Bank Sentral dan Kebijakan Moneter

Thursday, December 10, 2015

Bank Sentral dan Kebijakan Moneter

Pada artikel sebelumnya, kita telah menyinggung mengenai kebijakan fiskal beserta elemen-elemen didalamnya. Disitu juga dipelajari tentang implementasi kebijakan fiskal, baik dari sisi perpajakan (taxation) maupun dari sisi pengeluaran pemerintah (government expenditure).

Bank Sentral dan Kebijakan Moneter
Selain pemerintah, ada satu institusi lain yang memiliki fungsi penting dalam perkembangan perekonomian suatu negara. Melalui institusi ini, kebijakan-kebijakan di bidang ekonomi ditentukan, dan kebijakan-kebijakan tersebut ikut menentukan kearah mana perekonomian bergerak.

Beberapa contoh dari institusi tersebut antara lain: Bank Indonesia, the Federal Reserve (The Fed), the European Central Bank (ECB), dan the People’s Bank of China (PBOC). Ya, kita sedang membicarakan bank sentral (central bank). Bank sentral adalah institusi negara yang bertanggungjawab terhadap pengambilan keputusan dalam bidang moneter.

Secara konseptual, kebijakan moneter adalah kebijakan yang diambil oleh bank sentral dalam menentukan jumlah persediaan uang (money supply), tingkat suku bunga, dan peraturan bagi institusi keuangan/bank komersial (Samuelson and Nordhaus, Economics, 2002).

Bila dijabarkan lebih detil, beberapa poin yang menjadi fungsi bank sentral antara lain adalah:
  • mengendalikan persediaan uang di pasar.
  • menciptakan stabilitas harga.
  • mengupayakan tercapainya output ekonomi.
  • mengatur bank komersial termasuk dalam hal pemberian kredit (lender of the last resort).  menstabilkan makroekonomi terutama pada saat krisis ekonomi.
(Wright, Finance, Banking, and Money, 2011).

Hal penting yang harus dicatat adalah bahwa besarnya jumlah persediaan uang akan mempengaruhi variabel ekonomi dan keuangan, seperti misalnya: suku bunga bank komersial (suku bunga pinjaman dan suku bunga simpanan), harga barang konsumsi, harga saham dan surat berharga lain, serta nilai tukar mata uang.

Dalam contoh sederhana bisa kita jelaskan sebagai berikut: apabila bank sentral hendak mengurangi peredaran uang di pasar, maka ia akan mengambil kebijakan dengan meningkatkan suku bunga bank sentral. Berhubung suku bunga bank sentral meningkat, pelaku ekonomi akan cenderung menanamkan investasinya pada sektor perbankan (tabungan, deposito). Hal ini terjadi karena suku bunga simpanan bank komersial akan ikut terkerek naik. Efek berikutnya adalah menguatnya nilai tukar mata uang.

Sebaliknya, jika perekonomian sedang lesu dan sektor usaha mengalami perlambatan, bank sentral biasanya mengambil kebijakan menurunkan tingkat suku bunga, sehingga bisa menstimulasi aktivitas ekonomi. Dengan turunnya suku bunga bank, pelaku ekonomi akan memindahkan investasi mereka ke sektor riil (properti, manufaktur, dan sebagainya). Turunnya suku bunga juga dimanfaatkan oleh para kreditur untuk melakukan pinjaman produktif ke bank dalam rangka menjalankan bisnis.

Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa baik bank sentral (pengambil kebijakan moneter) maupun pemerintah (pengambil kebijakan fiskal) sama-sama memberikan andil besar dalam menentukan roda perekonomian.

Sebagai informasi tambahan, dalam ilmu ekonomi dikenal beberapa mazhab (aliran pemikiran), misalnya mazhab klasik, keynesian, monetaris, neo-klasik dan sebagainya. Perbedaan pemikiran-pemikiran itu antara lain terletak pada pengambilan sudut pandang atas permasalahan ekonomi serta pendekatan-pendekatan (metode) yang digunakan sebagai solusinya. **
ARTIKEL TERKAIT :
Devaluasi Yuan: mengapa menjadi sorotan?
Suku Bunga Bank Sentral: darimana dia berasal?
Apa Yang Terjadi Setelah Quantitative Easing Dihentikan?
Apa Sih Quantitative Easing Itu?

No comments:

Post a Comment