The Federal Reserve: pilar kekuatan ekonomi Amerika

Thursday, March 24, 2016

The Federal Reserve: pilar kekuatan ekonomi Amerika

Melanjutkan pembahasan mengenai kebijakan moneter, kita akan mempelajari bagaimana peran the United States Federal Reserve/the Fed (Bank Sentral Amerika Serikat) dalam sejarah perekonomian negara tersebut dari awal pendirian hingga kini. Untuk pengertian dan fungsi bank sentral bisa dibaca pada artikel lain, yakni Bank Sentral dan Kebijakan Moneter.

The Federal Reserve: pilar kekuatan ekonomi Amerika
The Fed diyakini merupakan penyokong utama kekuatan ekonomi Amerika Serikat sampai dengan saat ini. Beberapa pihak menyebutkan bahwa pimpinan tertinggi (chairman) the Fed, memiliki pengaruh terkuat di negara adidaya tersebut setelah presiden. Kekuasaannya jauh melebihi menteri-menteri, bahkan wakil presiden sekalipun.

Aturan mengenai pendirian the Fed ditetapkan pada akhir 1913 dan resmi didirikan setahun kemudian, tepatnya pada masa kepemimpinan Presiden Woodrow Wilson. Pada awalnya, tujuan yang hendak dicapai adalah untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan stabilitas keuangan negara (Johnson, R, Historical Beginnings… The Federal Reserve, 2010).

Saat awal-awal kehadirannya, the Fed hanya dianggap sebagai institusi minor yang dikelola dibawah kendali presiden dan departemen keuangan (the United States Department of the Treasury). Perlu dicatat bahwa pada masa itu (setelah selesainya perang sipil/civil war sampai dengan saat terjadinya resesi ekonomi/great depression), Amerika Serikat menggunakan standar emas sebagai acuan untuk mengukur nilai mata uangnya.

Selanjutnya pada masa perang dunia kedua, the Fed turut berfungsi dalam membantu mendanai perang, salah satunya dengan mengurangi cadangan wajib yang harus disediakan oleh bank komersial, sehingga bisa dimanfaatkan untuk biaya perang. Disamping itu the Fed juga menurunkan suku bunga pinjaman untuk kepentingan utang pemerintah (government debt).

Pada perkembangan berikutnya (setelah selesai perang), mulai muncul keinginan agar the Fed secara organisatoris dan yurisdiksi bisa independen dalam menetapkan kebijakan moneter. Setelah melalui serangkaian perdebatan, pada akhirnya terjadi kesepakatan antara the Fed dengan the US Department of Treasury yang tertuang dalam the Treasury-Federal Reserve Accord, pada 4 Maret 1951, yang meneguhkan independensi the Fed dalam menentukan kebijakan moneter, sekaligus sebagai tonggak modernisasi the Fed seperti yang kita ketahui sekarang ini.

Salah satu peran penting the Fed dalam perkembangan perekonomian Amerika Serikat adalah bagaimana institusi ini merespon krisis finansial yang terjadi pada 2008-2009.

Di tahun-tahun tersebut, krisis finansial melanda perekonomian dunia, termasuk Amerika Serikat. Sektor riil menjadi sektor terdampak paling parah, terutama ditandai dengan jatuhnya harga pada sektor properti/perumahan serta merosotnya daya beli masyarakat (purchasing power index). Disamping itu, krisis juga melanda pasar saham dengan bertumbangannya saham-saham perusahaan berbasis internet (dotcom stocks).

Melalui sebuah studi yang dimulai dari kondisi pra krisis, diketahui bahwa banyak sektor privat yang memiliki utang perusahaan yang nilainya sangat besar. The Fed menengarai adanya kegagalan bank dalam memonitor dan mengelola risiko, terlalu mengandalkan aliran dana jangka pendek, serta menggunakan modal untuk usaha-usaha yang berisiko tinggi.

Selain kesalahan di sektor privat, terdapat juga kegagalan sektor publik, ditandai dengan munculnya kesenjangan dalam struktur aturan, kegagalan dalam pengawasan terhadap peraturan, serta kegagalan dalam pengawasan terhadap stabilitas sistem keuangan.

Lebih jauh, krisis telah menyebabkan tumbangnya korporasi besar semacam Lehman Brothers yang mengalami kebangkrutan, Merrill Lynch yang diakuisisi oleh Bank of America, serta AIG yang mesti masuk ‘ruang perawatan darurat’.

Untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut, the Fed mengambil beberapa kebijakan, yakni memperbaiki kegagalan sistem finansial, menyuntikkan dana kepada institusi finansial, memberikan garansi untuk meningkatkan kepercayaan kreditur, serta menormalkan kembali pasar kredit. The Fed juga mengambil tindakan dengan menurunkan suku bunga pinjaman jangka pendek untuk memacu aktivitas perekonomian.

Kebijakan-kebijakan tersebut pada akhirnya mampu menciptakan stabilitas sistem finansial, serta ketersediaan kredit untuk perorangan maupun sektor bisnis (disarikan dari kuliah umum yang disampaikan oleh chairman the Fed, Ben Bernanke, pada George Washington University School of Business, 27 Maret 2012).

Isu penting lainnya adalah mengenai permasalahan quantitave easing (QE). Namun untuk topik ini telah dibahas dalam Apa Sih Quatitative Easing Itu? dan Apa Yang Terjadi Setelah Quantitative Easing Dihentikan?

Terakhir, isu di 2015 adalah tentang apakah the Fed akan menaikkan atau mempertahankan suku bunga. Berbagai spekulasi yang muncul membuat pasar keuangan dunia ikut tergoncang (www.reuters.com, Fed hike more problematic for global economy than before: ECB, October 15, 2015).

Akhirnya pada pertengahan Desember 2015, the Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga yang mengakibatkan penguatan mata uang US dollar. Penguatan ini segera berdampak besar, bukan hanya pada perekonomian domestik, tetapi juga pada perekonomian internasional. Disatu sisi perekonomian Amerika Serikat mengalami pertumbuhan positif, sementara disisi lain perekonomian dunia mengalami perlambatan akibat kebijakan ini (money.cnn.com, The Fed’s rate hike…in 2 minutes, December 16, 2015).

Sebagai penutup, poin-poin yang tersaji diatas menegaskan betapa kuatnya dampak kebijakan moneter yang ditetapkan the Fed pada perekonomian global. **
ARTIKEL TERKAIT :
Sejarah Perkembangan Bank Sentral Eropa (European Central Bank)
Kebijakan Moneter: tinjauan dasar
Bank Sentral dan Kebijakan Moneter
Apa Yang Terjadi Setelah Quantitative Easing Dihentikan?

No comments:

Post a Comment