Seputar Masalah Pengangguran (Unemployment)

Thursday, June 16, 2016

Seputar Masalah Pengangguran (Unemployment)

Pengangguran merupakan salah satu indikator utama terkait aktivitas ekonomi suatu negara. Ketersediaan lapangan kerja serta pertambahan penduduk usia kerja merupakan faktor penentu besarnya tingkat pengangguran (unemployment rate). Pada artikel ini kita akan membahas hal-hal yang berkaitan dengan masalah pengangguran.

Menyadari begitu kompleksnya masalah pengangguran, maka isu tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam kampanye the Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada tujuan ke delapan, yakni mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang terbuka dan berkesinambungan, serta meningkatkan tenaga kerja produktif dan pekerjaan yang layak.

Sesuai dengan standar internasional yang diadopsi oleh the International Labour Organization (ILO), definisi pengangguran (unemployment) adalah apabila seseorang:
  • tidak memiliki pekerjaan, dalam arti tidak berada dalam posisi memperoleh upah sebagai pekerja/karyawan badan usaha/perusahaan atau sebagai pekerja mandiri (self-employed) selama periode tertentu.
  • pada saat ini dalam posisi siap untuk bekerja atau berprofesi sebagai pekerja mandiri.
  • sedang mencari pekerjaan, dalam arti sedang berupaya aktif untuk mendapatkan penghasilan sebagai pekerja/karyawan atau pekerja mandiri.
Definisi diatas tertuang dalam laporan the International Conferences of Labour Statisticians (ICLS) ke-19 di Geneva, Swiss pada 2-11 Oktober 2013.

Seputar Masalah Pengangguran (Unemployment)

Lebih lanjut, terdapat beberapa istilah yang menggambarkan jenis pengangguran, antara lain:
  • Frictional unemployment. Makna pengangguran friksional merujuk pada masa transisi antara pekerjaan sebelumnya dengan pekerjaan saat ini. Dengan kata lain, seseorang dikatakan dalam fase menganggur pada saat menunggu mulainya pekerjaan baru.
  • Cyclical unemployment. Istilah pengangguran siklikal muncul saat kondisi ekonomi mengalami resesi, sehingga mengakibatkan diberhentikannya tenaga kerja (baik secara permanen maupun sementara), atau dengan kata lain terjadi pengurangan jumlah tenaga kerja pada institusi kerja/perusahaan. Kondisi tersebut diyakini akan berangsur pulih kembali ketka situasi ekonomi mengalami perbaikan (recovery).
  • Voluntary unemployment. Pengangguran voluntary merupakan kondisi ketika seseorang belum menemukan pekerjaan seperti yang diharapkan, sehingga memutuskan tidak bekerja untuk sementara waktu.
  • Structural unemployment. Pengertian pengangguran struktural tidak jauh berbeda dengan frictional unemployment, hanya saja berlangsung dalam periode waktu yang lebih lama. Hal ini bisa digambarkan ketika kemampuan, pengalaman kerja, dan latar belakang pendidikan yang dikuasai seseorang tidak sesuai dengan lowongan pekerjaan yang tersedia.
  • Institutional unemployment. Pengangguran institusional terjadi akibat adanya intervensi di pasar tenaga kerja yang memicu timbulnya pengangguran, misalnya kebijakan pemerintah menaikkan tarif pajak atau harga bahan bakar minyak.

Selanjutnya, menurut catatan the International Monetary Fund (IMF), pada 2015 pertumbuhan ekonomi global hanya berada disekitar 3.1% dan sedikit meningkat dikisaran 3.6% pada 2016. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mengalami penurunan hingga beberapa tahun berikutnya, mengingat belum pulihnya perekonomian global dari perlambatan yang terjadi (The International Monetary Fund, World Economic Outlook 2015).

Sementara angka pengangguran total di seluruh dunia tercatat berada di angka 197.1 juta jiwa pada 2015, meningkat dari tahun sebelumnya yang mencatatkan angka sebesar 196.4 juta. Angka ini diperkirakan mengalami peningkatan hingga 2.3 juta di 2016 dan 1.1 juta setahun kemudian.

