Apa Sih Quantitative Easing Itu?

Friday, October 23, 2015

Apa Sih Quantitative Easing Itu?

Beberapa bulan terakhir (sejak awal Agustus – awal Oktober 2015), nilai kurs mata uang rupiah terus merosot bila dibandingkan dengan US dollar. Kita bisa melihat data dari media ekonomi mengenai pergerakan mata uang rupiah terhadap US dollar, diantaranya sebagai berikut:
  • Pada tanggal 10 Agustus 2015, nilai tukar rupiah terhadap US dollar adalah sebesar Rp 13,551/US$, sementara kurs tengah Bank Indonesia pada hari yang sama tercatat sebesar Rp 13,536/US$.
  • Pada tanggal 01 Oktober 2015, nilai tukar rupiah terhadap US dollar senilai Rp 14,691/US$, sedangkan kurs tengah BI sebesar Rp 14,654/US$.
(data dirangkum dari nilai kurs rata-rata harian dari Bloomberg Business dan kurs tengah Bank Indonesia).

Apa Sih Quantitative Easing Itu?
Terdapat berbagai pandangan mengenai penyebab turunnya nilai mata uang rupiah terhadap US dollar. Salah satu pendapat menyatakan bahwa US dollar menguat terhadap hampir seluruh mata uang negara lain karena efek dari dihentikannya quantitative easing.

Disamping itu ada faktor lain, yakni kemungkinan akan dinaikkannya suku bunga bank oleh the US Federal Reserve (the Fed). Adapun artikel ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman dasar mengenai quantitative easing, bagaimana awalnya kebijakan ini diambil oleh bank sentral Amerika Serikat, serta dampak ekonomi yang muncul pada saat kebijakan quantitative easing diterapkan.

Pertama-tama kita akan merujuk pada sumber referensi untuk mengetahui makna quantitative easing. Menurut situs oxfordreference, quantitative easing adalah:
"A form of monetary policy that is sometimes used to stimulate the economy when interest rates have already been reduced close to zero; it is regarded as a policy of last resort when there is a serious risk of deflation. Essentially, the central bank creates new money electronically by expanding its balance sheet and uses this to buy government bonds from financial institutions. The aim is to boost the amount of money in circulation and to increase the willingness of banks to lend." (www.oxfordreference.com).

Apabila diterjemahkan secara bebas, bisa diartikan bahwa quantitative easing adalah seperangkat kebijakan moneter yang dilakukan untuk mendorong perekonomian pada saat tingkat suku bunga sudah mendekati nol persen. Ini dimaksudkan sebagai upaya pamungkas ketika menghadapi risiko deflasi.

Dalam praktiknya, bank sentral menggelontorkan uang untuk membeli obligasi pemerintah. Sedangkan tujuan aktivitas tersebut ialah untuk meningkatkan jumlah uang beredar di pasar dan mendorong bank komersial supaya bersedia memberikan pinjaman kredit/usaha.

Lebih lanjut, pada 2008, Amerika Serikat mengalami krisis ekonomi yang disebabkan antara lain oleh:
  • penurunan tingkat konsumsi dalam negeri.
  • lesunya penjualan rumah.
  • tingginya angka pengangguran.
Peristiwa tersebut membuat bank sentral/the Fed mengambil kebijakan dengan menggelontorkan US dollar ke pasar melalui pembelian obligasi pemerintah. Akibat digelontorkannya uang tersebut, maka persediaan dollar di pasar menjadi lebih banyak, sehingga mengakibatkan turunnya nilai kurs dollar terhadap mata uang negara lain.

Melemahnya mata uang dollar diharapkan bisa mendorong kegiatan ekonomi diberbagai sektor, misalnya memacu transaksi ekspor, meningkatkan konsumsi dalam negeri, serta menggenjot investasi di sektor riil.

Adapun quantitative easing atau pembelian obligasi oleh the Fed dilakukan dalam beberapa tahap, yakni:
  1. QE1, the Fed membeli obligasi senilai US$ 1.75 triliun diawal krisis.
  2. QE2, pada 2010, the Fed membeli obligasi sebesar lebih dari US$ 600 milliar.
  3. QE3, dua tahun kemudian pada 2012, the Fed kembali mengucurkan dana senilai US$ 85 milliar untuk pembelian obligasi.
Dalam realitanya, penerapan kebijakan quantitative easing itu secara bertahap mampu memulihkan kondisi perekonomian Amerika Serikat. Secara pelan tapi pasti, data-data ekonomi negara tersebut menunjukkan peningkatan positif. Adapun progres dari kebijakan quantitative easing terlihat dari data yang menunjukkan penurunan angka pangangguran, kenaikan angka penjualan rumah baru maupun bekas, peningkatan konsumsi dan investasi dalam negeri, serta beberapa indikator positif lainnya.

Kemudian, memasuki 2013 kebijakan quantitative easing mulai menuai hasil yang signifikan. Perekonomian Amerika Serikat mulai stabil, yang ditegaskan dengan rilis data ekonomi yang secara umum mengalami tren positif dari waktu ke waktu.

Hal ini lantas mendorong the Fed berencana untuk menarik kembali dollar dari pasaran, entah secara seketika atau secara bertahap mengurangi jumlah dollar yang sebelumnya membanjiri pasar. Dengan kata lain, the Fed bermaksud menghentikan kebijakan quantitave easing.

Mengenai keputusan yang akan diambil oleh the Fed dan dampak dari keputusan tersebut akan dibahas pada artikel berikutnya. **
ARTIKEL TERKAIT :
Bank Sentral dan Kebijakan Moneter
Devaluasi Yuan: mengapa menjadi sorotan?
Suku Bunga Bank Sentral: darimana dia berasal?
Apa Yang Terjadi Setelah Quantitative Easing Dihentikan?

No comments:

Post a Comment