Sejarah dan Peran G7 (the Group of Seven) dalam Tata Kelola Perekonomian Dunia

Tuesday, May 24, 2016

Sejarah dan Peran G7 (the Group of Seven) dalam Tata Kelola Perekonomian Dunia

Kerjasama multi negara telah lama digaungkan dan berlangsung hingga kini. Kesadaran akan saling ketergantungan dalam perdagangan, investasi, ekonomi, dan keamanan, membuat negara-negara membangun aliansi untuk kepentingan bersama. ASEAN dan the Trans-Pacific Partnership (TPP) merupakan beberapa contoh bentuk kerjasama antar negara dengan tujuan tertentu. Kali ini kita akan membahas salah satu bentuk kerjasama antar negara yang dikenal dengan istilah the Group of Seven (G7).

Dilihat dari sejarahnya, proses kerjasama kelompok G7 melalui fase yang panjang. Adapun alasan-alasan yang menjadi dasar terbentuknya G7 antara lain tersebut dibawah ini.

Sejarah dan Peran G7 (the Group of Seven) dalam Tata Kelola Perekonomian Dunia
Pertama, adanya embargo minyak mentah oleh the Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) pada negara-negara barat karena dianggap mendukung Israel dalam perang Yom Kippur, 1973. Akibat embargo ini, harga minyak mentah dunia melonjak dengan cepat. Sebagai informasi, perang Yom Kippur (Yom Kippur war) terjadi pada Oktober 1973, merupakan perang antara Israel melawan negara-negara Arab, termasuk Irak, Suriah, dan Mesir, yang tergabung dalam Liga Arab (the Arab League). Perang ini memperebutkan dataran tinggi Golan yang dikuasai tentara Israel (www.history.com, Yom Kippur War).

Alasan kedua adalah gagalnya sistem moneter ala Bretton Woods saat menggunakan model fixed exchange rate. Sistem ini sebenarnya sudah dilakukan sejak berakhirnya perang dunia kedua. Dalam pendekatan fixed exchange rate, nilai tukar mata uang dollar dipatok dengan nilai emas batangan. Pada awal dekade 1970’an, Amerika Serikat yang kala itu dipimpin Presiden Richard Nixon, memutuskan untuk menghentikan sistem fixed exchange rate karena Amerika Serikat mengalami surplus dollar, sementara pada saat yang sama tidak memiliki persediaan emas batangan yang memadai untuk mengimbangi sirkulasi mata uang dollar di pasar internasional, sehingga US dollar mengalami overvalue (www.history.state.gov, Nixon and the End of the Bretton Woods System, 1971-1973).

Disamping alasan-alasan diatas, mengingat semakin meningkatnya kebutuhan dalam rangka koordinasi kebijakan ekonomi dan keuangan global, maka empat negara, yakni Perancis, Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat mengadakan pertemuan pada 25 Maret 1973 untuk mendiskusikan persoalan-persoalan itu. Pada Oktober tahun yang sama, Jepang bergabung dalam forum diskusi tersebut, sehingga dikemudian hari kelompok lima negara ini disebut dengan istilah the Group of Five (G5).

Beberapa tahun kemudian, group ini menambah jumlah anggota menjadi tujuh dengan masuknya Italia (1975) dan Kanada (1976) sebagai anggota baru. Dari sinilah kemudian dikenal istilah the Group of Seven (G7). Lebih lanjut, pada 1997 Rusia juga bergabung dalam kelompok G7, sehingga mengubah nama G7 menjadi G8 (the Group of Eight).

Pada prinsipnya, kelompok G7/G8 dihuni oleh negara-negara dengan kategori high-income country atau negara berpendapatan tinggi, mempunyai kekuatan utama dibidang ekonomi, memiliki unsur demokratisasi dalam pemerintahan, serta beraliansi langsung dengan Amerika Serikat. Dalam hal ini, Rusia merupakan satu-satunya pengecualian, mengingat hubungan yang tidak selalu harmonis dengan Amerika Serikat. Pada perkembangannya kemudian, sehubungan dengan aneksasi/penguasaan wilayah dan infiltrasi militer oleh Rusia atas Crimea pada Maret 2014, keanggotaan Rusia dihentikan untuk sementara (suspended).