Persoalan lain dalam konteks pengangguran adalah semakin maraknya perdagangan manusia (human trafficking) untuk dipekerjakan di sektor-sektor tertentu, serta fenomena pekerja anak (child labour). Kejadian tersebut selain melanggar hukum dan hak hidup individu, juga merusak masa depan anak-anak. Fenomena seperti ini banyak terjadi di kawasan Afrika, Amerika Latin, dan Asia Tenggara. (International Labour Organization, World Employment Social Outlook: Trends 2016).

Disamping itu, fenomena angkatan kerja muda (youth labour-force), yakni mereka yang berusia antara 15-24 tahun dan baru memasuki pasar tenaga kerja (pekerja pemula), mencatatkan dinamika yang bervariasi di wilayah-wilayah tertentu.

Di kawasan Afrika misalnya, pertumbuhan angkatan kerja muda mengalami peningkatan dari sekitar 226 juta di 2015 menjadi 340 juta pada 2016, dan diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai lebih dari 520 juta pada 2030. Sementara di wilayah Asia, angka tenaga kerja muda justru diprediksi mengalami penurunan dari 718 juta di 2015 menjadi 711 juta pada 2030 (The United Nations Department of Economic and Social Affairs, Population Facts, Youth population trends and sustainable development, May, 2015).

Faktor pendidikan dipercaya menjadi pemicu menurunnya angkatan kerja muda yang memasuki lapangan kerja. Dengan kata lain, semakin besar kesempatan menempuh pendidikan pada level yang lebih tinggi akan cenderung menunda seseorang untuk memasuki dunia kerja.

Sementara ketika akan memasuki lapangan kerja, angkatan kerja muda biasanya menemui hambatan dan kegagalan, hal tersebut terjadi karena:
  • minimnya informasi, jaringan kerja, serta kesiapan dalam berkarir.
  • tidak memadainya keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.
  • kurangnya pengalaman yang menjadi syarat yang diajukan oleh pasar tenaga kerja.
  • sedikitnya ketersediaan peluang kerja bagi calon pekerja pemula.

Adapun akibat jangka panjang dari pengangguran di usia muda antara lain:
  • penurunan kemampuan potensial individu, sebab tidak di daya-gunakan secara maksimal.
  • penurunan daya dukung untuk menghidupi diri sendiri dan keluarganya, sehingga berpotensi memicu persoalan lain, seperti kesehatan, kecukupan nutrisi bergizi, serta masalah kemiskinan.

Lebih lengkap mengenai persoalan seputar pengangguran bisa dipelajari dalam salah satu referensi terkemuka, yakni Inflation, Unemployment, and Monetary Policy, by Robert M. Solow, James B. Taylor, and Benjamin M. Friedman, 1999.

Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan untuk mempersempit gap antara peluang kerja dengan melimpahnya persediaan tenaga kerja, diantaranya:
  • menyediakan pelatihan khsusus diluar pendidikan formal, dengan demikian angkatan kerja muda memiliki keterampilan praktis yang diperlukan di dunia kerja.
  • mengembangkan pendidikan jalur kejuruan (vocational education), yakni pendidikan formal yang secara khusus mendalami keterampilan yang bisa diaplikasikan dalam pekerjaan, seperti tata boga, otomotif, dan sebagainya. Pendekatan ini sekaligus mampu menumbuhkan semangat kewirausahaan (entrepreneurship).
  • mengembangkan metode apprenticeship atau tugas magang bagi para pelajar dari institusi pendidikan ke entitas usaha selama periode tertentu, agar lebih mudah beradaptasi pada saat memasuki dunia kerja.

Penutup, problem pengangguran sangat kompleks dan berkaitan erat dengan aspek-aspek yang lebih luas, seperti pendidikan, kesehatan, hingga masalah kemiskinan. **
ARTIKEL TERKAIT :
Memahami Konsep Kemiskinan
Pendidikan dalam Pembangunan
Menyoal Distribusi Pendapatan (Income Distribution)
Kesehatan sebagai Investasi Pembangunan

No comments:

Post a Comment