Selasa, 07 Februari 2017

Perekonomian Hong Kong: pusat kemajuan ekonomi Asia

Satu dari sekian faktor penunjang keberhasilan pembangunan wilayah adalah daya dukung perekonomian yang ada di wilayah tersebut. Pada tulisan ini kita akan melihat perekonomian Hong Kong sebagai salah satu pusat kemajuan ekonomi di Benua Asia.

Perekonomian Hong Kong: pusat kemajuan ekonomi Asia
Terletak di kawasan Asia Timur, Hong Kong (Hong Kong Special Administrative Region of the People’s Republic of China atau Hong Kong SAR) memiliki luas area sekitar 1,108 km2 dengan populasi penduduk lebih dari 7.1 juta jiwa pada 2016.

Hong Kong pada hakikatnya merupakan wilayah administrasi khusus yang menjadi bagian dari negara China. Dari perspektif sistem pemerintahan, Hong Kong menganut prinsip ‘one country-two systems’, yang menegaskan posisinya sebagai bagian dari China, sehingga tidak memiliki kewenangan perihal kebijakan luar negeri dan pertahanan-keamanan.



Namun demikian, wilayah yang dipimpin oleh seorang chief executive ini memiliki otonomi dalam kebijakan ekonomi.

Letaknya yang strategis sebagai pelabuhan laut dan dilintasi oleh penerbangan dari berbagai negara membuat Hong Kong menjadi destinasi yang sangat menarik, baik dari perspektif ekonomi, perdagangan dan investasi, maupun sebagai tempat tujuan wisata. Hong Kong juga memiliki fasilitas dan kelengkapan pelabuhan udara dan laut yang masuk dalam kategori terbaik di dunia.

Apabila ditelusur lebih jauh, terdapat beberapa poin yang menjadi daya tarik Hong Kong, yakni:
  • sebagai pusat keuangan, bisnis, serta interkonektivitas bagi perusahaan-perusahaan berskala global.
  • sebagai pusat investasi dan penanaman modal bagi investor asing.
  • sebagai salah satu pusat perdagangan internasional terbesar di dunia.
  • menjadi salah satu pusat pengembangan kewirausahaan (entrepreneurship).
  • memiliki sistem pendidikan yang tergolong maju dengan adanya universitas-universitas ternama sekawasan Asia-Pasifik.
  • menjadi pusat pariwisata bagi wisatawan internasional.

Dari pencapaian dibidang ekonomi, Hong Kong mencatatkan gross domestic product (GDP) sebesar US$ 427.4 miliar pada 2016 dengan GDP per kapita senilai US$ 58,100 (Purchasing Power Parity based). Angka GDP ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai US$ 421.3 miliar dengan GDP per kapita sebesar US$ 57,600 (PPP based) (www.cia.gov).

Jika menengok kebelakang, yakni sebelum terjadinya krisis ekonomi Asia 1997/1998, pertumbuhan GDP Hong Kong selama lebih dari tiga dasawarsa (awal 1960’an hingga awal 1990’an) mencapai rata-rata pertumbuhan hingga 12% per tahun.

Hal tersebut didukung oleh pesatnya industri berskala internasional dan pertumbuhan ekspor produk manufaktur. Salah satu penelitian menyebutkan bahwa ‘technology spillover’ menjadi faktor pendorong utama pertumbuhan ekonomi Hong Kong.

Studi tersebut menambahkan bahwa banyaknya sumberdaya manusia (terutama tenaga kerja asing) yang berlatar belakang pendidikan tinggi dan keterampilan khusus, membuat Hong Kong memiliki keunggulan daya saing di level global.

Disamping itu, masifnya investasi asing (foreign direct investment) yang masuk ke wilayah tersebut serta kebijakan pemerintah dalam menggenjot sektor pendidikan dinilai berkontribusi besar dalam kemajuan perekonomian Hong Kong (Win Lin, Chou, and Kar-yiu Wong, Economic Growth and International Trade: The Case of Hong Kong, 1997).

