Perekonomian Korea Selatan: antara data dan realita

Thursday, February 25, 2016

Perekonomian Korea Selatan: antara data dan realita

Setelah pada tulisan sebelumya kita mempelajari perkembangan kekuatan ekonomi China, maka kali ini kita akan melihat perekonomian salah satu negara maju di kawasan Asia, selain China, yakni Korea Selatan (The Republic of Korea). Beberapa penelitian menyatakan bahwa negeri ginseng ini telah menunjukkan taringnya sejak beberapa dekade terakhir dengan berbagai keunggulan, seperti dibidang teknologi, seni pertunjukan, musik, dan sejumlah prestasi lainnya.

Perekonomian Korea Selatan: antara data dan realita
Data resmi dari the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD, Country Statistical Profile: Korea 2015) menyebutkan bahwa sampai dengan 2014, jumlah total populasi Korea Selatan berada di angka 50.4 juta jiwa. Pertumbuhan ekonomi Korea Selatan di 2014 tercatat dikisaran 3.3%, meningkat dari tahun sebelumnya yang mencapai 2.9%. Selain itu, Korea Selatan mencatatkan pendapatan per kapita sebesar US$ 34,356 (atau setara dengan Rp. 446.6 juta, dengan asumsi US$ 1 = Rp 13,000). Kemudiaan jika dilihat dari umur harapan hidup (life expectancy), penduduk Korea Selatan memiliki usia harapan hidup yang relatif tinggi, yakni 81.2 tahun.

Tingginya pendapatan per kapita Korea Selatan menempatkan negara ini kedalam salah satu negara maju di dunia, meskipun dengan catatan: angka ini tidak serta-merta menunjukkan keseimbangan dari sisi distribusi pendapatan (income distribution). Oleh karenanya, kita akan mengupas lebih jauh dibalik data yang tersaji diatas.

Salah satu penopang utama perekonomian Korea Selatan adalah munculnya industri-industri besar selepas perang dunia kedua. Industi-industri ini membentuk konglomerasi atau yang lebih dikenal dengan nama Chaebol. Kekuatan utama dari industri-industri ini adalah pada kemampuannya mengembangkan inovasi-inovasi di berbagai bidang produksi.

Berikut adalah contoh keunggulan industri besar Korea Selatan di luar negeri: industri DRAM memory chips dengan pangsa pasar global sebesar 66%; industri LCD display dengan pangsa pasar global sebanyak 51%; selain itu, industri telepon seluler (smartphone) selalu menduduki peringkat teratas dari sisi penjualan ditingkat internasional; kemudian industri pembangunan kapal yang memiliki pangsa pasar sebesar 51%; serta industri mobil dengan total penjualan lebih dari 4.7 juta kendaraan di 2011 (Choi, et.al, Beyond Korean Style: Shaping a new growth formula, McKinsey Global Institute, April 2013).

Akan tetapi, karena industri-industri tersebut lebih banyak beroperasi di negara lain (sebagai perusahaan multinasional), dan produknya juga diorientasikan untuk pasar internasional, maka muncul permasalahan yang berkembang hingga saat ini, yakni pertumbuhan jumlah industri yang berorientasi pada pasar internasional tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi domestik. Akibat dari fenomena ini antara lain:
  • mayoritas tenaga kerja yang terserap dalam industri-industri tersebut justru bukan berasal dari penduduk Korea Selatan,
  • timbulnya kesenjangan pendapatan (income gap), karena penerima penghasilan dari industri-industri tersebut hanya kelompok masyarakat tertentu saja (pengusaha, pemilik modal, dst).
Disisi lain, sektor usaha kecil dan menengah (small medium enterprises/SME) di Korea Selatan berkembang sangat pesat. Terdapat setidaknya 90% angka tenaga kerja yang bekerja di sektor ini. Namun sayangnya, pertumbuhan ini terjadi bukan karena iklim usaha domestik yang kondusif, melainkan karena terbatasnya lapangan kerja yang tersedia. Dengan kata lain, mayoritas yang berprofesi sebagai pemilik usaha mengakui bahwa profesi itu dilakukan karena tidak ada pilihan lain.

Dalam laporannya, OECD menyebutkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini Korea Selatan mengalami kemandekan ekonomi domestik, akibat semakin besarnya ketimpangan pendapatan dan tidak berkembangnya sektor usaha kecil dan menengah (OECD Economic Surveys: Korea, June, 2014).

