Memahami Konsep Kemiskinan

Thursday, January 21, 2016

Memahami Konsep Kemiskinan

Masalah kemiskinan merupakan isu yang sudah lama didiskusikan, juga telah dilakukan berbagai upaya untuk mengatasinya. Meskipun demikian, sampai dengan saat ini persoalan tersebut terus terjadi diberbagai wilayah. Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan tinjauan tentang konsep kemiskinan.

Memahami Konsep Kemiskinan
Hampir semua negara menghadapi problem kemiskinan yang seakan tidak pernah berakhir. Bahkan pengentasan kemiskinan (poverty eradication) juga menjadi salah satu prioritas dalam agenda the Sustainable Development Goals (SDGs). Maka tidak heran muncul pernyataan bahwa kemiskinan akan selalu berjalan berdampingan dengan pembangunan.

Dalam salah satu studinya, Towsend membagi kemiskinan menjadi dua aspek, yakni kemiskinan absolut (absolute poverty) dan kemiskinan relatif (relative poverty). Yang dimaksud dengan kemiskinan absolut adalah apabila tingkat kemiskinan tersebut dinyatakan dengan standar yang serupa untuk tiap negara dan tidak berubah setiap waktu (absolute standard). Dalam hal ini digunakan patokan tertentu seperti standar pendapatan (income) per hari, misalnya pendapatan sebesar US$ X/hari.

Sedangkan yang disebut dengan kemiskinan relatif ialah apabila tingkat kemiskinan diukur dengan menggunakan standar yang ditentukan menurut lingkungan tempat tinggal individu, sehingga bisa bervariasi antara negara satu dengan negara lain. Konsep ini biasanya digunakan untuk memantau terjadinya ketidakadilan dalam distribusi pendapatan (Townsend, P, Measuring Poverty, British Journal of Sociology, 1954).

Berdasarkan konsep diatas dapat disimpulkan bahwa dalam perspektif tradisional, kemiskinan dilihat dari besarnya pendapatan yang dihasilkan oleh individu atau rumah tangga. Seseorang dikatakan miskin apabila pendapatannya berada dibawah level yang sudah ditetapkan (misalnya: US$ 1/hari). Banyak negara mengadopsi alat ukur ini untuk memantau jumlah penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan, karena dimensi kemiskinan hanya melihat sisi pendapatan sehingga tidak sulit dalam penghitungan.

Dalam perkembangan selanjutnya, dimensi kemiskinan mulai bervariasi, bukan sekadar dilihat dari pendapatan seseorang. Kemiskinan juga ditentukan dari hilangnya kesempatan untuk menentukan pilihan dan kesempatan untuk dapat hidup lebih lama, sehat, cukup asupan gizi, serta terpenuhi atau tidak'nya kebutuhan akan pendidikan, standar hidup yang layak, kebebasan, harga diri, kehormatan, dan partisipasi dalam komunitas.

Kemudian mulai muncul instrumen yang lebih komprehensif dalam mengukur angka kemiskinan. Salah satu contohnya adalah Human Poverty Index (HDI). HPI menggunakan indikator seperti: tingkat kehidupan (usia) yang pendek, tidak terpenuhinya pendidikan dasar, serta tidak tersedianya akses untuk kepentingan publik maupun privat.

Aspek tingkat kehidupan (usia) berkaitan dengan risiko kematian usia dini. Di negara berkembang, indikator ini menggambarkan persentase individu yang meninggal dunia sebelum berumur 40 tahun, sementara untuk negara maju menggunakan patokan umur 60 tahun.

Sementara indikator pendidikan menyangkut level pengetahuan yang dihitung dengan mengukur tingkat buta pengetahuan (illiteracy) pada orang dewasa. Sedangkan untuk indikator yang terakhir berhubungan dengan standar hidup secara umum. Dimensi ini direpresentasikan dalam tiga variabel, yaitu: persentase masyarakat yang mendapatkan akses layanan kesehatan, akses air sehat, serta persentase anak balita kekurangan gizi.

Akan tetapi, HPI tidak mengukur seluruh dimensi kemiskinan. Selain itu HPI tidak bisa menerangkan kemiskinan yang terjadi pada kelompok masyarakat tertentu, karena penghitungannya secara agregat (keseluruhan). Walaupun begitu, alat ukur ini mampu menunjukkan penyebab umum kemiskinan disuatu negara dan bisa dijadikan acuan dalam upaya pengentasan kemiskinan (Mowafi, Mona, The Meaning and Measurement of Poverty: A Look into the Global Debate, 2014).

Berikutnya, dalam upaya untuk mengukur tingkat kemiskinan secara lebih akurat, the Oxford Poverty and Human Development Initiative (OPHI) bekerjasama dengan UNDP melakukan beberapa penyesuaian dan perbaikan dalam penentuan aspek-aspek yang dipakai untuk menilai tingkat kemiskinan. Alat ukur ini dinamai the Global Multidimensional Poverty Index (MPI).

MPI juga menerapkan tiga dimensi kemiskinan, yakni kesehatan, pendidikan, dan standar hidup. Untuk kemiskinan memiliki dua dimensi, yaitu gizi dan tingkat kematian bayi, kemudian dimensi pendidikan memuat lama (dalam tahun) bersekolah dan tingkat kehadiran di sekolah, sedangkan dimensi standar kehidupan berisi indikator-indikator seperti listrik, kebersihan (sanitasi), air, lantai, bahan bakar untuk memasak, serta harta. MPI menetapkan bahwa seseorang dikatakan miskin apabila setidaknya salah satu dari dimensi tersebut tidak terpenuhi (pengukuran menggunakan metode rata-rata tertimbang/dengan bobot tertentu, untuk masing-masing indikator) (www.ophi.org.uk).

Berikut ini bacaan yang layak dipertimbangkan untuk memahami tentang konsep kemiskinan dalam konteks pembangunan, The End of Poverty: Economic Possibilities of Our Time, by Jeffrey D. Sachs, 2006.

Ada pula studi-studi lain yang menawarkan instrumen-instrumen dalam penentuan indeks kemiskinan, namun pemanfaatannya masih terbatas secara konseptual, sehingga sampai dengan saat ini belum dijadikan acuan secara global.

Demikian beberapa tinjauan mengenai masalah kemiskinan dan upaya untuk mengukur sejauh mana problem itu terjadi. Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa kemiskinan merupakan persoalan riil yang terus terjadi seiring dengan pembangunan. **
ARTIKEL TERKAIT :
Pertumbuhan Populasi Global beserta Permasalahannya
Pembangunan Perdesaan (Rural Development)
Fenomena Urbanisasi
Menyoal Distribusi Pendapatan (Income Distribution)

No comments:

Post a Comment