Pada 19 – 23 Januari 2026, the World Economic Forum (WEF) mengadakan pertemuan tahunan di Davos, Swiss, dengan tagline: "A Spirit of Dialogue".
Pertemuan
ini dihadiri oleh para pemimpin negara, pelaku usaha, perwakilan masyarakat sipil, serta
para akademisi, dengan agenda utama mendiskusikan berbagai isu global dan
langkah-langkah menjawab tantangan global ke depan.
Dalam
menghadapi tantangan-tantangan global, WEF bekerjasama dengan berbagai unsur,
termasuk dunia usaha, pemerintah negara, organisasi internasional, masyarakat
sipil, media massa, akademisi, pelaku dunia hiburan, wirausahawan, para
pemuda, dan komunitas lokal.
Selain
melaksanakan pertemuan-pertemuan rutin untuk mendapatkan titik temu dalam
mengelola kerjasama secara global, WEF juga membangun pusat kegiatan untuk
menghadapi masalah global, antara lain terkait rantai pasok manufaktur,
teknologi AI (artificial intelligence), keamanan siber, sistem keuangan
dan moneter, kesehatan dan fasilitas kesehatan, penanganan masalah iklim dan
alam, perdagangan dan geopolitik, serta teknologi dan inovasi.
Terdapat beberapa poin penting yang dibahas dalam WEF Annual Meeting tersebut.
Pertama, terkait
meningkatnya turbulensi masalah dalam skala global.
Lalu kondisi
ekonomi global yang masih lemah, disertai konflik geopolitik dan kepentingan
ekonomi antar negara.
Kemudian situasi
ekologi saat ini yang menunjukkan terjadinya bencana alam di berbagai wilayah.
Berikutnya perkembangan teknologi, termasuk AI (artificial intelligence) serta
digitalisasi, yang justru memperburuk kondisi sosial masyarakat dan memperlemah
ikatan sosial.
Selain itu,
adanya kecurigaan dan krisis kepercayaan antar berbagai pihak (baik negara
maupun komunitas masyarakat), membuat tekanan yang semakin besar dalam skala
global.
Munculnya persoalan-persoalan diatas menuntut kerjasama semua pihak untuk melakukan aksi
secara kolektif.
Pada
pertemuan tersebut juga dirilis laporan tentang risiko global yang berpotensi
terjadi.
Laporan tersebut
tertuang dalam the Global Risks Report 2026.
Secara umum
laporan ini memuat temuan tentang risiko global yang terjadi saat ini,
berpotensi terjadi dalam waktu dekat, serta risiko jangka menengah dan jangka
panjang.
Risiko
global sendiri didefinisikan sebagai kemungkinan adanya peristiwa atau kondisi,
yang jika terjadi akan berdampak negatif pada populasi penduduk dunia,
sumberdaya alam, serta nilai GDP global.
Dijelaskan
bahwa menurunnya tingkat kepercayaan, hilangnya tranparansi dan rasa hormat
pada aturan, tingginya proteksionisme, benar-benar mengancam hubungan
internasional, mengganggu iklim investasi dan perdagangan, serta memicu konflik
yang lebih besar.
Laporan juga
menyoroti hal negatif lain, mulai dari rantai persediaan bahan makanan yang
tidak stabil, sampai konflik antar negara, yang memperburuk kondisi ekonomi dan
sosial dunia.
Lebih
lanjut, laporan memandang permasalahan menjadi beberapa kategori,
antara lain konfrontasi geoekonomi, konflik bersenjata antar negara, kondisi
cuaca ekstrim, polarisasi masyarakat, pengikisan hak asasi dan kebebasan
individu, serta dampak negatif teknologi AI dan keamanan siber.
Adapun
rekomendasi yang dikemukakan untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut
diantaranya melalui kolaborasi antar negara untuk menemukan konsensus bersama, serta
peningkatan kerjasama di bidang perdagangan dan investasi yang saling
menguntungkan.
Selain itu
penguatan institusi multilateral juga harus ditingkatkan, sehingga bisa dimanfaatkan
untuk kepentingan publik, terutama masyarakat sipil.
Kemudian
penguatan basis komunitas lokal. Dalam hal ini pemerintah harus mendukung dan
mengembangkan komunitas lokal, sehingga tercipta komunitas-komunitas yang kuat
dan setara.
Berikutnya peningkatan
rasa percaya antar institusi, untuk mencegah polarisasi masyarakat dan
memerangi disinfomasi.
Lalu,
teknologi harus bisa dimanfaatkan untuk memberi pencerahan dan pengetahuan bagi
semua lapisan masyarakat, sehingga tidak terjebak dalam paradigma sempit.
Sementara
untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, pemerintah harus
melaksanakan kebijakan secara hati-hati, efisiensi belanja, serta refomasi
struktural untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi dan produktivitas.
Lantas, pengenaan
pajak harus dilakukan secara adil.
Pembangunan
infrastruktur harus memperhatikan tingkat keselamatan dan risiko, sehingga memberikan
hasil yang kokoh, tahan lama, dan bisa dimanfaatkan oleh semua pihak.
Terkait
perkembangan teknologi, baik sektor privat dan publik harus secara proaktif
meningkatkan keterampilan di bidang teknologi dan AI, sehingga bisa
dimaksimalkan untuk menciptakan kesempatan kerja baru, serta memberi panduan pada
kelompok yang rentan risiko, seperti anak muda dan remaja, dari hal negatif (The
World Economic Forum. The Global Risks Report 2026, 21st Edition,
Insight Report, January 2026).
Demikian
beberapa poin penting yang bisa kita pelajari dari pertemuan tahunan WEF 2026. *
ARTIKEL
TERKAIT:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar