Data resmi dari the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD, Country Statistical Profile: Korea 2015) menyebutkan bahwa sampai dengan 2014, jumlah total populasi Korea Selatan berada di angka 50.4 juta jiwa.
Pertumbuhan ekonomi Korea Selatan di 2014 tercatat dikisaran 3.3%, meningkat dari tahun sebelumnya yang mencapai 2.9%.
Kemudiaan jika dilihat dari umur harapan hidup (life expectancy), penduduk Korea Selatan memiliki usia harapan hidup yang relatif tinggi, yakni 81.2 tahun.
Tingginya pendapatan per kapita Korea Selatan menempatkan negara ini kedalam salah satu negara maju di dunia, meskipun dengan catatan: angka ini tidak serta-merta menunjukkan keseimbangan dari sisi distribusi pendapatan (income distribution).
Salah satu penopang utama perekonomian Korea Selatan adalah munculnya industri-industri besar selepas perang dunia kedua.
Berikut adalah contoh keunggulan industri besar Korea Selatan di luar negeri: industri DRAM memory chips dengan pangsa pasar global sebesar 66%; industri LCD display dengan pangsa pasar global sebanyak 51%.
Selain itu, industri telepon seluler (smartphone) selalu menduduki peringkat teratas dari sisi penjualan ditingkat internasional; kemudian industri pembangunan kapal yang memiliki pangsa pasar sebesar 51%; serta industri mobil dengan total penjualan lebih dari 4.7 juta kendaraan di 2011 (Choi, et.al. Beyond Korean Style: Shaping a new growth formula, McKinsey Global Institute, April 2013).
Akan tetapi, karena industri-industri tersebut lebih banyak beroperasi di negara lain (sebagai perusahaan multinasional), dan produknya juga diorientasikan untuk pasar internasional, maka muncul permasalahan yang berkembang hingga saat ini, yakni pertumbuhan jumlah industri yang berorientasi pada pasar internasional tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi domestik.
Akibat dari fenomena ini antara lain:
- mayoritas tenaga kerja yang terserap dalam industri-industri tersebut justru bukan berasal dari penduduk Korea Selatan,
- timbulnya kesenjangan pendapatan (income gap), karena penerima penghasilan dari industri-industri tersebut hanya kelompok masyarakat tertentu saja (pengusaha, pemilik modal, dst).
Disisi lain, sektor usaha kecil dan menengah (small medium enterprises/SME) di Korea Selatan berkembang sangat pesat.
Dalam laporannya, OECD menyebutkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini Korea Selatan mengalami kemandekan ekonomi domestik, akibat semakin besarnya ketimpangan pendapatan dan tidak berkembangnya sektor usaha kecil dan menengah (OECD Economic Surveys: Korea, June, 2014).
Lebih jauh, beberapa penelitian, baik yang dilakukan oleh pemerintah setempat maupun organisasi internasional mengemukakan tingginya tingkat stress pada penduduk Korea Selatan, yang ditandai dengan:
- anjloknya angka kelahiran. Ini disebabkan karena mahalnya biaya pendidikan, sehingga banyak keluarga yang memilih untuk memiliki hanya satu anak atau tidak sama sekali. Kejadian di Korea Selatan ini mirip dengan fenomena penurunan populasi di Jepang.
- hampir 25% rumah tangga dengan level pendapatan menengah mengalami defisit keuangan (Statistics Korea, Household Survey Data, 1990-2010).
- angka perceraian yang tinggi, terutama setelah krisis ekonomi menimpa Korea Selatan di 1997. Meningkatnya angka pengangguran akibat krisis ekonomi diduga menjadi penyebab tingginya angka perceraian.
- tingkat bunuh diri yang tinggi dan cenderung meningkat (menurut catatan the World Health Organization (WHO), terdapat sekitar 31.7 dari 100 ribu orang yang melakukan bunuh diri di 2011, meningkat 2.5 kali lipat dari keterjadian di 1995. Kejadian bunuh diri ini rata-rata dilakukan oleh kelompok penduduk berusia dibawah 40 tahun).
- penyusutan tabungan rumah tangga dari 19% di 1988 menjadi hanya sekitar 4% di 2012.
Sebagai penutup, walaupun disatu sisi, Korea Selatan mencatatkan prestasi yang luar biasa dalam berbagai bidang, namun disisi lain tidak bisa dimungkiri bahwa negara ini juga menghadapi berbagai persoalan domestik serius, seperti yang telah diuraikan diatas. *
UPDATE ARTIKEL (Jumat, 11 Agustus 2017):
Perkembangan situasi perekonomian Korea Selatan dilaporkan oleh beberapa institusi, diantaranya Bank Dunia (The World Bank) yang menyebutkan pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) Korea Selatan pada 2016 mencapai angka US$ 1,411 triliun (US$ current based).