Lebih jauh, beberapa penelitian, baik yang dilakukan oleh pemerintah setempat maupun organisasi internasional mengemukakan tingginya tingkat stress pada penduduk Korea Selatan, yang ditandai dengan:
  • anjloknya angka kelahiran. Ini disebabkan karena mahalnya biaya pendidikan, sehingga banyak keluarga yang memilih untuk memiliki hanya satu anak atau tidak sama sekali. Kejadian di Korea Selatan ini mirip dengan fenomena penurunan populasi di Jepang.
  • hampir 25% rumah tangga dengan level pendapatan menengah mengalami defisit keuangan (Statistics Korea, Household Survey Data, 1990-2010).
  • angka perceraian yang tinggi, terutama setelah krisis ekonomi menimpa Korea Selatan di 1997. Meningkatnya angka pengangguran akibat krisis ekonomi diduga menjadi penyebab tingginya angka perceraian.
  • tingkat bunuh diri yang tinggi dan cenderung meningkat (menurut catatan the World Health Organization (WHO), terdapat sekitar 31.7 dari 100 ribu orang yang melakukan bunuh diri di 2011, meningkat 2.5 kali lipat dari keterjadian di 1995. Kejadian bunuh diri ini rata-rata dilakukan oleh kelompok penduduk berusia dibawah 40 tahun).
  • penyusutan tabungan rumah tangga dari 19% di 1988 menjadi hanya sekitar 4% di 2012.

Sebagai penutup, walaupun disatu sisi, Korea Selatan mencatatkan prestasi yang luar biasa dalam berbagai bidang, namun disisi lain tidak bisa dimungkiri bahwa negara ini juga menghadapi berbagai persoalan domestik serius, seperti yang telah diuraikan diatas. **

UPDATE ARTIKEL (Jumat, 11 Agustus 2017):
Perkembangan situasi perekonomian Korea Selatan dilaporkan oleh beberapa institusi, diantaranya Bank Dunia (The World Bank) yang menyebutkan pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) Korea Selatan pada 2016 mencapai angka US$ 1,411 triliun (US$ current based). Dengan populasi penduduk sebanyak 51.24 juta jiwa, maka GDP per kapita Korea Selatan di 2016 senilai tak kurang dari US$ 27,663, atau meningkat lebih dari 2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya (data.worldbank.org).

Bank Dunia juga mencatat pembangunan ekonomi Korea Selatan yang tergolong pesat, terutama dalam pembangunan infrastruktur, pemberantasan kemiskinan, layanan pada masyarakat, serta peningkatan usia harapan hidup hingga 82.15 tahun. Selain itu keberhasilan penerapan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy) di negara tersebut mampu menjadi role-model bagi negara lain.

Sementara menurut Forbes, dengan utang pemerintah setara 45% dari total GDP, angka pengangguran sebesar 3.6%, serta inflasi yang terjaga dikisaran 0.7%, Korea Selatan menjadi salah satu negara tempat tujuan berbisnis peringkat ke-28 terbaik di dunia (www.forbes.com, Best Countries for Business: 2016 Ranking, as of December 2016).

Terkait dengan stabilitas dalam negeri, setelah mayoritas rakyat Korea Selatan berhasil menggulingkan presiden terdahulu, Park Geun-hye, akibat skandal korupsi dan penyalahgunaan wewenang, Korea Selatan mulai menerapkan kebijakan-kebijakan ekonomi yang lebih progresif dibawah pimpinan presiden terpilih, Moon Jae-in.

Pemerintah Korea Selatan menargetkan pertumbuhan ekonomi di angka 3% pada 2017, atau meningkat 0.2% dari tahun sebelumnya. Selain itu kebijakan strategis juga ditujukan untuk mengurangi dominasi chaebol dan memberikan prioritas kepada usaha kecil (small business) untuk memacu pertumbuhan ekonomi nasional (www.cnbc.com, South Korea sees 2017 growth at fastest in three years, pushes consumption and jobs, 24 July 2017). ***

ARTIKEL TERKAIT :
Pendekatan Budaya Modern dalam Menguasai Dunia: fenomena Korean Wave
Perkembangan Industri di Korea Selatan
Mencermati Perkembangan Kekuatan Ekonomi China
Belajar dari Penurunan Populasi di Jepang

No comments:

Post a Comment