Hakikat Pembangunan Manusia (Human Development)

Tuesday, January 19, 2016

Hakikat Pembangunan Manusia (Human Development)

Di era modern saat ini, konsep pembangunan manusia (human development) telah mengalami pergeseran makna. Jika dua sampai dengan tiga dekade lalu, pembangunan manusia diukur semata-mata berdasarkan mata pencaharian yang dimiliki individu sebagai simbol kekayaan dan kesejahteraan ekonomi, maka kini makna pembangunan manusia berkembang lebih jauh, termasuk aktifitas pekerjaan sukarela serta pekerjaan kreatif yang memperkaya kehidupan individu. Tulisan ini dimaksudkan untuk membahas mengenai hakikat dan dimensi pembangunan manusia.

Hakikat Pembangunan Manusia (Human Development)
The United Nations Development Programme (UNDP) menyatakan bahwa dimensi pembangunan manusia terdiri dari dua aspek: pertama, peningkatan kemampuan manusia yang terdiri dari peningkatan hidup yang lebih lama dan sehat, peningkatan pengetahuan, dan peningkatan standar kehidupan yang layak.

Sedangkan yang kedua adalah penciptaan kondisi yang memungkinkan terciptanya pembangunan manusia. Beberapa elemen yang terkait dengan hal tersebut adalah: partisipasi dalam politik dan komunitas, kondisi lingkungan dalam jangka panjang, hak dan rasa aman bagi setiap individu, serta terciptanya kesetaraan dan keadilan sosial (United Nations Development Programme, Human Development Report 2015).

Pembangunan manusia diawali dengan memberikan pemahaman tentang konsep pekerjaan. Pada dasarnya pekerjaan memberikan rasa aman secara ekonomi. Pekerjaan juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, serta proses kesetaraan gender. Namun lebih dari itu, pekerjaan juga bisa termanifestasi sebagai aksi kepedulian terhadap sesama dengan membangun keterikatan diantara keluarga, komunitas, dan masyarakat.

Pekerjaan tidak lagi sekadar meningkatkan kekayaan fisik/ekonomi, namun juga memperluas pengetahuan yang pada akhirnya membentuk nilai budaya dan peradaban. Intinya, pekerjaan menciptakan potensi, kreativitas, dan semangat manusia.

Dari perkembangan tersebut, maka ditarik kesimpulan bahwa tujuan utama pembangunan tidak semata-mata meningkatkan pendapatan, tetapi juga memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada individu dalam kaitannya dengan pemenuhan hak-hak asasi manusia, kebebasan menentukan pilihan, kemampuan dan kesempatan, serta kehidupan yang lebih lama, kreatif, dan sehat.

Untuk mengukur tingkat pembangunan manusia, maka diciptakanlah seperangkat instrumen yang bisa diterapkan diberbagai negara, sekaligus menjadi acuan (benchmark) dalam menilai seberapa jauh perkembangan pembangunan manusia.

Dalam hal ini, UNDP menggunakan satu perangkat alat ukur yang dinamakan Human Development Index (HDI) atau indeks pembangunan manusia. HDI diciptakan dengan penekanan bahwa individu dengan kapabilitasnya mesti menjadi ukuran utama pembangunan suatu negara; dengan kata lain, kemampuan/keterampilan manusia bukan semata-mata ditujukan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi.

Lebih jauh, indeks pembangunan manusia (HDI) merupakan ringkasan pencapaian rata-rata beberapa dimensi, yakni: kehidupan yang sehat, pengetahuan yang dikuasai, serta standar kehidupan yang layak.

Dimensi kesehatan ditentukan oleh angka harapan hidup, dimensi pendidikan/pengetahuan diukur dari berapa lama individu (yang berumur 25 tahun) berada dibangku sekolah, serta tingkat kehadiran di sekolah. Sementara dimensi standar kehidupan diukur dari pendapatan nasional bruto per kapita (www.undp.org).

Kritik terhadap HDI ialah bahwa ada elemen-elemen penting dalam konsep pembangunan yang justru tidak dimasukkan kedalam kriteria penilaian, antara lain: kemiskinan, ketidakadilan, hak asasi manusia, dan beberapa faktor lain.

Sementara itu ada beberapa referensi lain yang menyatakan gagasan mengenai konsep serta indeks pembangunan manusia dari perspektif yang berbeda. Salah satu contoh adalah yang dikemukakan oleh Stiglitz, Sen, dan Fitoussi yang menyatakan bahwa pembangunan manusia diukur berdasarkan: kesehatan, pendidikan, keamanan dari segi ekonomi, keseimbangan waktu, partisipasi politik dan pemerintahan, hubungan sosial, kondisi lingkungan, keamanan pribadi, dan tingkat kualitas kehidupan (Stiglitz, J.E., Sen, A., and Fitoussi, J.P., Report by the Commision on the Measurement of Economic Performance and Social Progress, 2009).

Dilain pihak, dalam penelitian yang dilakukan oleh Alkire, konsep pembangunan manusia diterangkan sebagai berikut:
  1. Pembangunan manusia ditujukan untuk memperbesar kebebasan individu untuk melakukan dan menjadi sesuatu yang menurut mereka bernilai. Secara prinsip, pembangunan manusia semestinya memberdayakan manusia; atau dengan kata lain bisa dinyatakan bahwa pembangunan manusia sudah semestinya menjadikan manusia sebagai titik perhatian utama.
  2. Pembangunan manusia mencakup kebebasan dasar yang berkaitan dengan kehidupan manusia, dan ini berlaku untuk semua negara.
  3. Pembangunan manusia merupakan pembangunan yang dilakukan oleh manusia, berkaitan dengan manusia, dan ditujukan untuk manusia. Dalam hal ini tidak mengenal apakah manusia tersebut miskin atau pun kaya, sebagai seorang pribadi maupun sebagai anggota komunitas masyarakat. Intinya adalah manusia yang menjadi pemeran utama.
  4. Pembangunan manusia menetapkan skala prioritas dengan menggunakan prinsip-prinsip tertentu, antara lain dengan memasukkan faktor pengentasan kemiskinan, keadilan, efisiensi, partisipasi, kesinambungan, penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan sebagainya.
  5. Pembangunan manusia memiliki sifat multidimensional dan setiap komponen didalamnya memiliki keterkaitan. Oleh karenanya diperlukan sudut pandang yang menyeluruh (holistic) dalam menerapkannya.
(Alkire, Sabina, Human Development: Definitions, Critiques, and Related Concepts, Oxford Poverty and Human Development Initiative (OPHI) Working Paper No. 36, 2010).

Sebagai kesimpulan, ada berbagai sudut pandang dalam memberikan makna atas pembangunan manusia. Beberapa karakteristik dan dimensi penilaian yang digunakan dalam mengukur tingkat pembangunan manusia menyesuaikan diri dengan perubahan jaman. Ini menunjukkan bahwa hakikat pembangunan manusia itu sendiri terus berkembang seiring dengan berkembangnya peradaban dan pengetahuan. **
ARTIKEL TERKAIT :
Persoalan Ketidaksetaraan didalam dan Antar Negara
Kesehatan, Pendidikan, dan Kesetaraan Gender dalam Sustainable Development Goals
Sustainable Development Goals: mewujudkan pembangunan yang berkesinambungan
Pembangunan Berperspektif Kesetaraan Gender (Gender Equality)

No comments:

Post a Comment