Dengan populasi penduduk sebanyak 51.24 juta jiwa, maka GDP per kapita Korea Selatan di 2016 senilai tak kurang dari US$ 27,663 atau meningkat lebih dari 2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya (data.worldbank.org).
Bank Dunia juga mencatat pembangunan ekonomi Korea Selatan yang tergolong pesat, terutama dalam pembangunan infrastruktur, pemberantasan kemiskinan, layanan pada masyarakat, serta peningkatan usia harapan hidup hingga 82.15 tahun.
Sementara menurut Forbes, dengan utang pemerintah setara 45% dari total GDP, angka pengangguran sebesar 3.6%, serta inflasi yang terjaga dikisaran 0.7%, Korea Selatan menjadi salah satu negara tempat tujuan berbisnis peringkat ke-28 terbaik di dunia (www.forbes.com. Best Countries for Business: 2016 Ranking, as of December 2016).
Terkait dengan stabilitas dalam negeri, setelah mayoritas rakyat Korea Selatan berhasil menggulingkan presiden terdahulu, Park Geun-hye, akibat skandal korupsi dan penyalahgunaan wewenang, Korea Selatan mulai menerapkan kebijakan-kebijakan ekonomi yang lebih progresif dibawah pimpinan presiden terpilih, Moon Jae-in.
Pemerintah Korea Selatan menargetkan pertumbuhan ekonomi di angka 3% pada 2017, atau meningkat 0.2% dari tahun sebelumnya.
UPDATE ARTIKEL (Sabtu, 24 Januari
2026):
Menurut studi terbaru, populasi
penduduk Korea Selatan menurun lebih cepat daripada yang terjadi di negara
lain.
Penyebab utamanya adalah tingginya usia
harapan hidup, dibarengi dengan rendahnya angka kelahiran. Angka kelahiran bayi di negara itu bahkan termasuk
yang paling rendah di dunia.
Diperkirakan terdapat 20% penduduk Korea
Selatan berusia diatas 60 tahun. Angka ini melonjak tiga kali lipat daripada
kondisi pada 1990’an.
Masalah kemudian muncul, karena
konsumsi penduduk usia lanjut juga lebih sedikit, sehingga konsumsi domestik
ikut tertekan.
Mengingat angka kelahiran yang
rendah, hal ini semakin memperburuk kondisi ekonomi dalam negeri.
Studi mengungkap bahwa setiap penurunan
1% populasi penduduk, berpotensi mengurangi konsumsi riil hingga 1.6%.
Hal ini diperberat dengan belanja
pemerintah untuk menanggung penduduk usia lanjut yang semakin besar setiap
tahunnya, sehingga mengurangi ruang fiskal yang tersedia.
Adapun estimasi belanja pemerintah untuk pensiun
serta perawatan kesehatan jangka panjang mencapai 30% – 35% dari GDP, pada 2050.
Untuk itu, strategi pemerintah dalam
menjaga pertumbuhan ekonomi, utamanya melalui pemanfaatan teknologi,
peningkatan partisipasi angkatan kerja, serta efisiensi alokasi sumberdaya, sangat
penting untuk diimplementasi.
Selain itu pengenaan pajak secara
tepat sangat diperlukan, supaya negara mampu memenuhi kebutuhan publik tanpa
membebani keuangan negara, ataupun merugikan masyarakat (Anand, Rahul, and Hoda
Salim. As Korea Ages, Fiscal Reforms Can Help Safeguard Government Finances.
IMF Country Focus, January 15, 2026).
Sementara data IMF menyatakan jika
pertumbuhan GDP riil Korea Selatan berada di level 1.8% pada 2026, meningkat dua
kali lipat dari 2025 di level 0.9%.
Adapun nilai GDP di 2026 diproyeksikan
berada di angka US$ 51.38 triliun, dengan GDP per kapita sebesar US$ 7.36 ribu.
Sedangkan jumlah populasi penduduk Korea
Selatan di 2026 ada di angka 51.61 juta jiwa, turun dari tahun sebelumnya yang
mencapai 51.68 juta jiwa. (www.imf.org/external/datamapper/Korea, Republic of,
retrieved on January 24, 2026).
Berikutnya, Bank Dunia melaporkan
jika angka usia harapan hidup penduduk Korea Selatan mencapai 83 tahun pada
2023.
Dengan populasi sebesar 51.71 juta di
2024, angka pertumbuhan penduduk hanya sebesar 0.1% pada tahun tersebut
(data.worldbank.org/country/korea-rep, retrieved on January 24, 2026). ***
ARTIKEL TERKAIT :
Perekonomian Hong Kong: pusat kemajuan ekonomi Asia
Perekonomian Singapura, Simbol Keberhasilan Pembangunan berbasis Pengetahuan dan Teknologi
Perkembangan Industri di Korea Selatan
Mencermati Perkembangan Kekuatan Ekonomi China

Tidak ada komentar:
Posting Komentar