Mempertanyakan Efektivitas Gross Domestic Product (GDP)

Saturday, June 11, 2016

Mempertanyakan Efektivitas Gross Domestic Product (GDP)

Setelah puluhan tahun dimanfaatkan untuk menilai keberhasilan ekonomi suatu negara, maka seiring perkembangan pengetahuan dan teknologi, muncul penelitian-penelitian yang mengkritisi efektivitas Gross Domestic Product (GDP). Artikel ini mencoba mencermati studi-studi yang mempertanyakan keakuratan GDP dalam mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat dan stabilitas makro ekonomi.

Mempertanyakan Efektivitas Gross Domestic Product (GDP)
Secara historis, konsep GDP pertama kali muncul di Amerika Serikat pada era 1930’an, ketika negara tersebut dipimpin oleh Presiden Franklin D. Roosevelt. Pada saat itu Roosevelt menginginkan adanya data terukur mengenai kondisi anggaran negara yang tersedia untuk digunakan sebagai dasar penentuan kebijakan publik. Keputusan ini diambil sebagai persiapan jikalau Amerika Serikat terlibat dalam perang dunia ke-2.

Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa pada awalnya, keinginan menggunakan data statistik yang tergambar dalam GDP lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan finansial dalam rangka perang dunia ke-2, sambil tetap menjaga terpenuhinya standar kehidupan warga Amerika Serikat (Marcuss, R, and Richard E. Kane, US National Income and Product Statistic: Born of the Great Depression and World War II, Bureau of Economic Analysis: Survey of Current Business, 2007).

Kemudian, konsep GDP juga terkait dengan pertemuan antar negara di Bretton Woods pada 1944, dimana pada saat itu disepakati terbentuknya beberapa organisasi multinasional, seperti the International Monetary Fund (IMF) dan the World Bank (Bank Dunia).

Dalam menjalankan misi-misi'nya, digunakanlah indeks GDP oleh IMF maupun Bank Dunia sebagai salah satu indikator untuk menilai kinerja negara-negara anggota, sekaligus besaran dana pinjaman yang bisa didapatkan dari kedua lembaga internasional tersebut.

Lebih lanjut, catatan menyebutkan bahwa sudah sejak lama para ekonom dan peneliti mempertanyakan efektivitas GDP sebagai alat ukur kesejahteraan masyarakat. Selanjutnya kita akan membahas kritik-kritik terhadap indeks GDP beserta instrumen alternatif sebagai jawaban atas kelemahan GDP.

Pandangan Simon Kuznets.
Ekonom sekaligus peneliti, Simon Kuznets, mengungkapkan keterbatasan GDP dalam menilai kesejahteraan masyarakat. Kuznets menyatakan bahwa GDP merupakan simplifikasi atas realita yang kompleks. Menurutnya, menyederhanakan kompleksitas kehidupan manusia dalam kategori-kategori yang sederhana akan sangat berbahaya apabila tidak terkontrol dengan baik.

Disamping itu Kuznets meyakini bahwa apa yang ingin diwujudkan oleh pemerintah melalui angka-angka dalam GDP hanyalah ilusi semata. Dengan kata lain, GDP tidak secara utuh memotret aktivitas manusia yang bukan sekadar makhluk ekonomi, melainkan juga makhluk sosial yang hidup dalam lingkungan yang luas (Kuznets, S, National Income 1929-1932, A report to the US Senate, 73rd Congress, 1934).

Penelitian Robert Contanza, Maureen Hart, Stephen Posner, dan John Talberth.
Penelitian oleh Costanza et.al. mempertanyakan besaran GDP sebagai tolok ukur kesejahteraan serta angka pertumbuhan ekonomi sebagai alat ukur kemajuan perekonomian nasional.

