Dengan luas area sekitar 377.9 kilometer2 dan jumlah populasi penduduk sebanyak 126.32 juta pada 2016, Jepang (Nippon-koku/the State of Japan) merupakan salah satu negara dengan pendapatan tertinggi menurut the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), yakni dengan menghasilkan Gross Domestic Product (GDP) kurang-lebih sebesar US$ 4.11 triliun pada 2015, dan GDP per kapita tak kurang dari US$ 32.5 ribu.
Berbicara mengenai teknologi, faktor ini diyakini menjadi elemen penting dalam era globalisasi dan peningkatan daya saing. Teknologi juga dipercaya memiliki peran utama dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Selanjutnya, faktor-faktor tersebut diukur untuk menentukan mana yang lebih dominan dalam mempengaruhi output pertumbuhan ekonomi.
Temuan yang dihasilkan menggambarkan bahwa 87.5% output pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh adanya perubahan teknologi (technical change), dan hanya 12.5% yang dikarenakan adanya peningkatan modal (capital accumulation) dan jumlah tenaga kerja.
Dari studi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengembangan teknologi menjadi kunci bagi pembangunan ekonomi jangka panjang (Solow, Robert M. (1957). Technical Change and the Aggregate Production Function, The Review of Economics and Statistcs, Vol. 39, No. 3, pp.312-320).
Dalam konteks Jepang, awal perkembangan teknologi dan industrialisasi di negara ini dimulai sejak adanya Restorasi Meiji (Meiji Restoration) pada era 1868-1912.
Adapun tujuan-tujuan pemerintahan Meiji antara lain sebagai berikut:
- Industrialisasi atau modernisasi perekonomian.
- Modernisasi sistem politik.
- Modernisasi militer.
Disamping itu, Jepang juga mengadopsi berbagai kebudayaan barat, baik dalam hal busana (fashion), menu makanan, hiburan, serta tarian/dansa.
Meski demikian, modernisasi militer menjadi titik sentral dari transformasi tersebut. Hal ini antara lain terwujud melalui kemenangan militer Jepang atas Rusia (1904-1905), yang membuktikan betapa teknologi militer yang diterapkan Jepang pada saat itu mampu menjadikannya sebagai salah satu negara terkuat di dunia.
Namun situasi berbalik tatkala Jepang mengalami kekalahan pada perang dunia kedua/world war II (1939-1945).
- Lebih dari 2 juta jiwa tewas dan tak kurang dari 13 juta orang kehilangan pekerjaan.
- Kekayaaan negara yang hilang mencapai 25%.
- Produksi sektor industri jatuh hingga tinggal 10% dari keadaan sebelum perang.
- Harga komoditas pangan yang meroket dan tingkat persediaan yang rendah, sehingga memicu hiperinflasi.
Untuk memperbaiki perekonomian yang porak-poranda, maka sejak 1948, Jepang mulai mengembangkan industri-industri berskala besar, seperti industri kapal dan transportasi laut, kelistrikan, jalan kereta api, hingga industri kimia.
Disamping itu Jepang melakukan reformasi agraria, reformasi pasar perdagangan, regulasi pasar tenaga kerja, serta perbaikan taraf pendidikan.
Setelah menggenjot industri-industri berskala besar, maka hal berikutnya yang dilakukan oleh pemerintah Jepang adalah peningkatan daya saing (competitiveness).
Selanjutnya, pada pertengahan 1950’an hingga 1970’an, Jepang memasuki babak baru industrialisasi yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat pesat, kapasitas produksi yang semakin banyak, serta national income dan konsumsi domestik yang terus menanjak, sehingga menghasilkan pertumbuhan ekonomi rata-rata hingga diatas 9% setiap tahunnya.
Industrialisasi yang begitu cepat terutama ditunjang oleh pengembangan teknologi yang tepat sasaran, penerapan scientific method, serta quality control yang ketat.
Salah satu capaian yang mengesankan adalah keberhasilan Jepang menerapkan teknologi kereta cepat (bullet train atau shinkansen) pada 1964, yang menghubungkan Tokyo dengan Osaka.
Selanjutnya, periode 1970’an-1990’an diawali dengan adanya stagnasi perekonomian dalam negeri, yang mengakibatkan melambatnya laju industri dan manufaktur.
