Sejarah Perkembangan Tembakau

Tuesday, March 8, 2016

Sejarah Perkembangan Tembakau

Tulisan ini merupakan bagian pertama dari serangkaian tulisan dengan tema tembakau. Pada bagian pertama ini kita akan mempelajari sejarah perkembangan tembakau, sedangkan bagian selanjutnya mambahas dampak produk olahan tembakau (rokok, cerutu, dan sebagainya) pada kesehatan dan perekonomian.

Sejarah Perkembangan Tembakau
Tembakau (tobacco) atau dalam bahasa latinnya Nicotiana Tabacum, merupakan tanaman berdaun hijau yang banyak tumbuh di iklim hangat. Tanaman ini dikenali dari bentuk daunnya yang besar dan lebar, serta aromanya yang khas. Tanaman ini diberdayakan untuk dijadikan bahan dasar rokok dan produk sejenisnya (termasuk kretek, cerutu, dan sigaret). Di beberapa wilayah di dunia, tanaman ini juga dimanfaatkan dengan cara dikunyah (dihisap) di mulut.

Awal mula dikenalnya tembakau dimulai sejak berabad-abad silam. Menurut sejumlah catatan, diketahui bahwa suku Maya di Meksiko, yang hidup diantara era 600 – 900 Masehi, telah mengunakan tembakau dalam aktifitas sehari-hari. Ini dibuktikan dari lukisan pada batu-batu peninggalan suku tersebut.

Tembakau juga digunakan oleh suku asli Amerika (Native American) sebagai tujuan spiritual dan untuk kepentingan penyembuhan. Biasanya para kepala suku dan dukun adat menggunakan pipa tertentu untuk menghisap tembakau dalam ritual tersebut.

Kemudian diperkirakan bahwa pada pelayaran Christopher Columbus di era 1490’an, dia pernah ditawari tembakau kering oleh penduduk setempat (yang ia namakan Indian), dan dari situlah tembakau dibawa ke Eropa dan mulai dikenal disana.

Dalam sejarahnya kemudian, pada era 1600’an, tembakau mulai ditanam dengan tujuan komersial. Bahkan konon kabarnya presiden Amerika Serikat pertama, George Washington, juga memiliki kebun tembakau.

Di era berikutnya, sekitar 1800’an, konsumsi atas tembakau (dan produk tembakau) mulai bervariasi, yakni dengan cara dikunyah maupun dihisap dengan pipa atau dengan melinting tembakau tersebut dengan tangan (secara manual). Kemudian, nikotin (nicotine), sebagai zat berbahaya pada tembakau, ditemukan di 1826.

Selanjutnya, mesin tembakau pertama kali diperkenalkan oleh James Bonsack di 1881. Era ini menandai berkembangnya produk olahan tembakau dengan skala besar. Produksi yang dihasilkan oleh mesin Bonsak bisa menghasilkan 120 ribu produk tembakau (sigaret) setiap harinya.

Dikurun waktu sesudah itu, yakni diawal 1900’an bisnis tembakau modern mulai didirikan, diantaranya adalah The American Tobacco Company dan satu nama terkenal lainnya, yakni Philip Morris Company, dengan brand rokok Marlboro. Sampai dengan 1944, produksi rokok mencapai 300 miliar batang per tahun (Jacobs, M, From The First To The Lash Ash: The History, Economics, & Hazards of Tobacco, 2005).

Sejak saat itu sampai berpuluh tahun kemudian, rokok mulai terkenal sebagai produk konsumsi, baik dikalangan seni pertunjukan (film-film barat/western), yang turut memopulerkannya, maupun ketika pecah perang dunia, baik pertama maupun kedua.

Perkembangan berikutnya, dimulai dari kurun 1980’an hingga saat ini, produksi rokok mengalami berbagai perubahan, yakni sejak munculnya temuan medis yang menyebutkan dampak negatif rokok terhadap kesehatan, terutama akibat kandungan tar dan nikotin didalamya. Pada era ini mulai diproduksi rokok dengan kadar tar dan nikotin rendah.

Dari perspektif ekonomi, produk olahan tembakau merupakan komoditas yang menghasilkan banyak keuntungan (profit). Ini bisa dilihat dari data statistik konsumen rokok. Pada 1998 saja, produksi rokok dalam skala global berada dikisaran 5.58 triliun batang.

Berikut adalah jumlah perkiraan perokok usia 15 tahun keatas di seluruh dunia: untuk negara maju, perkiraan total ada sekitar 275 juta laki-laki dan 150 juta perempun menjadi perokok aktif. Sedangkan di negara berkembang, ada kurang lebih 700 juta laki-laki dan 100 juta perempuan. Sehingga apabila di jumlahkan, terdapat sekitar 1,225 juta perokok di dunia. Yang menjadi catatan menarik adalah di negara-negara maju, jumlah perempuan perokok jauh lebih banyak daripada perempuan yang hidup di negara-negara berkembang (Mackay and Eriksen, The Tobacco Atlas, the World Health Organization, 2002).

Seiring dengan semakin ketatnya peraturan tentang tembakau dan produk olahannya di negara maju, beberapa produsen rokok raksasa mengalihkan pemasaran produknya ke berbagai negara berkembang, mulai dari Meksiko, Brazil, kemudian menyeberang ke wilayah Eropa Timur, semenanjung Arab, serta Asia-Pasifik. Penelitian juga menyebutkan bahwa peningkatan konsumsi rokok tumbuh sangat pesat dikawasan Asia Tenggara, khususnya Malaysia, Indonesia, dan Vietnam.

Demikian perjalanan sejarah dari awal dikenalnya tembakau, hingga kini menjadi salah satu produk yang laris diseluruh wilayah dunia, dengan konsumen bervariasi, mulai anak kecil, remaja, hingga dewasa, baik perempuan maupun laki-laki. Tulisan mendatang akan membahas mengenai dampak konsumsi rokok, baik dari sudut pandang kesehatan maupun ekonomi. **
ARTIKEL TERKAIT :
Melawan Efek Destruktif Asap Rokok
Menakar Dampak Negatif Asap Rokok
Hakikat Pembangunan Manusia (Human Development)
Sustainable Development Goals: mewujudkan pembangunan yang berkesinambungan

No comments:

Post a Comment