Disamping itu, forum G7/G8 bukan merupakan institusi resmi, sebab tidak memiliki struktur organisasi maupun kantor sekretariat bersama. Oleh karenanya, pertemuan-pertemuan yang dilakukan pun bersifat tidak resmi (informal meeting).

Pertemuan negara-negara yang tergabung dalam kelompok G7/G8 berkembang dari waktu ke waktu. Apabila pada awalnya lebih banyak berdiskusi mengenai masalah ekonomi, maka dalam perkembangannya kemudian juga membahas isu-isu lain, seperti masalah keamanan kawasan, pembangunan global, serta persoalan lingkungan.

Selanjutnya, krisis ekonomi dan finansial yang melanda banyak negara di kawasan Amerika Latin, Asia-Pasifik, dan Eropa pada dekade 1990’an menjadi dorongan bagi terbentuknya kerjasama yang lebih luas daripada G8. Oleh karena itu, pada akhir 1999 dicetuskanlah forum kerjasama dengan melibatkan lebih banyak negara, yang kemudian dinamakan the Group of Twenty (G20).

Adapun negara-negara yang bergabung menjadi anggota G20 adalah Argentina, Australia, Brazil, China, India, Indonesia, Meksiko, Arab Saudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, dan Turki. Sementara satu perwakilan lagi berasal dari Uni Eropa (the European Union). Forum G20 sendiri lebih berfokus pada diskusi setingkat kementerian keuangan dan institusi bank sentral, utamanya terkait kondisi perekonomian global terkini serta kebijakan terkait sumberdaya energi dan lingkungan (Smith, G, G7 To G8 To G20: Evolution in Global Governance, CIGI G20 Paper I No. 6, May, 2011).

Sebagai catatan tambahan, pada 26-27 Mei 2016, Jepang menjadi tuan rumah pertemuan puncak kelompok G7 (the G7 Summit). Menurut situs resmi pemerintah setempat, agenda-agenda yang dibicarakan dalam the G7 Ise-Shima Summit antara lain adalah:
  • Perdagangan dan perekonomian global. Terutama dalam menghadapi gejolak ketidakpastian situasi ekonomi, termasuk perlambatan perekonomian di negara-negara berkembang dan merosotnya harga minyak mentah dunia.
  • Kebijakan luar negeri. Terkait dengan nilai-nilai dasar demokrasi, kebebasan, serta penegakan hukum dan hak asasi manusia, termasuk upaya pemberantasan terorisme serta isu-isu kawasan seperti konflik di Timur Tengah, Ukraina, dan pengembangan senjata nuklir oleh Korea Utara.
  • Perubahan iklim dan masalah energi. Berkaitan dengan masalah pemanasan global (global warming) serta penanggulangan dampak negatif perubahan iklim (climate change), termasuk strategi pemeliharan sumberdaya energi untuk kepentingan jangka panjang.
  • Pembangunan. Terutama menyangkut pelaksanaan agenda besar the Sustainable Development Goals (SDGs), serta kerjasama dengan organisasi internasional seperti the World Bank dan the United Nations Development Programme (UNDP) untuk meningkatkan pembangunan wilayah Afrika.
  • Investasi pada infrastruktur. Ditujukan untuk mengatasi gap antara kebutuhan dan tersedianya instrumen investasi pada infrastruktur dalam mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi global.
  • Kesehatan. Khususnya menyangkut upaya pemberantasan penyakit menular dan infeksi, serta memperkuat sistem pemenuhan kesehatan, termasuk peningkatan level kesehatan pada ibu hamil, bayi, dan anak-anak.
  • Perempuan. Isu kesetaraan gender (gender equality) juga mendapatkan porsi dalam pertemuan ini, termasuk diantaranya dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta peningkatan peran perempuan.
(www.japan.go.jp, Main Agenda for the G7 Ise-Shima Summit).

Akhir kata, menarik untuk ditunggu seperti apa wujud nyata yang dihasilkan dari kerjasama antar negara ini. **
ARTIKEL TERKAIT :
Memaknai Kerjasama Multilateral ASEAN-Rusia
Konsep dan Permasalahan dalam Perdagangan Internasional
Mengenal Foreign Direct Investment (FDI)
Seputar KTT APEC 2015

No comments:

Post a Comment