Lebih lanjut, Hong Kong menganut sistem perekonomian terbuka dengan ketergantungan yang relatif besar pada perdagangan internasional dan aliran modal asing. Hal ini terlihat dari aktivitas perdagangan yang tercatat pada pasar uang (foreign exchange market) serta pasar saham (stock market). Bahkan Pasar Saham Hong Kong merupakan pasar saham terbesar ke-2 di Asia setelah Tokyo Stock Exchange.

Adapun kebijakan moneter yang diterapkan adalah dengan mematok (pegging) nilai dollar Hong Kong (HKD) pada US$ untuk menjaga stabilitas moneter dan mengelola laju inflasi.

Sedangkan di sektor riil, produk-produk hasil industri banyak disumbangkan dari industri ritel, tekstil, serta busana dan apparel. Disisi lain, jasa finansial, asuransi, dan real estate menjadi penyokong utama pendapatan di sektor jasa. Kontribusi dari sektor jasa bahkan mencapai lebih dari 80% GDP Hong Kong pada 2014 dan menyerap tak kurang dari 80% total tenaga kerja.

Yang tidak kalah penting adalah keberadaan UMKM (Small Medium Enterprises/SMEs), berjumlah tak kurang dari 300 ribu atau lebih dari 45% dari total sektor swasta, yang menjadi basis pembangunan ekonomi Hong Kong (the Hong Kong Trade Development Council, June 2016).

Terkait dengan kebebasan dalam perekonomian (economic freedom), Hong Kong menempati urutan teratas dari total 178 negara menurut penelitian yang dilakukan oleh the Heritage Foundation pada 2016.

Adapun unsur yang dinilai dalam studi tersebut antara lain adalah pengakuan terhadap hak atas kekayaan intelektual (intellectual property), kebebasan dalam perdagangan, kebebasan investasi, kebebasan terkait aturan ketenagakerjaan, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Kebebasan yang dimaksud bukan berarti tidak adanya campur tangan pemerintah dalam perekonomian, melainkan dukungan dan pemberian kesempatan seluas-luasnya bagi setiap individu dalam melaksanakan aktivitas ekonomi (The Heritage Foundation, 2016 Index of Economic Freedom)

Sementara menurut the Global Competitiveness Index 2016-2017, Hong Kong menempati peringkat ke-9 terbaik secara global dalam hal keunggulan daya saing ekonomi (World Economic Forum, The Global Competitiveness Report 2016-2017). Hal ini sekaligus menunjukkan kemampuan Hong Kong dalam mengelola perekonomian.

Sebagai penutup, Hong Kong mampu membuktikan jika perekonomian dikelola dengan benar, maka hasil positif akan tercipta secara nyata. **

UPDATE ARTIKEL (Selasa, 14 Agustus 2018):

Menurut laporan the International Monetary Fund (IMF), GDP (current-price based) Hong Kong pada 2018 diproyeksikan mencapai US$ 364.78 miliar, atau meningkat dari 2017 yang berada di angka US$ 341.66 miliar.

Dengan populasi penduduk mencapai 7.47 juta jiwa, GDP per kapita negara tersebut di 2018 berada dikisaran US$ 48.83 ribu, atau meningkat dari tahun sebelumnya yang mencapai US$ 46.11 ribu.

Lebih lanjut, pertumbuhan ekonomi Hong Kong pada 2018 diperkirakan tumbuh hingga 3.6% dengan tingkat inflasi sebesar 2.2%. Capaian ini turun dari pertumbuhan ekonomi di 2017 yang mencapai 3.8%, dengan angka inflasi sebesar 1.5% (www.imf.org. IMF DataMapper: Hong Kong, dikutip pada Selasa, 14 Agustus 2018).

