30 Januari 2026

Pelajaran dari Pertemuan Tahunan the World Economic Forum (WEF Annual Meeting) 2026

Pada 19 – 23 Januari 2026, the World Economic Forum (WEF) mengadakan pertemuan tahunan di Davos, Swiss, dengan tagline: "A Spirit of Dialogue".

Pertemuan ini dihadiri oleh para pemimpin negara, pelaku usaha, perwakilan masyarakat sipil, serta para akademisi, dengan agenda utama mendiskusikan berbagai isu global dan langkah-langkah menjawab tantangan global ke depan.

www.ajarekonomi.com
Kita akan melihat beberapa aspek penting yang dibahas pada pertemuan tersebut, serta dalam laporan yang tercantum di the Global Risks Report 2026.

Dalam menghadapi tantangan-tantangan global, WEF bekerjasama dengan berbagai unsur, termasuk dunia usaha, pemerintah negara, organisasi internasional, masyarakat sipil, media massa, akademisi, pelaku dunia hiburan, wirausahawan, para pemuda, dan komunitas lokal.

Selain melaksanakan pertemuan-pertemuan rutin untuk mendapatkan titik temu dalam mengelola kerjasama secara global, WEF juga membangun pusat kegiatan untuk menghadapi masalah global, antara lain terkait rantai pasok manufaktur, teknologi AI (artificial intelligence), keamanan siber, sistem keuangan dan moneter, kesehatan dan fasilitas kesehatan, penanganan masalah iklim dan alam, perdagangan dan geopolitik, serta teknologi dan inovasi.

Terdapat beberapa poin penting yang dibahas dalam WEF Annual Meeting tersebut.

Pertama, terkait meningkatnya turbulensi masalah dalam skala global.

Lalu kondisi ekonomi global yang masih lemah, disertai konflik geopolitik dan kepentingan ekonomi antar negara.

Kemudian situasi ekologi saat ini yang menunjukkan terjadinya bencana alam di berbagai wilayah.

Berikutnya perkembangan teknologi, termasuk AI (artificial intelligence) serta digitalisasi, yang justru memperburuk kondisi sosial masyarakat dan memperlemah ikatan sosial.

Selain itu, adanya kecurigaan dan krisis kepercayaan antar berbagai pihak (baik negara maupun komunitas masyarakat), membuat tekanan yang semakin besar dalam skala global.

Munculnya persoalan-persoalan diatas menuntut kerjasama semua pihak untuk melakukan aksi secara kolektif.

Pada pertemuan tersebut juga dirilis laporan tentang risiko global yang berpotensi terjadi.

Laporan tersebut tertuang dalam the Global Risks Report 2026.

Secara umum laporan ini memuat temuan tentang risiko global yang terjadi saat ini, berpotensi terjadi dalam waktu dekat, serta risiko jangka menengah dan jangka panjang.

Risiko global sendiri didefinisikan sebagai kemungkinan adanya peristiwa atau kondisi, yang jika terjadi akan berdampak negatif pada populasi penduduk dunia, sumberdaya alam, serta nilai GDP global.

Dijelaskan bahwa menurunnya tingkat kepercayaan, hilangnya tranparansi dan rasa hormat pada aturan, tingginya proteksionisme, benar-benar mengancam hubungan internasional, mengganggu iklim investasi dan perdagangan, serta memicu konflik yang lebih besar.

Laporan juga menyoroti hal negatif lain, mulai dari rantai persediaan bahan makanan yang tidak stabil, sampai konflik antar negara, yang memperburuk kondisi ekonomi dan sosial dunia.

Lebih lanjut, laporan memandang permasalahan menjadi beberapa kategori, antara lain konfrontasi geoekonomi, konflik bersenjata antar negara, kondisi cuaca ekstrim, polarisasi masyarakat, pengikisan hak asasi dan kebebasan individu, serta dampak negatif teknologi AI dan keamanan siber.

Adapun rekomendasi yang dikemukakan untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut diantaranya melalui kolaborasi antar negara untuk menemukan konsensus bersama, serta peningkatan kerjasama di bidang perdagangan dan investasi yang saling menguntungkan.

Selain itu penguatan institusi multilateral juga harus ditingkatkan, sehingga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan publik, terutama masyarakat sipil.

Kemudian penguatan basis komunitas lokal. Dalam hal ini pemerintah harus mendukung dan mengembangkan komunitas lokal, sehingga tercipta komunitas-komunitas yang kuat dan setara.

Berikutnya peningkatan rasa percaya antar institusi, untuk mencegah polarisasi masyarakat dan memerangi disinfomasi.

Lalu, teknologi harus bisa dimanfaatkan untuk memberi pencerahan dan pengetahuan bagi semua lapisan masyarakat, sehingga tidak terjebak dalam paradigma sempit.

Sementara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, pemerintah harus melaksanakan kebijakan secara hati-hati, efisiensi belanja, serta refomasi struktural untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi dan produktivitas.

Lantas, pengenaan pajak harus dilakukan secara adil.

Pembangunan infrastruktur harus memperhatikan tingkat keselamatan dan risiko, sehingga memberikan hasil yang kokoh, tahan lama, dan bisa dimanfaatkan oleh semua pihak.

Terkait perkembangan teknologi, baik sektor privat dan publik harus secara proaktif meningkatkan keterampilan di bidang teknologi dan AI, sehingga bisa dimaksimalkan untuk menciptakan kesempatan kerja baru, serta memberi panduan pada kelompok yang rentan risiko, seperti anak muda dan remaja, dari hal negatif (The World Economic Forum. The Global Risks Report 2026, 21st Edition, Insight Report, January 2026).

Demikian beberapa poin penting yang bisa kita pelajari dari pertemuan tahunan WEF 2026. *


ARTIKEL TERKAIT:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar