Melihat Situasi Perekonomian Global 2016

Saturday, July 23, 2016

Melihat Situasi Perekonomian Global 2016

Situasi perekonomian global pada 2016 dipenuhi oleh ketidakpastian. Bukan hanya negara-negara berkembang saja yang merasakan dampak perlambatan ekonomi, namun juga negara-negara maju yang notabene memiliki pondasi makroekonomi domestik yang relatif kuat.

Situasi Perekonomian Global 2016
Tulisan ini akan mengulas proyeksi perekonomian global 2016 termasuk perkembangan terakhir, yang disusun oleh beberapa lembaga internasional, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (the United Nations), Bank Dunia (the World Bank), the International Monetary Fund (IMF), dan the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

Dalam laporannya, the United Nations menyatakan bahwa tahun 2015 ditandai dengan merosotnya laju pertumbuhan perekonomian global, dari yang semula diprediksikan berkisar di angka 2.8% ternyata hanya mencapai 2.4%.

Penurunan pertumbuhan ekonomi pada tahun tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:
  • Permintaan global (global aggregate-demand) menurun sepanjang tahun.
  • Penurunan harga komoditas ekonomi penting seperti minyak mentah, logam, serta produksi pangan.
  • Volatilitas pasar keuangan global di banyak negara akibat buruknya kinerja perekonomian domestik.

Perlambatan ekonomi global pada 2015 membawa konsekuensi pada perkiraan laju pertumbuhan ekonomi tahun berikutnya. Pada 2016, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan berada di angka 2.9%, artinya terdapat optimisme perbaikan meskipun tidak signifikan. Perbaikan ini diperkirakan muncul akibat makin stabilnya kondisi moneter di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, negara-negara kawasan Uni Eropa (the European Union), serta negara-negara berkembang di kawasan Asia dan Afrika.

Pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju diperkirakan meningkat dari 1.9% pada 2015 menjadi 2.2% di 2016. Sementara untuk negara-negara berkembang diproyeksikan mengalami peningkatan lebih besar lagi dari 3.8% di 2015 menjadi 4.3% di 2016.

Sementara akibat laju pertumbuhan ekonomi yang melambat, terjadi peningkatan angka pengangguran (unemployment rate) secara global, sekaligus penurunan jumlah lapangan kerja baru.

Lebih lanjut, penurunan harga komoditas penting dunia membawa dampak secara langsung pada angka Gross Domestic Product (GDP) negara-negara penghasil utama komoditas. Tercatat penurunan harga minyak mentah dunia lebih dari 55% sejak pertengahan 2014, serta harga komoditas pangan merosot hingga lebih dari 12%.

Perlambatan ekonomi juga mengakibatkan menurunnya investasi secara global, baik dalam infrastruktur, perdagangan, serta industri manufaktur (United Nations, World Economic Situation and Prospects 2016, January, 2016).

Dalam perkembangan berikutnya, PBB menerbitkan update terbaru di pertengahan tahun 2016 yang menyebutkan bahwa pertumbuhan GDP di negara-negara belum berkembang (least-developed countries) diproyeksikan hanya akan mencapi 4.8% sampai dengan akhir 2016, jauh dibawah target pertumbuhan yang tercantum pada agenda the Sustainable Development Goals (SDGs), yakni di angka 7% (United Nations, the World Economic Situation and Prospects as of mid-2016, May, 2016).

Disisi lain, the World Bank menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang (Emerging Market and Developing Economies/EMDEs) diperkirakan hanya akan mencapai 3.5%, lebih rendah 0.6% daripada proyeksi sebelumnya. Sementara untuk negara-negara dengan pendapatan rendah (low-income countries), pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 4.5%.

Bank Dunia juga menyebutkan bahwa perlambatan perekonomian global pada 2016 terutama disebabkan oleh melemahnya perdagangan global dan aktivitas produksi di sektor riil. Selain itu faktor ketidakpastian kondisi ekonomi dan politik, terutama terkait kebijakan-kebijakan pemerintah, serta situasi geopolitik kawasan, turut menyumbang perlambatan tersebut.

Negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara kawasan Uni Eropa sedang berada dalam fase penyesuaian setelah mengalami instabilitas perekonomian domestik, melalui serangkaian kebijakan moneter yang dilakukan oleh otoritas masing-masing, yakni the Federal Reserve dan the European Central Bank.

Sementara negara-negara di kawasan Asia seperti Jepang diperkirakan akan masih mengalami kontraksi ekonomi dengan petumbuhan yang tidak mengalami perubahan secara signifikan. Konsumsi dalam negeri (domestic consumption) yang masih rendah, pendapatan domestik (domestic income) masih relatif kecil, serta kondisi pasar tenaga kerja (labor market) yang mengecewakan, menjadi penyumbang utama mandeg’nya perekonomian Jepang.

