Pertumbuhan Populasi Global beserta Permasalahannya

Tuesday, February 9, 2016

Pertumbuhan Populasi Global beserta Permasalahannya

Berkaitan dengan masalah populasi, jika sebelumnya kita mempelajari fenomena penurunan populasi yang terjadi di Jepang, maka pada kesempatan kali ini kita akan melihat tren pertumbuhan penduduk secara global, kemudian memetakan permasalahan yang ditimbulkan oleh semakin banyaknya populasi penduduk.

Pertumbuhan Populasi Global beserta Permasalahannya
Menurut data the United Nations Population Fund (UNFPA), pada 2015 terdapat total populasi penduduk sebesar 7,349 juta jiwa di dunia, dengan rata-rata pertumbuhan pertahun sejak 2010 sd 2015 sebesar 1.18% (www.unfpa.org). Dari pertumbuhan populasi tersebut, apabila di break-down menurut tingkat kemajuan suatu negara, hasilnya menunjukkan bahwa pertumbuhan populasi lebih banyak terjadi di negara berkembang (1.36%) dan negara belum berkembang (2.38%), dibandingkan dengan yang terjadi di negara maju (0.29%).

Secara umum, peningkatan jumlah populasi terjadi apabila angka kelahiran (birth rate) lebih tinggi daripada angka kematian (death rate). Selain itu, pertambahan jumlah penduduk juga disokong oleh semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, terutama dibidang medis dan kedokteran yang bisa menciptakan obat-obatan dan vaksin, yang mampu memberikan pencegahan dan pengobatan terhadap berbagai penyakit. Alhasil, selain bisa menekan angka kematian akibat penyakit, kemajuan tersebut sekaligus turut andil dalam meningkatkan angka harapan hidup (life expectancy).

Yang menarik adalah meskipun di negara berkembang dan negara belum berkembang, tingkat pertumbuhan populasi relatif tinggi, namun tingkat kematian pun tercatat lebih tinggi daripada yang terjadi di negara maju. Hal ini terjadi akibat masih rendahnya usia harapan hidup di negara-negara tersebut, terutama dipengaruhi oleh kurangnya standar kesehatan serta asupan nutrisi bergizi. Dengan alasan ini, keluarga cenderung memiliki banyak anak untuk menjaga kemungkinan ada salah satu anak yang meninggal.

Alasan lain adalah masih relatif rendahnya tingkat pendidikan di beberapa negara berkembang dan belum berkembang, sehingga marak terjadi pernikahan usia muda yang berpotensi meningkatkan jumlah populasi dengan cepat.

Sebaliknya di negara-negara maju, dimana standar dan fasilitas kesehatan relatif lebih bagus, orang tua cenderung memilih memiliki keluarga kecil, karena berkurangnya kekhawatiran apabila ada anaknya yang mengalami sakit dan meninggal.

Lebih daripada itu, ada kesadaran orang tua untuk memberikan pendidikan yang lebih tinggi kepada anak-anaknya. Ini berpotensi menunda angka pernikahan usia dini. Pada akhirnya, kesehatan dan pendidikan yang layak mampu menghasilkan generasi yang lebih terdidik, serta memiliki usia harapan hidup yang lebih tinggi.

Penelitian juga menunjukkan bahwa dinamika pertumbuhan penduduk mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, tenaga kerja, kemiskinan, serta ketersediaan sumberdaya, baik fisik (misalnya infrastruktur untuk pembangunan), alam (termasuk hasil budidaya hutan, air, dan sebagainya), serta manusia (meliputi kesehatan, pendidikan, dan keterampilan) (Cincicotta and Engelman, Economics and Rapid Change: The Influence of Population Growth, Population Action International, October, 2007).

Angka kelahiran yang tinggi dipercaya berkorelasi positif terhadap bertambahnya angka pengangguran dan kemiskinan, serta upah minimum yang diterima oleh tenaga kerja. Alasannya adalah dengan semakin banyaknya jumlah tenaga kerja yang tersedia, sementara jumlah lapangan kerja terbatas; membuat upah minimum menjadi tidak kompetitif. Selain itu, banyak tenaga kerja yang bekerja disektor non-formal dengan pendapatan yang tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar.

Kemudian, semakin banyak angka kelahiran dalam suatu keluarga juga menyebabkan semakin kecilnya kesempatan untuk berinvestasi dan menabung, sebab pendapatan yang diperoleh mesti dialokasikan untuk memenuhi lebih banyak kebutuhan. Lebih jauh, kelahiran yang tinggi pun berdampak terhadap ketersediaan sumberdaya, karena terjadi peningkatan konsumsi (pangan, air, dan sebagainya).

Bacaan lebih komprehensif tentang pertumbuhan populasi global dan permasalahan yang terkait didalamnya bisa dipelajari dalam Overcrowded World? Global Population and International Migration, by Rainer Munz, Albert F. Reiterer, and Klaus Wiegandt, 2010.

Mengingat bahwa dampak negatif pertambahan populasi begitu nyata, maka diperlukan solusi untuk mengatasi persoalan ini. Berikut adalah beberapa metode yang diterapkan untuk menekan laju populasi penduduk:
  • melalui program keluarga berencana (family planning program). Program ini selain ditujukan untuk membatasi jumlah kelahiran dalam sebuah keluarga, sekaligus menyadarkan masyarakat untuk lebih mengutamakan kualitas perkembangan anak daripada memiliki banyak anak.
  • menyediakan pendidikan hingga jenjang tinggi (akademi, universitas) dengan biaya yang terjangkau dan/atau dengan memberikan beasiswa, sehingga mampu menciptakan generasi muda yang lebih terdidik. Ini juga dalam rangka menunda terjadinya pernikahan usia dini.
  • menyediakan layanan kesehatan serta fasilitas kesehatan yang bisa diakses dimanapun, hal ini bertujuan untuk mencegah kematian pada bayi dan anak-anak, serta meningkatkan usia harapan hidup.
  • melalui peningkatan asupan gizi dan nutrisi, serta pemberian imunisasi, terutama kepada bayi dan anak-anak yang berada dalam masa pertumbuhan.
  • melalui program pemeliharaan lingkungan agar bisa memberikan manfaat positif, serta mengurangi ekploitasi lingkungan sehingga bisa terjaga kelestariannya hingga jangka panjang.

Dari uraian-uraian diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa peningkatan jumlah populasi berpotensi menimbulkan berbagai persoalan riil. **
ARTIKEL TERKAIT :
Upaya China Mengatasi Laju Pertumbuhan Penduduk
Belajar dari Penurunan Populasi di Jepang
Fenomena Urbanisasi
Menyoal Distribusi Pendapatan (Income Distribution)

No comments:

Post a Comment