Selasa, 23 April 2019

Mencermati Kondisi Lingkungan Hidup di 2019 dan Tantangan Kedepan

22 April diperingati sebagai Hari Bumi (Earth Day). Tahun ini merupakan peringatan ke-49, terhitung sejak pertama kali Hari Bumi diperingati pada 22 April 1970, dimana jutaan masyarakat turun ke jalan untuk memprotes dampak negatif industrialisasi.

Mencermati Kondisi Lingkungan Hidup di 2019 dan Tantangan Kedepan
Jika pada 2018, Hari Bumi mengambil tema “End Plastic Pollution” (Memberantas Pencemaran Plastik), maka Hari Bumi 2019 bertema “Protect Our Species” (Melindungi Species Kita) (www.earthday.org. What is Earth Day, and what is it meant to accomplish?, dikutip pada Senin, 22 April 2019).

Dalam rangka peringatan Hari Bumi ke-49, artikel ini akan merangkum perkembangan kondisi lingkungan hidup di 2019 menurut studi UNEP (United Nations Environment Programme) beserta tantangan-tantangan yang harus dihadapi.

1. KONDISI LINGKUNGAN DAN PENGARUHNYA PADA KEHIDUPAN.

Dalam penelitiannya, UNEP menekankan pentingnya planet bumi yang sehat, karena hal tersebut berdampak positif bagi kesehatan dan kehidupan manusia yang tinggal didalamnya.



UNEP juga menyatakan jika tantangan utamanya adalah bagaimana menghasilkan kehidupan yang layak dan sehat untuk 10 miliar penduduk di 2050, tanpa mengorbankan faktor ekologi dan kelestarian planet.

Berikut laporan terkait dengan kondisi lingkungan dan pengaruhnya pada kehidupan:

Bencana alam yang terjadi diberbagai wilayah secara langsung maupun tak langsung telah mempengaruhi kehidupan masyarakat secara global, baik dari kualitas hidup maupun ekonomi.

Menurut catatan, pada periode 2005-2014, lebih dari 1.7 miliar jiwa terdampak bencana alam, dengan korban meninggal tak kurang dari 700 ribu jiwa. Dari korban meninggal tersebut, sekitar 65% merupakan korban gempa bumi dan tsunami. Selain itu tak kurang dari 150 juta penduduk terkena dampak bencana banjir.

Sementara kerugian materi akibat bencana alam tercatat lebih dari US$ 1.4 triliun, diantaranya sebesar US$ 250 miliar sebagai akibat gempa bumi dan tsunami di kawasan Asia.

Disisi lain, laut yang memainkan peranan penting dalam menjaga stabilitas iklim sekaligus tempat hidup berbagai ekosistem, mengalami kerusakan masif dari waktu ke waktu.

Pencemaran air laut oleh bahan kimia berbahaya serta sampah plastik mengakibatkan berkurangnya kemampuan laut untuk menyeimbangkan ekosistem dan habitat kehidupan didalamnya.

Rusaknya habitat laut dan terumbu karang berdampak negatif terhadap jumlah dan kualitas tangkapan ikan untuk konsumsi. Hal ini menjadi masalah serius, mengingat ikan laut merupakan sumber protein yang dikonsumsi oleh lebih dari 3.1 miliar penduduk.

Bukan itu saja, kerusakan laut juga mengakibatkan turunnya pendapatan dari sektor pariwisata.

Lebih lanjut, konsentrasi gas karbondioksida (CO2) yang melampaui ambang batas telah memicu perubahan iklim, merusak lapisan ozone, serta meningkatkan suhu permukaan bumi.

Pencemaran udara berkontribusi terhadap berbagai penyakit yang mengakibatkan kematian sekitar 6 - 7 juta jiwa pada 2016, baik yang berkaitan dengan saluran pernapasan, jantung, hati, hingga pembuluh darah.

Disamping itu, penggunaan bahan bakar tak ramah lingkungan seperti kayu dan minyak tanah mengakibatkan peningkatan pencemaran udara dalam ruangan (indoor air pollution), dan berkontribusi atas kematian sekitar 3.2 - 3.5 juta penduduk yang terkena paparan polusi.

Adapun kerugian materi akibat pencemaran udara pada 2013 saja mencapai US$ 5.1 triliun atau setara 6.6% output global.

Berikutnya, ketersediaan tanah sebagai tempat tumbuhnya tanaman produk pangan semakin hari semakin menyusut.

Saat ini banyak sekali lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi perumahan atau lokasi industri.

Sementara pada sebagian lahan pertanian yang masih ada, kondisi tanahnya kurang nutrisi (tidak subur), sehingga berdampak pada penurunan hasil panen hingga 30%.

