Friday, December 29, 2017

Melihat Progress Pelaksanaan SDGs (the Sustainable Development Goals)

Sejak agenda the Sustainable Development Goals (SDGs) dicanangkan pada 25 September 2015 lalu, banyak negara berupaya mencapai sasaran-sasaran yang ditargetkan. Lalu, bagaimana progress pelaksanaan agenda SDGs tersebut dan sejauh mana hasil yang dicapai, serta apa saja evaluasi atas pencapaian itu? Dalam tulisan kali ini kita akan mempelajari hal tersebut melalui beberapa penelitian yang ada.
Melihat Progress Pelaksanaan Agenda the Sustainable Development Goals (SDGs)
Dalam laporannya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (the United Nations) menggarisbawahi pokok pikiran penting, baik yang menjadi pencapaian positif maupun yang masih menjadi tantangan dalam mewujudkan cita-cita SDGs. Beberapa pokok pikiran tersebut terangkum dibawah ini.

Untuk masalah pemberantasan kemiskinan, diperkirakan terdapat 767 juta manusia berada dalam kondisi kemiskinan ekstrim (penghasilan dibawah US$ 1.90 per hari) pada 2013, menurun dari situasi di 1999 yang mencapai 1.7 miliar jiwa. Secara persentase, tingkat kemiskinan tersebut turun dari 28% di 1999 menjadi 11% pada 2013.

Dalam usaha pengentasan kelaparan, terjadi penurunan penduduk yang menderita kurang gizi dari 15% di periode 2000-2002 menjadi sekitar 11% pada 2014-2016. Secara total terdapat 793 juta penduduk menderita kurang gizi pada 2014-2016, turun dari 930 juta jiwa pada 2000-2002. Adapun penduduk yang mengalami malnutrisi terbesar berada di kawasan Asia dan Sub-Sahara Afrika, yakni mencapai 63%.



Dari isu tentang kesehatan, pada periode 2000-2012 kematian ibu melahirkan turun 37% dan kematian anak balita berkurang 44%. Akan tetapi, masih terdapat 303 ribu perempuan meninggal selama hamil atau saat melahirkan dan 5.9 juta anak balita meninggal pada kurun 2015. Yang lebih disayangkan, kasus tersebut sebenarnya disebabkan oleh faktor-faktor yang bisa dicegah. Selain itu insiden HIV juga menurun hingga 17% dan malaria 41%. Sementara pada 2013, sekitar 1.25 juta orang meninggal karena kecelakaan lalu-lintas, meningkat 13% sejak 2000.

Mengenai masalah pendidikan, secara global terdapat setidaknya dua dari tiga anak yang berkesempatan mengenyam pendidikan taman kanak-kanak dan sekolah dasar pada 2014. Akan tetapi, di negara miskin perbandingan tersebut hanya empat diantara sepuluh anak.

Dalam hal kesetaraan gender, kekerasan dalam rumah tangga masih menjadi persoalan yang sulit untuk diatasi. Sementara pada kurun 2000, satu dari tiga perempuan menyatakan mereka menikah pada usia dibawah 18 tahun. Selain itu mutilasi organ kelamin perempuan terjadi di 30 negara pada 2015, yakni sebesar 35% dari jumlah gadis berusia 15-19 tahun.

Pada isu ketersediaan sumber air bersih dan energi, di 2015 ada 5.2 miliar manusia (71% populasi penduduk dunia) sudah mendapatkan akses air bersih, sementara 2 miliar lainnya hidup dengan keterbatasan sarana air bersih. Sementara di 2014 ada 85.3% penduduk dunia yang mendapatkan akses listrik, namun ada 1.06 miliar orang yang kehidupannya tidak terjangkau fasilitas listrik.

Untuk masalah pertumbuhan ekonomi, rata-rata pertumbuhan GDP per kapita setiap tahun meningkat dari 0.9% pada periode 2005-2009 menjadi 1.6% di 2010-2015. Sementara tingkat pengangguran menurun dari 6.1% di 2010 menjadi 5.7% pada 2016.

Dari infrastruktur, industrialisasi, dan inovasi, pada 2015 industri transportasi udara berkontribusi sekitar US$ 2.7 triliun atau setara 3.5% GDP global. Lalu total investasi pada aktivitas research and development (R&D) meningkat rata-rata 4.5% per tahun di 2000-2014.

Dalam hal kesetaraan antar negara, terdapat peningkatan pendapatan nasional di negara-negara miskin. Ini mengindikasikan adanya perbaikan taraf hidup, sekaligus mengurangi ketimpangan pendapatan dengan negara-negara maju.

Mengenai kelayakan hunian, hampir 4 miliar penduduk tinggal di kota pada 2015. Dari jumlah tersebut, sembilan dari sepuluh penduduk kota menghirup udara yang tercemar dan berbahaya bagi kesehatan.

Selanjutnya dari isu lingkungan, angka kematian akibat bencana alam mengalami peningkatan. Tercatat lebih dari 1.6 juta orang kehilangan nyawa pada periode 1990-2015, sedangkan kerugian ekonomi akibat bencana alam mencapai US$ 250-300 miliar setiap tahunnya. Dalam pada itu, sudah banyak negara yang menerapkan strategi pencegahan dan penanggulangan bencana alam (disaster management system). Sementara keberadaan lahan hutan menyusut dari 31.6% di 1990 menjadi 30.6% di 2015 (United Nations, The Sustainable Development Goals Report 2017).