Menurut penelitian tersebut, tingkat kesejahteraan masyarakat mestinya diukur dari tercapainya kebutuhan sosial jangka panjang, seperti kebutuhan pangan, perlindungan dari ketakutan dan bahaya, nilai kebebasan, serta partisipasi individu. Dengan kata lain, kesejahteraan seharusnya dilihat dari sudut pandang yang luas, bukan hanya dilihat dari besaran output aktivitas ekonomi. Lebih dari itu, pembangunan berkelanjutan semestinya mengutamakan kualitas kehidupan manusia, baik secara individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Selain itu, penelitian juga menyatakan bahwa terdapat faktor-faktor tertentu yang tidak dimasukkan dalam GDP namun berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat, yakni pekerjaan sosial-kemanusiaan, modal sosial berupa relasi antar individu dalam komunitas, serta penurunan manfaat (depletion) sumberdaya alam.

Studi tersebut menawarkan konsep yang lebih komprehensif sebagai ukuran kesejahteraan nasional, yakni dengan memasukkan unsur-unsur sebagai berikut:
  • modal sosial seperti persahabatan dan kerjasama dalam komunitas.
  • modal individu berupa pengetahuan, keterampilan, dan kesehatan.
  • pemanfaatan sumberdaya alam dan ekosistem, termasuk biaya penurunan manfaat terkait penggunaan sumberdaya alam dan unsur eksternalitas (externality factor) seperti biaya kerugian akibat polusi udara, air, dan sebagainya.
(Costanza, et.al., Beyond GDP: The Need for New Measures of Progress, Boston University, The Pardee Papers No.4, January 2009).

Disamping itu ada literatur mengenai perdebatan seputar efektivitas GDP yang layak menjadi rujukan, yakni Mismeasuring Our Lives: Why GDP Doesn't Add Up, by Joseph E. Stiglitz, Amartya Sen, and Jean-Paul Fitoussi, 2010.

Green GDP.
Terdapat alat ukur lain yang ditawarkan untuk memperbaiki kekurangan dalam indeks GDP, yakni Green GDP. Pada konsep Green GDP dimasukkan beberapa unsur tambahan dalam penghitungan biaya, misalnya biaya kerusakan lingkungan dan deplesi sumberdaya alam sebagai faktor pengurang pendapatan nasional. Beberapa negara, termasuk Jepang, Australia, dan Kanada telah mencoba menerapkan alat ukur ini, namun demikian evaluasi kinerjanya tidak diketahui dengan jelas.

Gross National Happiness (GNH).
Salah satu instrumen pengukuran kesejahteraan negara dikenal dengan istilah Gross National Happiness (GNH), yang diperkenalkan oleh Raja Bhutan pada awal 1970’an. Pada prinsipnya GNH bukan sekadar indeks seperti GDP, melainkan lebih sebagai tatanan nilai budaya dan spiritual, dengan mempertimbangkan unsur ekonomi dan non-ekonomi. Sejak 2004 indeks GNH dipromosikan secara global. Walau begitu, karena metodologi yang digunakan dianggap sulit untuk diidentifikasi, maka sampai dengan saat ini belum diterapkan secara luas.

Human Development Index (HDI).
The United Nations Development Programme (UNDP) juga memperkenalkan instrumen pengukuran kesejahteraan yang dikenal dengan nama the Human Development Index (HDI) atau indeks pembangunan manusia. Adapun ulasan mengenai Human Development Index telah dituangkan dalam artikel Hakikat Pembangunan Manusia (Human Development).

Penutup, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka wajar apabila muncul pertanyaan-pertanyaan atas konsep-konsep yang telah dibangun puluhan tahun sebelumnya, termasuk konsep Gross Domestic Product (GDP), walaupun konsep-konsep baru yang ditawarkan belum mampu menggantikan konsep yang sudah ada. **
ARTIKEL TERKAIT :
Memahami Konsep Kemiskinan
Sustainable Development Goals: mewujudkan pembangunan yang berkesinambungan
Pembangunan Perdesaan (Rural Development)
Menyoal Distribusi Pendapatan (Income Distribution)

No comments:

Post a Comment