Perkembangan Teknologi dan Industrialisasi di Jepang

Thursday, September 8, 2016

Perkembangan Teknologi dan Industrialisasi di Jepang

Jepang memiliki sejarah panjang dalam pengembangan teknologi dan industrialisasi yang membawa pengaruh signifikan pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan negara tersebut. Perpaduan antara riset (R&D) dan penerapan teknologi mampu mengubah negara yang sebelumnya hancur karena kekalahan di perang dunia kedua, menjadi salah satu negara maju dengan pendapatan tertinggi di dunia (high-income country). Artikel ini akan mengupas tentang industrialisasi dan perkembangan teknologi di negara Jepang.

Industrialisasi dan Perkembangan Teknologi di Jepang
Dengan luas area sekitar 377.9 kilometer2 dan jumlah populasi penduduk sebanyak 126.32 juta pada 2016, Jepang (Nippon-koku/the State of Japan) merupakan salah satu negara dengan pendapatan tertinggi menurut the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), yakni dengan menghasilkan Gross Domestic Product (GDP) kurang-lebih sebesar US$ 4.11 triliun pada 2015, dan GDP per kapita tak kurang dari US$ 32.5 ribu.

Berbicara mengenai teknologi, faktor ini diyakini menjadi elemen penting dalam era globalisasi dan peningkatan daya saing. Teknologi juga dipercaya memiliki peran utama dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Hal ini didukung oleh studi yang dilakukan oleh Robert M. Solow. Dalam penelitiannya terkait data ekonomi Amerika Serikat 1909-1949, Solow berusaha menemukan faktor apa saja yang berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi selama periode tersebut. Kerangka berpikir yang digunakan adalah bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh akumulasi modal (capital), tenaga kerja (labor), serta adanya perkembangan teknologi (catatan: Solow menggunakan istilah ‘technical change’).

Selanjutnya, faktor-faktor tersebut diukur untuk menentukan mana yang lebih dominan dalam mempengaruhi output pertumbuhan ekonomi.

Temuan yang dihasilkan menggambarkan bahwa 87.5% output pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh adanya perubahan teknologi (technical change), dan hanya 12.5% yang dikarenakan adanya peningkatan modal (capital accumulation) dan jumlah tenaga kerja.

Dari studi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengembangan teknologi menjadi kunci bagi pembangunan ekonomi jangka panjang (Solow, Robert M., Technical Change and the Aggregate Production Function, The Review of Economics and Statistcs, Vol. 39, No. 3, pp.312-320, 1957).

Dalam konteks Jepang, awal perkembangan teknologi dan industrialisasi di negara ini dimulai sejak adanya Restorasi Meiji (Meiji Restoration) pada era 1868-1912. Era Meiji juga dikenal sebagai awal modernisasi Jepang. Era ini menjadi tonggak transformasi Jepang dari negara feodal menuju negara industri.

Adapun tujuan-tujuan pemerintahan Meiji antara lain sebagai berikut:
  • Industrialisasi atau modernisasi perekonomian.
  • Modernisasi sistem politik.
  • Modernisasi militer.
(Sumikawa, Shunsuke, The Meiji Restoration: Roots of Modern Japan, 1999).

Disamping itu, Jepang juga mengadopsi berbagai kebudayaan barat, baik dalam hal busana (fashion), menu makanan, hiburan, serta tarian/dansa.

Meski demikian, modernisasi militer menjadi titik sentral dari transformasi tersebut. Hal ini antara lain terwujud melalui kemenangan militer Jepang atas Rusia (1904-1905), yang membuktikan betapa teknologi militer yang diterapkan Jepang pada saat itu mampu menjadikannya sebagai salah satu negara terkuat di dunia.

Namun situasi berbalik tatkala Jepang mengalami kekalahan pada perang dunia kedua/world war II (1939-1945). Selain hancurnya kota Hiroshima dan Nagasaki akibat bom yang dijatuhkan oleh tentara sekutu, kekalahan ini membawa dampak besar bagi kondisi perekonomian domestik Jepang, antara lain ditandai dengan:
  • Lebih dari 2 juta jiwa tewas dan tak kurang dari 13 juta orang kehilangan pekerjaan.
  • Kekayaaan negara yang hilang mencapai 25%.
  • Produksi sektor industri jatuh hingga tinggal 10% dari keadaan sebelum perang.
  • Harga komoditas pangan yang meroket dan tingkat persediaan yang rendah, sehingga memicu hiperinflasi.

Untuk memperbaiki perekonomian yang porak-poranda, maka sejak 1948, Jepang mulai mengembangkan industri-industri berskala besar, seperti industri kapal dan transportasi laut, kelistrikan, jalan kereta api, hingga industri kimia.

Disamping itu Jepang melakukan reformasi agraria, reformasi pasar perdagangan, regulasi pasar tenaga kerja, serta perbaikan taraf pendidikan. Mulai dari era ini, teknologi yang semula menitikberatkan pada bidang militer mengalami perubahan (shifting), dengan lebih berfokus pada pembangunan perekonomian dan perindustrian.

Setelah menggenjot industri-industri berskala besar, maka hal berikutnya yang dilakukan oleh pemerintah Jepang adalah peningkatan daya saing (competitiveness). Peningkatan ini antara lain dijalankan melalui perampingan/rasionalisasi produksi, penerapan teknologi terbaru, serta kebijakan-kebijakan yang mendukung pengembangan lingkungan usaha.

Selanjutnya, pada pertengahan 1950’an hingga 1970’an, Jepang memasuki babak baru industrialisasi yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat pesat, kapasitas produksi yang semakin banyak, serta national income dan konsumsi domestik yang terus menanjak, sehingga menghasilkan pertumbuhan ekonomi rata-rata hingga diatas 9% setiap tahunnya.

Industrialisasi yang begitu cepat terutama ditunjang oleh pengembangan teknologi yang tepat sasaran, penerapan scientific method, serta quality control yang ketat. Faktor lain yang memperkuat industrialisasi Jepang adalah kontribusi sektor perdagangan ekspor dan pasar ekonomi domestik yang kompetitif.

Salah satu capaian yang mengesankan adalah keberhasilan Jepang menerapkan teknologi kereta cepat (bullet train atau shinkansen) pada 1964, yang menghubungkan Tokyo dengan Osaka. Keberhasilan lain adalah adanya jalan raya bebas hambatan (super highway) yang menghubungkan kota Komaki (tidak jauh dari Nagoya) dengan Nishinomiya (dekat kota Kobe), yang disertai dengan peningkatan alat transportasi darat, seperti bus dan mobil. Dari titik ini juga yang kemudian menjadi awal kemajuan Jepang dibidang industri otomotif.

Selanjutnya, periode 1970’an-1990’an diawali dengan adanya stagnasi perekonomian dalam negeri, yang mengakibatkan melambatnya laju industri dan manufaktur. Atas hal ini, pemerintah Jepang mengambil kebijakan-kebijakan ekonomi, seperti pemberian stimulus fiskal (fiscal stimulus) dan penurunan tingkat suku bunga, untuk menggenjot kembali sektor rill dan konsumsi dalam negeri.

Selain itu pemerintah Jepang juga berupaya untuk menurunkan biaya usaha yang tinggi, meningkatkan efisiensi produksi, meningkatkan investasi pada infrastruktur, menerapkan standar produksi, serta menyediakan dana penelitian dan pelatihan bagi tenaga ahli untuk berinovasi (Haramaya, Yuko, Japanese Technology Policy: History and a New Perspective, Research Institute of Economy, Trade and Industry, 2001).

Sampai dengan saat ini, melalui pengembangan dan penerapan teknologi yang tepat sasaran, serta penciptaan inovasi secara berkelanjutan, Jepang telah mampu menunjukkan kemampuannya sebagai salah satu negara besar dengan kekuatan teknologi modern. **
ARTIKEL TERKAIT :
Mengenal Disaster Management, Melihat Cara Jepang Menangani Bencana Alam
Perkembangan Industri di Korea Selatan
Mencermati Perkembangan Kekuatan Ekonomi China
Belajar dari Penurunan Populasi di Jepang

No comments:

Post a Comment