Penelitian lain menggunakan indeks SDG untuk mengidentifikasi skala prioritas dalam pengambilan keputusan untuk mencapai tujuan SDGs. Dari studi terhadap 157 negara, terlihat bahwa sebagian besar negara mampu menghasilkan progress positif pada bidang sosio-ekonomi, seperti kesehatan, pendidikan, kesetaraan gender, pembangunan infrastruktur, dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan isu lingkungan menjadi tantangan yang secara umum masih dihadapi oleh banyak negara.

Adapun negara-negara yang sudah melaksanakan agenda SDGs dengan baik diantaranya Swedia, Denmark, Finlandia, dan Norwegia. Sementara Madagaskar, Liberia, Republik Demokratik Kongo, Chad, dan Republik Afrika Tengah menjadi kelompok negara dengan sedikit pencapaian.

Untuk kelompok negara anggota OECD (the Organisation for Economic Co-operation and Development) seperti Australia, Kanada, Belgia, Jerman, dan Yunani, tantangan terbesar yang dihadapi adalah persoalan produksi dan konsumsi jangka panjang, serta tantangan perubahan iklim. Sementara untuk penanggulangan kemiskinan sudah memberikan hasil yang signifikan.

Negara-negara di kawasan Asia Selatan dan Timur seperti Indonesia, China, India, Sri Lanka, dan Bhutan menghadapi lebih banyak tantangan, yakni masalah kemiskinan, kesehatan dan standar kehidupan layak, ketersediaan infrastruktur, serta institusi yang kuat dan bersih.

Selanjutnya, negara-negara di wilayah Asia Tengah dan Eropa Timur seperti Afghanistan, Albania, Kroasia, Siprus, dan Bulgaria, sebagian besar mampu mengatasi masalah kemiskinan; namun untuk standar kelayakan hidup dan kesehatan, serta tersedianya institusi yang kuat belum terlaksana dengan baik.

Sedangkan negara-negara di kawasan Amerika Selatan dan Karibia seperti Argentina, Bolivia, Brazil, Haiti, dan Jamaika, masih menghadapi tantangan besar, termasuk masalah ketimpangan pendapatan, standar hidup layak dan kesehatan, infrastruktur yang memadai, serta institusi yang mendukung tata kelola pemerintahan yang bersih.

Negara-negara di wilayah Timur-Tengah dan Afrika Utara seperti Kuwait, Irak, Mesir, Qatar, dan Arab Saudi utamanya menghadapi persoalan pada kesetaraan gender, ketersediaan air bersih, penanganan kelaparan, serta isu perdamaian.

Terakhir, negara negara Sub-Sahara Afrika seperti Angola, Burundi, Kamerun, Ghana, dan Kenya merupakan kelompok negara yang paling tertinggal dalam pelaksanaan agenda SDGs, baik dari masalah kemiskinan, pemberantasan kelaparan, standar kehidupan yang layak dan kesehatan, kualitas pendidikan, kesetaraan gender, sumberdaya energi, pertumbuhan ekonomi dan standar kerja, ketersediaan infrastruktur, hubungan antar komunitas, masalah perdamaian, hingga keberadaan institusi yang bersih dan kuat.

Data-data diatas menegaskan bahwa:
  • setiap negara menghadapi tantangan dalam mencapai agenda SDGs, sekalipun negara maju dan kaya. 
  • karena negara-negara miskin banyak tertinggal dalam pencapaian tujuan SDGs, maka bantuan internasional, misalnya berupa Foreign Direct Investment (FDI), kerjasama internasional dalam upaya penanggulangan pelanggaran pajak (tax evasion) dan sharing teknologi, permodalan untuk pembangunan infrastruktur, serta skema Official Development Assistance (ODA), sangat dibutuhkan.
  • sangat penting untuk memperhatikan adanya spillover atau eksternalitas, misalnya dalam isu lingkungan, yakni ketika polusi udara di satu negara telah melewati area perbatasan dengan negara tetangga; atau contoh lain berupa maraknya kejahatan trans-nasional seperti money laundering, kejahatan pajak, serta penyelundupan yang melewati batas wilayah suatu negara.
  • setiap negara diharapkan menggunakan standar yang sesuai dengan karakteristik negara tersebut dalam upaya mencapai tujuan SDGs.
  • diperlukan kerjasama internasional dalam melacak sejauh mana pencapaian agenda SDGs di tiap negara; dalam hal ini dibutuhkan data-data yang valid sehingga mampu mengurangi kesenjangan antara progress yang di peroleh dengan kenyataan yang sebenarnya.
(Bertelsmann Stiftung and Sustainable Development Solutions Network. SDG Index and Dashboards Report 2017, Global Responsibilities: International spillovers in achieving the goals).

Sebagai catatan akhir, dalam upaya mewujudkan tujuan SDGs, sudah banyak negara yang mampu melaksanakan misi yang tertuang dalam agenda SDGs, namun demikian tidak sedikit pula negara yang masih menghadapi tantangan besar dalam memenuhi tujuan tersebut. **


ARTIKEL TERKAIT :
SDGs: Perdamaian, Keadilan, dan Kerjasama Global untuk Pembangunan Jangka Panjang
SDGs: isu perubahan iklim, sumberdaya kelautan, dan ekosistem bumi
SDGs: Ketidaksetaraan didalam dan antar Negara, Masalah Perkotaan dan Hunian Layak, serta Pola Konsumsi dan Produksi
Sumberdaya Air, Energi, Pertumbuhan Ekonomi, dan Infrastruktur pada Sustainable Development Goals

No comments:

Post a Comment