Ketika Sistem Perekonomian Tertutup Menjadi Pilihan: tinjauan ekonomi Korea Utara

Tuesday, May 17, 2016

Ketika Sistem Perekonomian Tertutup Menjadi Pilihan: tinjauan ekonomi Korea Utara

Membatasi kerjasama perdagangan internasioanal, antipati terhadap investasi asing, dan terlalu curiga terhadap sistem perekonomian yang bersifat terbuka, membawa konsekuensi terasing'nya perekonomian domestik suatu negara. Artikel ini akan menguraikan kondisi salah satu negara yang menganut sistem perekonomian yang cenderung tertutup, yakni the Democratic People’s Republic of Korea atau lebih dikenal dengan istilah North Korea alias Korea Utara.

Ketika Sistem Perekonomian Tertutup Menjadi Pilihan: tinjauan ekonomi Korea Utara
Sebelumnya kita akan melihat data the World Bank mengenai negara ini. Bank Dunia mengkategorikan Korea Utara dalam kelompok low-income country (karena keterbatasan data yang dimiliki, institusi ini tidak menyebutkan besaran angka). Selain itu, populasi penduduk Korea Utara pada 2014 diperkirakan sebanyak 25.03 juta jiwa (www.data.worldbank.org).

Sementara berdasarkan laporan yang dirilis oleh the Bank of Korea/BoK (bank sentral Korea Selatan), rata-rata GDP Korea Utara periode 2010-2014 berada dikisaran 0.74%. Adapun GDP pada 2014 sebesar 1.0%, turun 0.1% dari tahun sebelumnya.

Masih menurut BoK, total populasi Korea Utara di 2014 sebanyak 24.66 juta jiwa. Di tahun yang sama, negara tersebut mencatatkan angka ekspor sebesar US$ 3.16 milliar dan impor sebanyak US$ 4.45 milliar, sehingga terjadi defisit neraca perdagangan sebanyak US$ 1.29 milliar.(The Bank of Korea, Gross Domestic Product Estimates for North Korea in 2014, Press Release, July 17, 2015).

Untuk diketahui bahwa data perekonomian Korea Utara jarang dipublikasikan, dengan kata lain data yang tersaji diatas merupakan angka perkiraan. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menghambat upaya mengetahui kondisi riil perekonomian Korea.

Perekonomian Korea Utara mulai tumbuh seusai berkecamuknya perang Korea (Korean War) pada rentang waktu 1950-1953 yang menelan korban lebih dari lima juta jiwa. Pada saat itu diyakini bahwa Korea Utara telah mampu membangun perekonomian domestik, terutama sektor industri berskala besar.

Pada era 1960’an hingga menjelang 1980’an, perekonomian Korea Utara sangat bergantung pada industri-industri berat seperti bahan kimia, logam, serta peralatan mesin (traktor, truk, generator). Diperkirakan pada dekade tersebut industrialisasi di Korea Utara jauh lebih maju daripada Korea Selatan.

Sebagai negara yang menganut sosialisme, pada masa itu Korea Utara mendapatkan banyak dukungan dari Uni Soviet dan China. Akan tetapi, tidak seperti China dan Uni Soviet (sekarang Rusia) yang dalam perkembangannya kemudian lebih condong kearah pasar ekonomi terbuka, Korea Utara tetap bertahan dengan paham yang dianut.

Perlu dicatat bahwa dengan industri-industri yang ada, Korea Utara sebenarnya memiliki pasar yang sangat potensial, namun terlalu lekatnya campur tangan pemerintah setempat ditambah tidak konsisten'nya kebijakan yang dibuat, membuat perekonomian dalam negeri secara pelan mengalami kemunduran.

Referensi berikut menyajikan pemahaman yang lebih mendalam tentang kondisi perekonomian Korea Utara, Troubled Transition: North Korea's Politics, Economy, and External Relations, by Sang-Hun Choe (ed), Gi-Wook Shin (ed), and David Straub (ed), 2013.

Lebih lanjut, semenjak memasuki era 1980’an, Korea Utara mengalami kesulitan ekonomi seiring semakin terbatasnya bahan baku produksi dan ketersediaan sumberdaya. Bisa dikatakan bahwa pada dasawarsa tersebut, perekonomian Korea Utara berada pada kondisi stagnan/mandeg.

Situasi menjadi semakin parah tatkala memasuki era 1990’an. Selain mitra utama perdagangan, yakni China dan Uni Soviet mengurangi volume perdagangan dengan Korea Utara, bencana alam melanda beberapa wilayah negara tersebut.

Bencana pertama adalah kelaparan (famine) yang mengakibatkan kematian antara 600 ribu hingga satu juta jiwa. Sebagai respon atas bencana tersebut, pemerintah Korea Utara mempromosikan slogan 'Let's eat two meals a day!', atau 'Mari menyantap makanan dua kali sehari!', dengan tujuan mengurangi total konsumsi pangan secara nasional (Noland, M, Famine and Reform in North Korea, the Institute for International Economics, 2003).

Belum selesai dengan bencana kelaparan, pada pertengahan 1995 Korea Utara mengalami bencana banjir dahsyat, yang mengakibatkan lebih dari 5 juta orang kehilangan tempat tinggal, rusaknya lahan pertanian hingga mencapai 330 ribu hektar, serta musnahnya hasil produksi gandum yang terbawa banjir sebanyak 1.9 juta ton. Kerugian total akibat bencana ini diperkirakan mencapai angka US$ 15 milliar.

Diluar persoalan ekonomi, Korea Utara juga menanggung kecaman dunia internasional atas ujicoba nuklir yang dilakukan negara tersebut. Selain itu, Korea Utara juga terkena sanksi embargo ekonomi atas kebijakannya itu (www.cnn.com, U.N. Security Council approves tough sanctions on North Korea, March 03, 2016).

Mengenai kesepakatan dalam perjanjian non-ploriferasi senjata nuklir, sampai dengan saat ini masih menjadi perdebatan dalam agenda the Six-Party Talks (www.cfr.org, The Six-Party Talks on North Korea's Nuclear Program, September 30, 2013).

Ada beberapa poin yang perlu dicatat dari kondisi perekonomian Korea Utara.
  1. Korea Utara sesungguhnya sangat kaya akan sumberdaya mineral yang bisa dimanfaatkan sebagai komoditas ekspor. Disamping itu, dibukanya peluang investasi asing melalui foreign direct investment akan memberikan dampak signifikan pada pendapatan nasional.
  2. Dalam menghadapi krisis pangan, pemerintah Korea Utara memaksimalkan lahan dengan cara penanaman secara terus-menerus, akibatnya lahan-lahan yang ada cenderung mengalami degradasi/penurunan tingkat kesuburan.
  3. Korea Utara sangat membatasi diri dalam perdagangan internasional. Tercatat hanya China, Rusia, dan Jepang, yang menjadi mitra utama. Terlebih pada perkembangannya, China dan Rusia telah meninggalkan rezim ekonomi tertutup dan mulai mengadopsi sistem perekonomian modern.
  4. Keengganan pemerintah Korea Utara menaati perjanjian non-ploriferasi senjata nuklir mengakibatkan negara ini semakin terisolasi dari dunia modern.
Akhir kata, seperti yang telah ditunjukkan oleh Korea Utara, sistem perekonomian tertutup hanya membawa suatu negara kedalam kemandekan, sementara peran pemerintah yang terlalu dominan akan semakin memperburuk kondisi perekonomian. **
ARTIKEL TERKAIT :
Mencermati Krisis Ekonomi Yunani
Memahami Kasus Hiperinflasi di Perekonomian Modern
Perekonomian Korea Selatan: antara data dan realita
Mencermati Perkembangan Kekuatan Ekonomi China

No comments:

Post a Comment