Sementara China mengalami perlambatan ekonomi yang cukup serius akibat merosotnya perdagangan ekspor dan investasi di sektor industri (the World Bank, Global Economic Prospects: Divergences and Risks, June, 2016).

OECD dalam laporannya menyatakan bahwa risiko instabilitas di pasar keuangan global masih sangat besar. Tingginya volatilitas pergerakan harga saham-saham yang ada di pasar menjadi salah satu penyebab utama tidak stabilnya pasar keuangan global.

OECD sendiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2016 hanya berada di angka 3.0%, ditandai dengan penurunan pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Jerman, dan Inggris.

Lalu-lintas perdagangan global pun tercatat mengalami penurunan cukup tajam, terutama diakibatkan oleh merosotnya harga komoditas dunia seperti minyak mentah dan komoditas pangan.

Selain itu OECD menyatakan bahwa kebijakan makroekonomi yang tepat, baik di sektor moneter maupun fiskal akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara perlahan. Beberapa bank sentral, seperti the European Central Bank, the Federal Reserve, serta the Bank of Japan dipandang telah mengambil kebijakan moneter yang akomodatif dalam upaya mendorong perekomian domestik.

Sementara kebijakan fiskal yang diterapkan oleh otoritas fiskal menunjukkan hasil yang kontradiktif di banyak negara. Hal ini antara lain berkaitan dengan program stimulus fiskal yang belum menunjukkan hasil signifikan dalam meningkatkan konsumsi masyarakat.

OECD juga menekankan pentingnya reformasi struktural dalam pengambilan kebijakan untuk mengoptimalkan alokasi sumberdaya yang tersedia, sehingga mampu menciptakan efisiensi dan menghasilkan output sesuai yang diharapkan (OECD, Interim Economic Outlook: Stronger growth remains elusive, Urgent policy response is needed, February, 2016).

Sementara itu, IMF dalam laporan World Economic Outlook menyebutkan bahwa perekonomian global pada 2016 sedang berada dalam fase recovery, namun dengan laju yang masih lambat dan labil. Hal ini terjadi karena pasar global masih dalam volatilitas yang tinggi. IMF memandang adanya faktor non-ekonomi yang berpotensi menghambat laju perekomian global. Faktor tersebut antara lain terkait isu keamanan regional dan situasi politik domestik.

Disamping itu keluarnya Inggris dari blok Uni Eropa diperkirakan akan membawa ketidakstabilan pada negara-negara anggota Uni Eropa lainnya, khususnya dalam lalu-lintas perdagangan barang dan jasa.

Kemudian faktor alam, sepeti bencana banjir, bencana kekeringan, serta badai el-nino juga menjadi perhatian serius karena berpotensi mempengaruhi perekonomian, terutama terkait ketersediaan bahan pangan secara global.

Pasar-pasar di negara-negara berkembang diperkirakan akan terus menjaga stabilitas untuk menjaga agar tidak terjadi kejatuhan seperti saat krisis ekonomi 2008 dan resesi ekonomi pada 2014-2015. Selain itu IMF memproyeksikan pertumbuhan perekonomian global 2016 hanya sebesar 3.2%, turun dari proyeksi sebelumnya 3.4%.

Mata uang beberapa negara seperti Afrika Selatan, Meksiko, Rusia, dan Kolombia, diperkirakan mengalami depresiasi tajam. Penurunan harga minyak mentah dan penguatan mata uang US Dollar sedikit banyak telah mengubah kondisi perekonomian domestik negara-negara tersebut, apalagi Meksiko dan Rusia sebagai salah satu produsen minyak mentah dunia.

Pertumbuhan ekonomi China diperkirakan hanya mencapai 6.5% pada 2016, menurun 0.4% dari tahun sebelumnya (International Monetary Fund, World Economic Outlook: Too Slow for Too Long, April, 2016).

Sementara pada update terakhir di bulan Juli 2016, IMF menyebutkan bahwa pasca keluarnya Inggris dari Uni Eropa membawa perubahan pada pemerintahan domestik Inggris yang masih belum bisa ditebak arahnya. Ketidakpastian ini berpotensi mengganggu pasar finansial, pasar perdagangan regional dan global, serta investasi di kawasan Eropa (International Monetary Fund, World Economic Outlook Update: Uncertainty in the Aftermath of the U.K. Referendum, July, 2016).

Penutup, proyeksi perekonomian global 2016 yang ditunjukkan oleh indikator-indikator ekonomi seperti tersebut diatas menunjukkan bahwa situasi perekonomian global pada 2016 belum akan mengalami peningkatan secara signifikan. **
ARTIKEL TERKAIT :
Memahami Konsep Globalisasi
Mengenal Foreign Direct Investment (FDI)
Konsep dan Permasalahan dalam Perdagangan Internasional
Menyoal Distribusi Pendapatan (Income Distribution)

No comments:

Post a Comment