Yang tak kalah penting adalah ketersediaan air bersih sebagai sumber utama kehidupan. Menurut laporan, terdapat setidaknya 1.4 juta orang meninggal setiap tahun, karena penyakit yang berhubungan dengan pencemaran air dan sanitasi yang tidak sehat.

Terlebih lagi, kelangkaan sumber air bersih tersebut terjadi secara masif diberbagai wilayah, diantaranya kawasan Timur Tengah, Asia Barat, Pasifik, sebagian besar Afrika, dan Amerika Latin.

Disamping itu, pada periode 2000-2015 hanya sekitar 1.5 miliar penduduk dunia yang telah memperoleh akses air bersih layak minum.

Situasi yang memprihatinkan juga menimpa keanekaragaman hayati (biodiversity), sebagai elemen penting dalam keseimbangan alam.

Perusakan dan pembakaran hutan mengakibatkan hilangnya keseimbangan alam, yang pada gilirannya berdampak negatif pada kualitas kehidupan manusia.

Sementara kehidupan sosial terutama di sektor perkotaan, saat ini menghadapi berbagai persoalan kompleks, mulai dari hubungan antar individu-antar masyarakat, problem kebutuhan dasar, ketersediaan ruang publik ramah lingkungan, serta sarana transportasi.

Laporan menyebutkan jika masih terdapat sekitar 1.2 miliar penduduk yang belum mendapatkan akses listrik, serta 2.7 miliar lainnya yang masih menggunakan bahan bakar tradisional untuk memasak dan alat penerangan (hal yang memicu timbulnya pencemaran udara dalam ruangan).

Disamping itu sampai dengan 2015, konsumsi sumberdaya energi secara global mencapai 13.5 miliar ton (diukur setara dengan minyak mentah) dan akan meningkat menjadi 19 miliar ton pada 2040.

Untuk ketersediaan pangan, masalah terletak pada distribusi yang tidak merata. Tercatat lebih dari 800 juta penduduk masih mengalami kekurangan pangan, dan lebih dari 2 miliar lainnya menderita malnutrisi yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan fisik.

Ironisnya, terdapat sekitar 2.3 miliar penduduk (satu diantara tiga orang) yang dilaporkan menderita obesitas atau kelebihan berat badan. Hal ini mengkhawatirkan, sebab berpotensi memicu berbagai penyakit, seperti diabetes, kanker, serta kardiovaskular.

2. MENJAWAB TANTANGAN KEDEPAN.

UNEP menegaskan berbagai faktor yang mesti dilakukan untuk menjawab tantangan atas kondisi lingkungan, demi kehidupan yang lebih baik dimasa depan, diantaranya:
  • meningkatkan kemampuan dalam mendayagunakan energi yang bersih dan ramah lingkungan, menerapkan green economy, serta beradaptasi terhadap perubahan iklim; sehingga mampu menghasilkan lingkungan hidup yang sehat dan layak huni, serta ketersediaan bahan pangan yang memadai untuk jangka panjang.
  • meningkatkan perlindungan dan pemeliharaan elemen dasar kehidupan, yakni udara, air, tanah, laut, serta biodiversity; dengan demikian bisa menjamin planet bumi menjadi bersih dan sehat untuk ditinggali.
  • memelihara harmoni kehidupan antara manusia, alam semesta, dan sumber energi didalamnya, sehingga mampu menghasilkan kehidupan yang berkesinambungan. Hal ini sekaligus untuk mendukung terwujudnya agenda SDGs (the Sustainable Development Goals).
  • menanamkan kesadaran lingkungan melalui pendidikan, sehingga kesadaran itu muncul sedari dini.
  • memberdayakan perempuan dalam merawat lingkungan, sebab mereka berkontribusi besar terhadap keberlangsungan hidup itu sendiri.
  • mengupayakan pengelolaan limbah dan pencetus pencemaran lingkungan sebagai prioritas penting untuk menjaga kelestarian lingkungan.
  • mengubah paradigma tentang kesejahteraan, dimana sejahtera bukan hanya ditentukan oleh kekayaan materi, namun juga pada kualitas hidup dan kesehatan, serta harmoni dengan lingkungan.
(UN Environment. Global Environment Outlook – GEO-6: Healthy Planet, Healthy People, 2019).

Demikian berbagai hal terkait perkembangan kondisi lingkungan hidup di 2019 beserta upaya-upaya untuk menjawab tantangan kedepan. **



ARTIKEL TERKAIT :
Mengenang Tragedi Minamata, ketika aktivitas perekonomian mengabaikan faktor lingkungan
Belajar dari Pengelolaan Sampah di Jepang
Perkembangan Produksi Beras Dunia
Upaya Memelihara Kelestarian Tanah (Land Conservation)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar