Pendidikan dalam Pembangunan

Tuesday, December 15, 2015

Pendidikan dalam Pembangunan

Dalam menilai kinerja pembangunan, tidaklah cukup hanya dengan mengukur besarnya income serta penyebaran distribusi pendapatan (income distribution), sebab ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi kualitas pembangunan, salah satunya adalah pendidikan. Tulisan ini akan membahas tentang peran pendidikan dalam pembangunan.

Pendidikan dalam Pembangunan
Pendidikan merupakan salah satu instrumen penting dalam rangka meningkatkan kemampuan individu serta masyarakat untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan jaman dan menyesuaikan diri terhadap lingkungan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan bahwa pendidikan merupakan sebuah pondasi yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan memastikan berjalannya roda ekonomi dan sosial (United Nations, Report on The World Social Situation, 1997).

Disamping itu, pendidikan merupakan unsur utama dalam pengembangan sumberdaya manusia (human resources development); sebab pendidikan memberdayakan individu, bukan hanya untuk menjadi tenaga kerja (labor), melainkan juga menjadi agen perubahan (agent of change) serta akselerator pembangunan itu sendiri.

Lebih lanjut, pendidikan juga mempengaruhi tingkat efektivitas dan produktivitas. Artinya, dengan semakin tingginya tingkat pendidikan seseorang, maka akan semakin besar pula kesempatan yang dimiliki untuk berperan aktif dalam pengambilan keputusan yang didasarkan pada pilihan rasional. Selain itu, pendidikan juga memampukan individu untuk melakukan tindakan yang lebih terukur dalam pencapaian sasaran serta dalam evaluasi atas setiap pengambilan keputusan.

Dalam pendidikan juga berlaku hukum permintaan dan penawaran (demand and supply). Kebutuhan akan pendidikan muncul dengan alasan sebagai berikut:
  • semakin tinggi tingkat pendidikan, maka akan semakin terbuka kesempatan di pasar tenaga kerja.
  • tingginya tingkat pendidikan juga memberikan prospek untuk memperoleh income yang lebih besar (mengingat bahwa income adalah salah satu ukuran kesejahteraan).

Disisi lain, sektor industri (jasa, manufaktur, perdagangan) juga membutuhkan tenaga kerja terdidik untuk menjalankan roda usahanya; alasannya seperti telah disebutkan diatas, yakni semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin mampu ia mengambil keputusan secara rasional dan mencapai target-target yang sudah ditetapkan. Dengan kata lain, kebutuhan akan tenaga kerja terdidik berkaitan erat dengan efektivitas dan produktivitas dalam dunia usaha.

Selanjutnya, salah satu alat ukur yang digunakan untuk menilai kualitas sumberdaya manusia dalam pembangunan adalah indeks pembangunan manusia (Human Development Index/HDI), yang diperkenalkan oleh the United Nations Development Programme (UNDP). Pada dasarnya indeks ini bertujuan untuk menilai tingkat pembangunan manusia bukan semata-mata berdasarkan pada pendapatan (income).

HDI mengukur pembangunan dengan mengombinasikan beberapa indikator, antara lain:
  • pendapatan (income).
  • usia harapan hidup (life expectancy).
  • tingkat melek huruf (literacy).
  • capaian pendidikan. 
Kemudian dalam pengukuran secara keseluruhan, masing-masing variabel tersebut mendapatkan persentase penghitungan yang proporsional.

Lebih lanjut, pada umumnya setiap negara memiliki parameter-parameter sendiri dalam mengukur kualitas sumberdaya manusia, khususnya di sektor pendidikan. Parameter-parameter tersebut disesuaikan dengan kebutuhan, misalnya dengan memasukkan faktor tenaga pengajar, dengan alasan bahwa merekalah yang berperan aktif dalam mentransfer pengetahuan. Selain tenaga pengajar, ada juga faktor pendukung seperti fasilitas perpustakaan, laboratorium penelitian, dan sebagainya.

Yang juga mesti mendapatkan perhatian adalah peningkatan kualitas pendidikan dasar dan menengah (primary school and secondary school). Pendidikan tingkat dasar dan menengah berperan untuk melatih anak-anak agar bisa mengembangkan potensi diri untuk masa depannya. Pendidikan dasar dan menengah juga merupakan pintu pertama dalam upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia.

Dalam perkembangannya, muncul pula pendidikan yang mengutamakan keterampilan (skill-based education), atau lebih dikenal dengan nama sekolah kejuruan. Sistem pendidikan seperti ini dianggap memiliki keunggulan, diantaranya:
  • keterampilan yang dihasilkan bisa langsung diaplikasikan di dunia kerja, karena pada dasarnya ilmu yang diperoleh di sekolah kejuruan lebih banyak berdasarkan praktik kerja.
  • keterampilan yang diperoleh dari sekolah kejuruan bisa diberdayakan dalam rangka mengembangkan usaha mandiri alias wirausaha (entrepreneurship), sehingga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru.

Seperti telah diuraikan diatas, faktor pendidikan secara nyata telah menunjukkan perannya yang sangat penting dalam pembangunan. Oleh karena itu, menempatkan pendidikan sebagai elemen penting dalam mengukur kualitas sumberdaya manusia akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kinerja perekonomian, sekaligus kemajuan pembangunan suatu negara. **
ARTIKEL TERKAIT :
Peran Keluarga Berencana (Family Planning) dalam Upaya Mengendalikan Populasi
Hakikat Pembangunan Manusia (Human Development)
Kesehatan, Pendidikan, dan Kesetaraan Gender dalam Sustainable Development Goals
Sustainable Development Goals: mewujudkan pembangunan yang berkesinambungan

No comments:

Post a Comment