Selain itu pemerintah Jepang juga berupaya untuk menurunkan biaya usaha yang tinggi, meningkatkan efisiensi produksi, meningkatkan investasi pada infrastruktur, menerapkan standar produksi, serta menyediakan dana penelitian dan pelatihan bagi tenaga ahli untuk berinovasi (Haramaya, Yuko. (2001). Japanese Technology Policy: History and a New Perspective, Research Institute of Economy, Trade and Industry).
Sampai dengan saat ini, melalui pengembangan dan penerapan teknologi yang tepat sasaran, serta penciptaan inovasi secara berkelanjutan, Jepang telah mampu menunjukkan kemampuannya sebagai salah satu negara besar dengan kekuatan teknologi modern. *
UPDATE ARTIKEL (Jumat, 25 Agustus 2017):
Dalam beberapa waktu terakhir, perkembangan teknologi dan industrialisasi Jepang mengalami kemajuan yang terbilang impresif.
Seperti yang termuat di situs Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang (the Ministry of Economy, Trade and Industry), pemerintah Jepang telah melakukan berbagai kerjasama, baik secara bilateral maupun multilateral, terkait dengan pengembangan teknologi modern.
Salah satu wujud kerjasama dilakukan dengan Jerman, yakni dalam pengembangan Internet of Things (IoT), terutama berkenaan dengan sistem keamanan siber (cyber security), sistem standarisasi internasional, serta dukungan terhadap pengembangan industri kecil dan menengah (small-medium enterprises).
Sebagai catatan, Internet of Things (IoT) merupakan sebuah konsep dalam teknologi-komputerisasi, dimana objek-objek tertentu bisa terkoneksi melalui internet serta berkomunikasi satu sama lain (dictionary.cambridge.org).
Disamping itu, masih terkait dengan pengembangan IoT, pemerintah Jepang juga melakukan kesepakatan kerjasama dengan Uni Eropa (the European Union), utamanya menyangkut pertukaran informasi, rekomendasi kebijakan, serta standarisasi aktivitas dalam kerangka IoT dan IoT solutions.
Kerjasama dalam bidang teknologi juga ditujukan sebagai sistem dukungan (support system) pada bidang lain, termasuk ekonomi dan industri; serta sebagai sarana untuk menjawab tantangan pembangunan dan lingkungan hidup, misalnya masalah emisi gas buang dan problem pemanasan global (sumber: ringkasan berita dari situs Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, www.meti.go.jp, dirangkum pada 22 Agustus 2017).
Sedangkan di sektor industri jasa, saat ini Jepang tengah mengembangkan sistem robotik yang bisa difungsikan sebagai pengganti tenaga kerja manusia untuk kebutuhan rumahtangga dan jasa perawatan (nursing service), sebagai akibat dari minimnya sumberdaya manusia yang bekerja di sektor tersebut (www.japantime.co.jp, Prime time in worker-scarce Japan for investing in service robots, retrieved on August 22, 2017).
Pengembangan sistem tersebut merupakan bagian integral dari teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, dimana komputer digital dan/atau mesin yang dikendalikan oleh komputer mampu mengerjakan tugas-tugas yang memerlukan kecerdasan tertentu (www.britannica.com)
Lebih jauh, Jepang juga sedang mengembangkan teknologi terbaru dalam hal transportasi kereta cepat dengan nama SCMAGLEV (Superconducting Magnetic Leviation), yang diproyeksikan bisa beroperasi secara penuh pada 2027.
Teknologi ini juga dikatakan ramah lingkungan (environment-friendly technology), karena hanya membutuhkan 50% dari energi yang digunakan oleh pesawat terbang.
Namun demikian, OECD dalam laporannya menegaskan bahwa anggaran besar yang digunakan pemerintah Jepang untuk pengembangan pengetahuan dan inovasi, yakni mencapai 3.5% dari total GDP Jepang pada 2015, atau urutan ketiga tertinggi diantara negara-negara anggota OECD, dalam kenyataannya tidak tercermin pada peningkatan angka pertumbuhan ekonomi (OECD (2017). Japan Policy Brief, April 2017).
Kita akan terus mengamati bagaimana perkembangan teknologi dan industrialisasi di Jepang berikutnya, dan seberapa besar pengaruhnya terhadap kemajuan negara tersebut. **
UPDATE
ARTIKEL (Senin, 09 Februari 2026):
Menurut
laporan the Global Innovation Index 2025 yang dirilis organisasi
kekayaan intelektual dunia (WIPO), Jepang menduduki peringkat 12 dari 139
negara, terkait daya inovasi.