Sementara menurut studi Asian Development Bank (ADB), pertumbuhan ekonomi Hong Kong di 2017 mengalami akselerasi hingga 3.8%, setelah hanya mencapai 2.1% pada 2016. Studi menyatakan bahwa perekonomian di tahun tersebut banyak didukung oleh peningkatan konsumsi domestik (terutama belanja di sektor kesehatan), perbaikan sektor ketenagakerjaan, serta peningkatan income di sektor pariwisata.

Disamping itu, belanja pemerintah dan peningkatan struktur modal, peningkatan di sektor perdagangan dan konstruksi, serta tingginya nilai ekspor barang dan jasa, turut menyumbang tingginya pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

Sementara untuk 2018, pertumbuhan ekonomi Hong Kong diproyeksikan mencapai 3.2%, dengan inflasi sebesar 2.2%. Besarnya biaya impor diperkirakan menjadi faktor penting yang memperlambat laju pertumbuhan ekonomi Hong Kong di tahun tersebut. Selain itu kenaikan tingkat suku bunga berpotensi mengurangi besaran konsumsi rumah tangga (Asian Development Bank. Asian Development Outlook 2018: How Technology Affects Jobs, April 2018).

Dalam laporannya, the World Travel & Tourism Council menyatakan bahwa kontribusi total sektor pariwisata menyumbang tak kurang dari 16.7% total GDP Hong Kong di 2017, dan akan meningkat menjadi sekitar 18.5% pada 2018.

Selain itu, sektor pariwisata berkontribusi positif terhadap penciptaan lapangan kerja hingga 14.5% dari total tenaga kerja di 2017, dan diperkirakan tetap stabil pada 2018.

Sektor pariwisata juga menghasilkan investasi tak kurang dari HKD 50.5 miliar (dengan asumsi US$ 1 = HKD 7.8, angka ini setara dengan US$ 6.5 miliar), atau sekitar 8.8% dari total investasi Hong Kong pada 2017 (World Travel & Tourism Council. Travel & Tourism Economic Impact 2018: Hong Kong, March 2018).

Lebih jauh, dari upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi, Hong Kong menempati peringkat ke-13 dari total 180 negara menurut studi Transparency International. Pencapaian ini naik dua tingkat dari peringkat tahun sebelumnya (Transparency International. Corruption Perceptions Index 2017).

Kemudian dari kemudahan mendirikan dan menjalankan usaha, Bank Dunia menempatkan Hong Kong di peringkat ke-5 dari total 190 negara dalam penelitian terbarunya. Prestasi yang dicapai negara ini tergolong stabil, hanya turun setingkat dari studi tahun sebelumnya (World Bank. Doing Business 2018: Reforming to Create Jobs).

Dari unsur daya saing ekonomi, Hong Kong berada di urutan ke-5 terbaik dari 137 negara yang menjadi objek penelitian WEF, atau naik 4 tingkat dari penelitian sebelumnya (World Economic Forum. The Global Competitiveness Report 2017-2018).

Sementara dari perspektif keterbukaan ekonomi, Hong Kong masih menempati urutan teratas dari 180 negara pada 2018 menurut studi the Heritage Foundation. Ini berarti sudah tiga tahun berturut-turut sejak 2016, negara ini berada di posisi pertama. Untuk diketahui bahwa studi ini antara lain mengukur efektivitas dan efisiensi berbagai unsur seperti peraturan perundang-undangan, administrasi pemerintahan, beban pajak, serta kondisi sektor ketenagakerjaan (the Heritage Foundation. 2018 Index of Economic Freedom).

Demikian perkembangan terkini situasi perekonomian Hong Kong SAR. Kita akan terus mencermati dinamika yang terjadi di negara tersebut. ***


ARTIKEL TERKAIT :
Perekonomian Singapura, Simbol Keberhasilan Pembangunan berbasis Pengetahuan dan Teknologi
Perkembangan Perekonomian Indonesia
Perkembangan Industri di Korea Selatan
Mencermati Perkembangan Kekuatan Ekonomi China

Tidak ada komentar:

Posting Komentar