Memahami Konsep Globalisasi

Tuesday, July 12, 2016

Memahami Konsep Globalisasi

Globalisasi (globalization) menjadi salah satu topik perdebatan yang tak kunjung usai hingga kini. Sementara sejauh ini belum ada kesepakatan tunggal mengenai definisi globalisasi itu sendiri. Tulisan ini akan mengulas konsep globalisasi, terutama dari tinjauan sosial-ekonomi.

Memahami Konsep Globalisasi
Banyak kajian sosiologi dan ekonomi yang menyatakan bahwa ide mengenai globalisasi sebenarnya sudah tercetus sejak beberapa abad silam. Akan tetapi dalam perkembangan dunia modern, konsep globalisasi mulai dikenal pada awal abad ke-20, tepatnya seusai perang dunia ke-2, saat terjadi pertemuan antar negara di Bretton Wood, Amerika Serikat pada 1944, yang kemudian melahirkan beberapa organisasi internasional seperti the World Bank, the International Monetary Fund (IMF), dan the General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) yang dikemudian hari bertransformasi menjadi the World Trade Organization (WTO). Sebagai catatan, lembaga-lembaga internasional itu dikenal sebagai sistem/regim Bretton Wood (the Bretton Wood system).

Kehadiran lembaga internasioal tersebut bersama dengan organisasi multi negara lainnya dipandang mampu menjembatani kepentingan antar negara anggota, sehingga selalu berjalan dalam koridor kesepakatan bersama yang saling menguntungkan.

Selain itu, hadirnya kelompok kerjasama multi negara seperti Association of South East Asian Nations (ASEAN), Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), Trans-Pacific Partnership (TPP), the European Union (Uni Eropa), serta institusi kerjasama lainnya dipercaya mampu menyumbangkan kontribusi positif bagi pembangunan masing-masing negara.

Perdagangan bebas, pembentukan pasar tunggal, penghapusan hambatan tarif perdagangan, keleluasaan pemasaran barang dan jasa, serta pergerakan tenaga kerja antar negara diyakini mampu memberi dampak konstruktif, baik secara ekonomi, sosial, maupun budaya. Dari sudut pandang ini, negara-negara di dunia menjelma menjadi sebuah perkampungan besar yang terdiri dari masyarakat dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Lebih lanjut, studi yang dilakukan oleh Scholte mengemukakan beberapa konsep dasar yang membentuk definisi globalisasi. Konsep-konsep tersebut bisa di peta'kan sebagai berikut:
  • Globalisasi sebagai internasionalisasi (Globalization as Internationalization). Dalam konteks ini terjadi hubungan timbal-balik dan ketergantungan antar negara yang termanifestasi dalam wujud kesamaan ideologi, investasi antar negara, serta lalu-lintas perdagangan internasional.
  • Globalisasi sebagai liberalisasi (Globalization as Liberalization). Dari perspektif ini, globalisasi dipandang sebagai salah satu pendekatan sistem neoliberalisme, dimana perdagangan antar negara dilakukan secara bebas, tanpa dibebani oleh batasan-batasan tarif maupun hambatan perdagangan lainnya. Dalam konsep ini termuat juga model pendekatan ekonomi seperti privatisasi/swastanisasi, deregulasi, serta demokrasi ekonomi.
  • Globalisasi sebagai universalisasi (Globalization as Universalization). Dari tinjauan ini, globalisasi bisa diartikan sebagai terintegrasinya berbagai aspek sosial-ekonomi. Disini dikenal istilah-istilah modern seperti worldwide dan borderless world. Selain itu perkembangan teknologi informasi (IT) menjadi elemen penting, baik dalam kaitannya dengan politik, ekonomi, pertahanan-keamanan, maupun kebudayaan.
  • Globalisasi sebagai westernisasi (Globalisasi as Westernization). Di titik ini globalisasi dipandang sebagai modernisasi ala negara-negara barat (terutama Amerika Serikat), termasuk diantaranya melalui konsep kapitalisme, industrialisasi, dan urbanisasi.
(Scholte, J, A, What Is Globalization? The Definitional Issue – Again, CSGR Working Paper No. 109/02, December, 2002).

Sementara Bartelson dalam penelitiannya mengungkapkan pendapatnya tentang tiga elemen pembentuk globalisasi. Masing-masing elemen tersebut menjadi sebuah proses yang kemudian menciptakan konsep utuh globalisasi.

Pertama, globalisasi sebagai media pertukaran (globalization as medium of transfer), baik dalam hal perdagangan, sistem politik, ekonomi, maupun kebudayaan. Termasuk dalam fase ini ialah bermunculannya perusahaan-perusahaan multinasional (multinational corporations).

Selanjutnya, globalisasi sebagai proses perubahan bentuk (globalization as transformation) dari suatu substansi, misalnya struktur organisasi dan sistem kelembagaan. Perubahan tersebut melampaui batas-batas yang membingkai tatanan yang sudah ada sebelumnya.

Terakhir, globalisasi sebagai transendensi (globalization as transcendence), dimana dunia terbentuk menjadi kesatuan pemikiran dan tindakan individu, masyarakat, dan negara (Bartelson, J, Three Concepts of Globalization, International Sociology, Vol 15 (2), June, 2000).

Thomas Friedman, penulis sekaligus kolumnis surat kabar the New York Times yang menjadi salah satu tokoh sentral pro globalisasi, mengemukakan pandangannya bahwa globalisasi merupakan sebuah keniscayaan. Kehadirannya dalam dunia modern tidak terelakkan dan menjadi fakta yang mesti dipahami. Selain itu perkembangan internet (worldwide web) telah menghubungkan masyarakat dari berbagai penjuru dunia sehingga menghilangkan sekat-sekat dan batas wilayah negara.

Globalisasi juga membuka keran lebar bagi investasi antar negara untuk menggerakkan roda perekonomian. Foreign Direct Investment (FDI) menjadi salah satu instrumen, khususnya bagi negara berkembang dan negara industri baru (newly industrialized countries) dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja, sehingga menciptakan distribusi pendapatan yang lebih merata untuk meningkatkan konsumsi rumah tangga, tabungan (savings), dan investasi, dengan demikian meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Lebih jauh, Friedman menyatakan bahwa dia tidak menolak gerakan anti globalisasi (anti-globalization movement). Ia hanya menekankan agar perlawanan terhadap ketidakadilan yang terjadi akibat globalisasi ditujukan kepada pemerintah lokal/setempat, bukan pada lembaga-lembaga internasional (Friedman, T, The World is Flat, A Brief History of the Twenty-first Century, 2006).

Sementara pandangan Stiglitz tentang globalisasi dapat dipelajari di Globalization and Its Discontents, by Joseph E. Stiglitz, 2015.

Sebagai penutup, globalisasi sebagai sebuah ide dan konsep, menawarkan kesempatan bagi negara-negara untuk membangun perekonomian dan peradaban yang lebih maju, serta kepada individu dan masyarakat untuk meningkatkan nilai kehidupan, baik secara ekonomi, sosial, maupun budaya. **
ARTIKEL TERKAIT :
Mengenal Gerakan Anti Globalisasi (Anti-Globalization Movement)
Pertumbuhan Populasi Global beserta Permasalahannya
Memahami Dua Sisi Bonus Demografi (Demographic Bonus)
Sustainable Development Goals: mewujudkan pembangunan yang berkesinambungan

No comments:

Post a Comment