerapan pajak (Qt).

Jadi, pendapatan pajak yang diperoleh adalah sebesar area VWYX.

Selanjutnya, kita perlu mengingat kembali pemahaman terkait surplus konsumen (consumer surplus) dan surplus produsen (producer surplus) di pasar persaingan sempurna, seperti terlihat di Gambar 2.

www.ajarekonomi.com

keterangan:

·      surplus konsumen adalah area yang berwarna kuning.
·      surplus produsen adalah area yang berwarna hijau.

Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah, berapa besar surplus konsumen dan surplus produsen, setelah ada penerapan pajak?

Kita bisa melihatnya pada Gambar 3.

www.ajarekonomi.com

keterangan:

·     area biru (VWYX) merupakan pendapatan pajak.
·     setelah penerapan pajak, maka surplus konsumen dan surplus produsen berkurang, terlihat dari area kuning (surplus konsumen) dan area hijau (surplus produsen) yang semakin mengecil.
·     terbentuk segitiga EXY (area berwarna gelap) yang menunjukkan munculnya deadweight loss atau distorsi pasar.
·     jadi, deadweight loss merupakan total surplus dikurangi pendapatan pajak.
·     dengan kata lain, deadweght loss merupakan total surplus yang hilang, akibat penerapan pajak.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana pengaruh besarnya pungutan pajak terhadap deadweight loss di pasar?

Kita bisa melihatnya di Gambar 4.

www.ajarekonomi.com

keterangan:

·     Gambar 4. menunjukkan jika semakin tinggi pajak yang diterapkan (jarak X ke Y), semakin besar pula deadweight loss (area EXY).
·     artinya, semakin berkurang pula surplus konsumen dan surplus produsen.
·     selain itu, semakin tinggi tarif pajak, justru berpotensi mengurangi pendapatan pajak.

Kesimpulannya, pengambilan keputusan terkait besaran tarif pajak harus dilakukan secara hati-hati, sehingga bisa meminimalisir deadweight loss, sekaligus memperoleh pendapatan pajak yang optimal.

Berikutnya, kita akan mempelajari bagaimana elastisitas kurva permintaan dan kurva penawaran ikut berpengaruh terhadap besarnya deadweight loss yang terbentuk.

Penjelasannya bisa kita lihat pada Gambar 5. dan Gambar 6.

Gambar 5a. dan Gambar 5b. menunjukkan perbandingan deadweight loss pada kurva penawaran elastis dan kurva penawaran in-elastis, dengan besaran pajak (XY) dan kurva permintaan yang sama.

www.ajarekonomi.com
www.ajarekonomi.com

keterangan:

·     dari perbandingan Gambar 5a. dan Gambar 5b., bisa dilihat jika semakin elastis kurva penawaran, semakin besar area deadweight loss (area EXY).
·     sebaliknya, semakin in-elastis kurva penawaran, semakin besar potensi pendapatan pajak yang diperoleh.

Kemudian, Gambar 6a. dan Gambar 6b. memperlihatkan perbandingan deadweight loss pada kurva permintaan elastis dan kurva permintaan in-elastis, dengan besaran pajak (XY) dan kurva penawaran yang sama.

www.ajarekonomi.com
www.ajarekonomi.com

keterangan:

·     semakin elastis kurva permintaan, semakin besar deadweight loss (area EXY) yang terbentuk.
·     sebaliknya, semakin in-elastis kurva permintaan, semakin besar potensi pendapatan pajak yang diperoleh.

Dari contoh kasus diatas, bisa ditarik kesimpulan bahwa penerapan besaran pajak harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan mempertimbangkan banyak faktor, sehingga pendapatan pajak bisa diperoleh secara optimal, sekaligus meminimalisir deadweight loss. *

 

Referensi:

  1. Krugman, Paul, and Robin Wells. (2021). Microeconomics, 6th Edition, MacMillan Learning.
  2. Mankiw, Gregory N. (2021). Principles of Microeconomics, 9th Edition, Cengage Learning.


Materi sebelumnya:



















































































































































































































































Tidak ada komentar:

Posting Komentar