Mengunjungi Swedia, Negara Kesejahteraan dengan Daya Rekat Sosial yang Tinggi

Tuesday, November 15, 2016

Mengunjungi Swedia, Negara Kesejahteraan dengan Daya Rekat Sosial yang Tinggi

Negara-negara yang terletak di Semenanjung Skandinavia atau dikenal dengan Nordic Countries, seperti Swedia, Denmark, Finlandia, dan Norwegia, memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak dipunyai oleh negara-negara di wilayah lain. Pada kesempatan kali ini kita akan mengunjungi Swedia dan melihat perkembangan kondisi sosial-ekonomi Swedia.

Mengunjungi Swedia, Negara Kesejahteraan dengan Daya Rekat Masyarakat yang Tinggi
Berbentuk kerajaan, Swedia (the Kingdom of Sweden) memiliki populasi penduduk kurang-lebih sebesar 9.7 juta jiwa pada 2015. Adapun luas wilayah negara ini berada dikisaran 438.57 ribu km2. Selain jumlah penduduk yang tidak terlampau besar, usia harapan hidup (life expectancy) warga Swedia juga tergolong tinggi. Tercatat, usia harapan hidup untuk perempuan berada di angka 84 tahun, sementara untuk penduduk laki-laki 81 tahun. Tingginya usia harapan hidup tersebut menempatkan Swedia kedalam salah satu dari sedikit negara yang memiliki usia harapan hidup tertinggi di dunia.

Sementara kekayaan alam yang dimiliki negara ini terutama bersumber dari hasil hutan seperti kayu-kayuan, serta hasil tambang seperti bijih besi.

Lebih lanjut, dari sisi perekonomian, besaran Gross Domestic Product (GDP) Swedia pada 2015 tercatat sebesar US$ 492.62 milliar, dengan GDP per kapita dikisaran US$ 50.8 ribu. Angka GDP tersebut turun dari tahun sebelumnya yang berada di angka US$ 571 milliar. Penurunan GDP dipicu terjadinya perlambatan perekonomian global yang mengurangi besarnya ekspor produk-produk dari Swedia ke negara-negara lain, terutama di wilayah Eropa dan Amerika.

Namun demikian, pada tahun tersebut Swedia justru mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 4.1%, atau meningkat hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 2.3%. Beberapa faktor yang menyumbang tingginya angka pertumbuhan dipicu oleh peningkatan konsumsi dalam negeri, baik konsumsi rumah tangga maupun pemerintah, serta melonjaknya angka investasi di sektor riil (ec.europa.eu).

Disamping itu, menurut Global Competitiveness Index 2015-2016, Swedia menduduki peringkat sembilan teratas, meningkat satu strip dari laporan tahun sebelumnya, terkait dengan daya saing di sektor bisnis (usaha), ekonomi dan perdagangan, serta efektivitas dan efisiensi administrasi publik dan pemerintahan (World Economic Forum, The Global Competitiveness Report 2015-2016).

Dengan luas wilayah yang tidak terlalu besar, Swedia juga menjadi pusat bagi perusahaan-perusahaan multinasional yang terkenal di penjuru dunia, seperti IKEA, Volvo, Scania, dan Erricsson.


Lebih jauh, Swedia pun mempunyai keunggulan dalam hal pemeliharaan lingkungan hidup. Menurut the Global Green Economy Index (GGEI) 2016, Swedia berada di peringkat teratas, terkait dengan pengelolaan negara yang memperhatikan aspek lingkungan hidup, termasuk efisiensi gas buang karbondioksida, serta pemeliharaan lingkungan hidup untuk menunjang kesejahteraan masyarakat. Sebagai catatan, istilah green economy mengacu pada integrasi dari berbagai bidang, yakni ekonomi, lingkungan hidup, dan faktor sosial.

Dalam penilaiannya, GGEI menggunakan empat dimensi atau kriteria, yakni Leadership and Climate Change, Market and Investment, Environment, dan Eficiency Sectors.

Adapun dimensi-dimensi tersebut terdiri dari 32 indikator yang antara lain memuat tentang faktor perubahan iklim, efisiensi energi, transportasi, investasi pada energi yang terbarukan (renewable resources), inovasi teknologi ramah lingkungan, kualitas sumberdaya air dan udara, sektor pertanian, kehutanan, perikanan, dan sebagainya (Dual Citizen LLC, The Global Green Economy Index 2016, September 2016).

Sementara dari sisi kehidupan sosial, selain dikaruniai usia harapan hidup yang tinggi, masyarakat Swedia dikenal dengan kuatnya daya rekat sosial (social cohesion). Di negara ini, catatan kriminalitas tergolong rendah (beberapa kasus kriminal yang dilaporkan kepada pihak berwajib melibatkan kaum imigran, bukan warga lokal). Disamping itu, Swedia mencatatkan distribusi pendapatan yang relatif seimbang diantara masyarakatnya.

Beberapa catatan positif diatas menjadikan Swedia sebagai salah satu negara yang berhasil menerapkan model negara kesejahteraan (welfare state), dan menjadi acuan (benchmark) bagi negara-negara lain.

Meskipun begitu, Swedia bukanlah negara yang kaya dan sejahtera dari awalnya. Pada 1980, tercatat bahwa Swedia termasuk dalam kategori negara miskin. Hal ini antara lain terlihat dari banyaknya imigran dari negara ini yang masuk ke negara-negara lain, baik ke daratan Eropa maupun Amerika Serikat, untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Jauh sebelum masa itu, secara historis diketahui bahwa Swedia menerapkan sistem kebijakan pasar bebas, yakni sejak akhir abad ke-19. Adapun daya rekat yang tinggi diantara masyarakat memang sudah terbentuk sebagai sebuah norma kebudayaan. Daya rekat ini sekaligus menjadi kekuatan utama dalam memelihara tingkat kepercayaan (trust) antar individu.

Namun, ketika sektor bisnis mulai diperketat dengan regulasi-regulasi yang terlalu mengikat, secara pelan tapi pasti pertumbuhan ekonomi Swedia mengalami kemunduran hingga puncaknya ketika terjadi krisis ekonomi pada awal periode 1990’an.

Krisis tersebut membuat pemerintah Swedia mereformasi banyak bidang, seperti pendidikan dan kesehatan, serta memperluas deregulasi ekonomi. Hal tersebut pada akhirnya mampu mendorong kembali pertumbuhan ekonomi sekaligus kesejahteraan masyarakatnya (Sanandaji, Nima, The surprising ingredients of Swedish success-free markets and social cohesion, IEA Discussion Paper No. 41, 2012).

Selain itu, restrukturisasi industri dan reformasi perpajakan, peningkatan investasi melalui Foreign Direct Investment (FDI), hingga efisiensi sektor industri dan perbaikan taraf hidup tenaga kerja, serta peningkatan kapasitas sumberdaya manusia melalui pendidikan dan keterampilan mampu mengubah wajah Swedia dari negara miskin menjadi salah satu negara dengan pendapatan tertinggi di dunia (Heyman, Fredrik, Pehr-Johan Norback, and Lars Persson, The Turnatound of the Swedish Economy: Lessons from Business Sector Reforms, IFN Policy Paper No. 73, 2015).

Sementara menurut laporan the International Monetary Fund (IMF), Swedia masih menghadapi banyak tantangan pada tahun-tahun mendatang, diantaranya persoalan banyaknya imigran yang masuk ke negara tersebut sehingga mempengaruhi struktur pasar tenaga kerja, besarnya alokasi anggaran negara, serta kondisi sosial masyarakat (International Monetary Fund, Sweden, IMF Country Report No. 15/329, December 2015).

Beberapa poin diatas menunjukkan bahwa untuk menjadi negara sejahtera memerlukan waktu dan kebijakan yang menunjang terciptanya kesetaraan dan keadilan. Bahkan ketika suatu negara sudah masuk dalam kategori sejahtera, seperti halnya Swedia, tidak serta-merta terbebas dari permasalahan sosial-ekonomi. **

ARTIKEL TERKAIT :
Selandia Baru: Good Governance, Partisipasi Publik, dan The Lord of The Rings
Melihat Situasi Perekonomian Global 2016
Teori dan Konsep Dasar Negara Kesejahteraan (Welfare State)
Sejarah Blok Uni Eropa (the European Union)

No comments:

Post a Comment