Kamis, 10 Maret 2016

Mengetahui Dampak Negatif Asap Rokok dan Upaya Pencegahannya

Melanjutkan ulasan sebelumnya tentang sejarah perkembangan tembakau, kini kita akan mengukur dampak yang diakibatkan oleh produk tembakau, dalam hal ini rokok dengan berbagai jenisnya (sigaret, kretek, cerutu, dsb).

Menakar Dampak Negatif Asap Rokok
Penelitian menyebutkan bahwa didalam tembakau terdapat lebih dari 4,000 zat kimia berbahaya; dan salah satu yang mematikan adalah nikotin.

Faktanya, nikotin memiliki efek menenangkan serta menimbulkan ketagihan (addictive), selain itu nikotin juga mampu mempengaruhi sistem kerja syaraf otak.

Menurut laporan the World Health Organization (WHO), rokok menyebabkan kematian sekitar 6 juta jiwa setiap tahun di berbagai negara. Itupun masih ditambah denngan sekitar 600 ribu orang yang terpapar racun dari asap rokok (sebagai perokok pasif). Bahkan diperkirakan pada 2030, rokok menjadi penyebab kematian terbesar di seluruh dunia (The World Health Organization. WHO Global Report on Trends in Prevalence of Tobacco Smoking, 2015).



Bahaya yang harus ditanggung perokok pasif pun tercatat sangat memprihatinkan. Dari laporan yang sama, WHO mencatat di Amerika Serikat saja, perokok pasif yang meninggal karena kanker paru-paru sebanyak 3,400 jiwa; sementara 46,000 orang lainnya meninggal karena penyakit jantung. Asap rokok yang dihirup perokok pasif juga diperkirakan bertanggungjawab atas 430 kasus kematian mendadak.

Sementara secara global, catatan menunjukkan bahwa setiap enam detik, ada satu orang meninggal dunia akibat asap rokok. Lebih dari itu, satu dari sepuluh kematian orang dewasa diseluruh dunia diakibatkan oleh asap rokok.

Dalam kampanye melawan dampak negatif rokok, WHO secara aktif memantau tingkat konsumsi rokok di masyarakat, kemudian mengkritisi kebijakan pencegahan rokok dari setiap pemerintahan negara, lalu membantu orang-orang dalam upayanya untuk berhenti merokok, melindungi masyarakat dari bahaya rokok, serta memberikan pengetahuan akan dampak destruktif rokok.

Secara detil, poin-poin dalam kampanye memerangi dampak negatif rokok bisa dijelaskan sebagai berikut:

Memonitor konsumsi rokok dan kebijakan pencegahannya. Apabila pemantauan dilakukan dengan data yang akurat, maka akan segera diketahui efek apa saja yang ditimbulkan oleh bahaya rokok. Hal ini digunakan sebagai bahan sosialisasi kepada masyarakat, sehingga upaya pencegahan bisa menjadi lebih efektif.

Melindungi masyarakat dari efek asap rokok. Hal ini ditempuh dengan mendorong institusi pemerintah maupun swasta untuk membangun kawasan hijau (tanpa asap rokok), serta memberikan tempat khusus bagi perokok sehingga mampu mencegah dampak asap rokok bagi perokok pasif.

Menawarkan bantuan bagi mereka yang ingin berhenti merokok. Bantuan bisa dilakukan dengan menyediakan fasilitas kesehatan dan perawatan yang memadai serta tenaga konsultan profesional.

Mengingatkan bahaya rokok bagi kesehatan. Salah satu caranya melalui kampanye tentang bahaya serius yang disebabkan oleh asap rokok, sehingga meningkatkan kesadaran (awareness) masyarakat. Hal ini juga diharapkan bisa membawa efek jera, terutama untuk perokok yang masih belum berpengalaman.

Mendorong kampanye pelarangan promosi/iklan rokok, baik dalam media masa maupun dalam bentuk sponsorship.

Mendorong kenaikan pajak rokok. Yakni dengan mendorong pemerintah untuk menaikkan pajak rokok (tobacco tax) sebagai kompensasi atas kerugian yang ditimbulkan oleh asap rokok, sekaligus mengurangi sebanyak mungkin jumlah perokok aktif maupun pasif.
(The World Health Organization. The Economic And Health Benefits of Tobacco Taxation, 2015).

Kampanye yang dilakukan untuk memerangi efek negatif rokok juga selaras dengan agenda the Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada tujuan ketiga, yakni memastikan kehidupan yang sehat dan mempromosikan kesehatan untuk semua individu pada setiap tingkatan usia.

Namun demikian, salah satu kendala yang dihadapi oleh pemerintah dalam menanggulangi masalah rokok adalah besarnya kontribusi yang diperoleh dari industri rokok pada pendapatan nasional. Belum lagi angkatan kerja yang terserap pada bisnis rokok beserta industri terkait lainnya. Dengan kata lain, keputusan ini menjadi keputusan strategis yang mengandung konsekuensi, baik secara politik maupun ekonomi, yang tidak bisa dikatakan ringan.

Lebih lanjut mengenai upaya pengendalian dan pemajakan atas rokok akan disajikan pada tulisan berikutnya. **


ARTIKEL TERKAIT :
Mengenang Tragedi Minamata, ketika aktivitas perekonomian mengabaikan faktor lingkungan
Belajar dari Pengelolaan Sampah di Jepang
Kesehatan, Pendidikan, dan Kesetaraan Gender dalam Sustainable Development Goals
Peranan Sektor Kesehatan dalam Pembangunan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar