Venezuela: Krisis Ekonomi dan Ketergantungan pada Minyak Bumi

Saturday, June 25, 2016

Venezuela: Krisis Ekonomi dan Ketergantungan pada Minyak Bumi

Beberapa waktu terakhir, Venezuela (the Bolivarian Republic of Venezuela) menjadi perhatian dunia internasional akibat situasi domestik yang bergejolak. Negara dengan kekayaan minyak bumi yang melimpah tersebut mengalami resesi ekonomi yang tak kunjung usai. Masalah politik dan ekonomi dalam negeri telah menjerumuskan negara yang menjadi langganan juara kontes kecantikan internasional (international beauty pageants) dalam krisis berkepanjangan. Tulisan ini akan menyoroti kondisi perekonomian Venezuela dan faktor-faktor yang memicu krisis.

Venezuela: Krisis Ekonomi dan Ketergantungan pada Minyak Bumi
Terletak di kawasan Amerika Selatan dengan luas area mencapai 912,050 km2, Venezuela memiliki sumber minyak bumi dan gas alam yang sangat berlimpah.

Besarnya cadangan minyak bumi menempatkan Venezuela menjadi salah satu anggota negara pengekspor minyak (the Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC). Kekayaan itu pula yang membuat Venezuela masuk dalam kategori negara berpendapatan tinggi (high-income country).

Menurut data yang termuat dalam the United Nations Statistical Division, Venezuela memiliki populasi penduduk sebanyak 30.8 juta jiwa pada 2013. Di tahun tersebut, Venezuela mencatatkan Gross Domestic Product (GDP) sebesar US$ 371.34 milliar (data.un.org).

Melimpahnya persediaan minyak bumi (oil bonanza) membuat negara ini menikmati keuntungan besar dari hasil penjualan minyak mentah di pasar global. Era kejayaan tersebut dirasakan Venezuela sejak periode 1970’an hingga pertengahan 2008.

Lebih lanjut, sejak jatuhnya pemerintahan lama dan digantikan oleh rezim baru dibawah kepemimpinan Presiden Hugo Chavez mulai akhir 1998, kekayaan minyak bumi dan gas alam digunakan sebagai instrumen utama dalam menjaga stabilitas politik dan ekonomi nasional.

Delapan tahun pertama kepemimpinan Presiden Hugo Chavez, yakni antara 1998-2006, mencatatkan pembangunan sosial-ekonomi domestik yang signifikan, ditandai dengan beberapa indikator ekonomi seperti tersebut dibawah ini:
  • Hasil ekspor minyak mentah Venezuela berkontribusi hingga 50% dari total Gross Domestic Product (GDP), bahkan besaran GDP pernah meningkat sampai dengan 95% pada periode tersebut.
  • Penurunan angka kemiskinan yang cukup signifikan, dimana total angka kemiskinan menurun dari 49% menjadi 33.1%, dengan kemiskinan ekstrim menyusut dari 25.5% menjadi 10.2%.
  • Di sektor kesehatan terjadi penurunan angka kematian bayi dari 12.5 kematian/1,000 kelahiran di 1998 menjadi 10 kematian/1,000 kelahiran pada 2006.
  • Bidang pendidikan mencapai kenaikan tingkat melek huruf (literacy) hingga 95%, atau setara dengan 1.1 juta penduduk.
  • Tingkat pengangguran menurun dari 13.9% menjadi 10% dari total populasi penduduk.
(Schall-Emden, J, Venezuela, Oil Economies and Social Welfare, Centre Studi di Politica Internazionale, March, 2009).

Namun demikian, sejak pertengahan 2008 terjadi krisis ekonomi global yang melanda hampir seluruh negara di dunia, tak terkecuali Venezuela. Setelah menikmati masa keemasan dan stabilitas politik-ekonomi, negeri ini terguncang hebat akibat merosotnya harga minyak mentah dunia dan melemahnya laju perekonomian global. Bisa dikatakan bahwa mulai pertengahan 2008, Venezuela memasuki halaman pertama resesi ekonomi.

Sebagai catatan, pada periode tersebut harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 50%, yang semula berkisar di angka US$ 130/barrel merosot hingga menjadi US$ 64/barrel, bahkan di tahun 2015 harga minyak mentah dunia pernah menyentuh level terendah di kisaran US$ 28/barrel.

Anjloknya harga minyak mentah dunia menyingkap fakta bahwa fundamental ekonomi Venezuela ternyata sangat rapuh.

Beberapa data ekonomi mengindikasikan buruknya situasi perekonomian domestik Venezuela, antara lain:
  • proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2010 menukik hingga minus 6.2% dan sedikit membaik menjadi minus 1.2 % pada 2011.
  • peningkatan angka pengangguran hingga lebih dari 60%.
  • jatuhnya nilai mata uang Bolivar sehingga menurunkan daya beli masyarakat.
  • kenaikan inflasi dari Januari-September 2013 mencapai 38.7%.
  • terjadi kelangkaan bahan pangan.
  • survei publik yang mengungkapkan bahwa lebih dari 72% penduduk Venezuela memberikan persepsi negatif terhadap situasi domestik Venezuela.
(Serbin, A, Venezuela in Crisis: Economic and Political Conflict Drivers in the Post-Chavez Era, GPPAC, March, 2014).

Sementara laporan lain menyatakan bahwa pada 2015, inflasi negara tersebut pernah mencapai 180%, salah satu angka inflasi tertinggi yang pernah ada. Di tahun yang sama terjadi kontraksi ekonomi hingga 5.7% dan defisit anggaran belanja sebesar 60%.

Masalah lain yang membelit negara ini adalah tingginya angka korupsi. Menurut laporan Transparency International, indeks korupsi Venezuela pada 2015 berada di angka 17, menempatkannya di peringkat 158 dari 167 negara (Transparency International, Corruption Perceptions Index 2015).

Selain korupsi, tindak kejahatan yang masif terjadi di Venezuela adalah penyelundupan dan perdagangan narkotika.

Disamping masalah ekonomi, Venezuela juga mengalami konflik politik dalam negeri yang berkepanjangan, terutama sepeninggal Presiden Hugo Chavez (2013) yang kemudian digantikan penerusnya, Nicolas Maduro.

Dari sudut pandang ekonomi, terdapat setidaknya dua faktor elementer yang memicu terjadinya krisis di Venezuela, yaitu:
  1. ketergantungan yang tinggi pada produksi minyak bumi, sehingga ketika harga minyak mentah di pasar internasional anjlok, perekonomian domestik Venezuela pun terkena imbasnya.
  2. lingkungan usaha yang tidak kompetitif karena maraknya korupsi serta fundamental ekonomi yang tidak mendukung iklim investasi.
Kesimpulan, diluar konflik politik, ketergantungan pada minyak bumi membuat Venezuela terlena, sehingga ketika harga minyak mentah dunia jatuh, Venezuela pun terjerembab dalam krisis ekonomi. **
ARTIKEL TERKAIT :
Memotret Madagaskar: Kemiskinan, Malnutrisi, dan Instabilitas Politik Dalam Negeri
Meneropong Denmark, Negara Kaya yang Miskin Korupsi
Ketika Sistem Perekonomian Tertutup Menjadi Pilihan: tinjauan ekonomi Korea Utara
Mencermati Krisis Ekonomi Yunani

No comments:

Post a Comment