Adapun daya inovasi
tersebut diantaranya meliputi investasi pada pengetahuan dan pengembangan,
penerapan teknologi, serta dampak sosial-ekonomi dari inovasi (World
Intellectual Property Organization. (2024). the Global Innovation Index
2025: Innovation at a Crossroads, Geneva: WIPO).
Sementara studi
lain mencatat jika basis teknologi dan inovasi Jepang sangat penting bagi
pengembangan teknologi hijau (green technology) di berbagai bidang.
Teknologi
hijau ini diyakini mampu membawa manfaat ekonomi dan kesempatan usaha di banyak
sektor.
Adapun
transformasi industri di negara tersebut ditopang oleh stabilnya nilai tukar
mata uang serta efisiensi basis produksi.
Basis produksi
tersebut terdiri dari fasiltas dan peralatan produksi yang canggih, efektif,
serta mampu meningkatkan output.
Didalamnya
termasuk semikonduktor, fiber optik, teknologi foto dan video, teknologi
pemindaian dan faksimili, teknologi robotik, kendaraan, serta peralatan militer.
Faktor-faktor
diatas menjadikan Jepang sebagai salah satu pemimpin dalam hal teknologi tinggi
(high-tech), baik di sektor otomotif, elektronik, robot, obat-obatan,
hingga komunikasi.
Jepang juga
mencanangkan pengurangan pemakaian karbon (decarbonization), seperti
tertuang dalam rencana Green Growth Strategy di akhir 2020.
Hal ini
diyakini mampu meningkatkan kualitas produk teknologi yang dihasilkan, termasuk
kendaraan dan gedung perkantoran, serta mencapai optimalisasi energi
terbarukan (renewable energy).
Jepang bahkan berkomitmen untuk mengelimisasi karbon (zero carbon) pada 2050,
serta mengurangi emisi hingga 46%, di 2030 (Muzaffar Mirzayev, Kristina N.
Toderich, and Halima Botirova. (2024). Japan’s Experience in the Development
of Industry and Green Technologies, Congreentax).
Selain itu, Jepang
telah mencanangkan rencana Integrated Innovation Strategy 2022, yang
menjadi arah kebijakan inovasi dan prioritas yang dijalankan.
Terdapat tiga
pilar utama dari strategi tersebut, yakni memperkuat kapabilitas riset dan
pengembangan sumber daya manusia.
Pemerintah
Jepang sudah menganggarkan ¥ 10 triliun untuk mewujudkan hal
tersebut melalui universitas riset kelas dunia.
Kunci utamanya
adalah pengetahuan, yang menjadi sumber inovasi dan penciptaan nilai bagi
generasi penerus.
Pilar
berikutnya adalah mempromosikan teknologi maju secara luas.
Riset di
berbagai bidang teknologi diharapkan mampu membawa transformasi kearah yang lebih
baik, termasuk melalui pemanfaatan AI (artificial intelligence) dan
teknologi kuantum.
Pilar
terakhir adalah keterhubungan inovasi antar sektor, meliputi industri,
pendidikan, serta pemerintah.
Kolaborasi
ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem sosial-ekonomi dalam jangka panjang. Apalagi
Jepang sudah memetakan jalan melalui program society 5.0.
Progam ini
ditujukan untuk mengintegrasikan masyarakat dari berbagai lapisan, serta
memberikan perlindungan penuh terhadap hak azasi individu (www.japan.go.jp, Integrated
Innovation Strategy 2022: Making Great Strides Toward Society 5.0, June 30,
2022, retrieved on February 09, 2026). ***
ARTIKEL TERKAIT :
Mencermati Perkembangan Perekonomian Jepang
Perkembangan Industri di Korea Selatan
Mencermati Perkembangan Kekuatan Ekonomi China
Belajar dari Penurunan Populasi di Jepang

terimakasih atas infonya, sangat membantu.. jangan lupa visit http://wartawarga.gunadarma.ac.id/
BalasHapuswihh keren artikel nya menambah ilmu pengetahuan tentang negara yang maju boleh dilihat juga puyny saya it solution indonesia
BalasHapusIni menarik sbg referensi..... perhatian pemerintah pada sektor riil berbasis pemanfaatan teknologi tampaknya sdh menunjukkan tanda2 keseriusan...
BalasHapusKeren informasinya
BalasHapusbermanfaat bagi yang berpikir untuk
indonesia yang lebih maju
Sejarah mencatat, Jepang memang salah satu negara dengan kekuatan ekstra dalam banyak hal.
BalasHapus