Mencermati Perkembangan Kekuatan Ekonomi China

Thursday, February 18, 2016

Mencermati Perkembangan Kekuatan Ekonomi China

Pada artikel ini kita akan membahas kekuatan ekonomi China dalam perekonomian global. Pertama-tama kita akan melihat sejarah perekonomian China beberapa dekade kebelakang, kemudian reformasi ekonomi China di perkembangan berikutnya, serta situasi perekonomian China pada peta persaingan ekonomi global saat ini.

Mencermati Perkembangan Kekuatan Ekonomi China
Data yang tercatat pada Bank Dunia dalam situsnya di data.worldbank.org, menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi China stabil di kisaran angka 7% sejak 2014 hingga 2015, meskipun ada catatan bahwa pada waktu-waktu tersebut, China juga mengalami perlambatan ekonomi, sehingga membuat pemerintah setempat mengambil salah satu kebijakan yang tergolong ekstrim, yakni melakukan devaluasi mata uang Yuan.

Sementara sebagai perbandingan, kondisi perekonomian global mengalami penurunan akibat krisis ekonomi yang sempat dialami oleh beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang. Tercatat, pertumbuhan ekonomi global pada 2015 hanya mencapai 2-3%.

Menengok sejarah perekonomian China beberapa dekade lalu, pada awal 1970’an, pertumbuhan ekonomi China hanya berkisar di angka 3%. Sistem pemerintahan yang bersifat sosialis-komunis membuat tidak banyak perkembangan perekonomian di periode ini. Konsentrasi kegiatan ekonomi lebih banyak berputar pada sektor pertanian tradisional, sehingga memasukkan China dalam kategori negara yang sedang berkembang (developing country).

Dalam perkembangan berikutnya, China melakukan reformasi besar-besaran di bidang ekonomi. Reformasi ekonomi China dilaksanakan melalui beberapa tahapan yang akan dijelaskan lebih rinci dibawah ini.

Reformasi ekonomi China dimulai dengan melakukan pembangunan wilayah perdesaan (rural development) dimulai sejak 1978 sampai dengan 1984, dengan memberikan keleluasaan bagi masyarakat lokal untuk mengelola sektor pertanian dan menjual hasil pertanian dari lahan yang mereka gunakan, serta melalui pemberian kredit sampai dengan jumlah tertentu untuk membantu para petani. Hasilnya adalah meningkatnya produksi pertanian, efisiensi pada proses produksi, hingga tingginya produktivitas para pekerja di sektor ini; sehingga mendorong munculnya banyak wirausahawan di sektor pertanian, yang diikuti dengan meningkatnya investasi dan tabungan masyarakat pedesaan.

Tahap kedua adalah reformasi ekonomi terkait masalah perkotaan (urban sector), yang dimulai segera setelah berhasilnya reformasi wilayah perdesaan sampai dengan awal 1990'an. Salah satu upaya adalah dengan menerbitkan ijin bagi perusahaan-perusahaan yang telah memenuhi persyaratan tertentu, untuk mengelola usahanya secara mandiri, tanpa campur tangan negara. Hasilnya adalah sistem manajemen yang lebih efisien dan efektif, sehingga menunjang kegiatan perekonomian, khususnya dalam industri manufaktur.

Reformasi ekonomi berikutnya dimulai awal 1990'an, antara lain dengan memberikan kesempatan yang lebih luas kepada sektor usaha pribadi (private sector), kemudian melakukan reformasi peraturan tentang migrasi antara wilayah rural-urban, sistem perbankan, sistem perpajakan, perdagangan luar negeri, serta foreign direct investment, untuk meningkatkan laju perekonomian nasional. Adapun salah satu wujud pelaksanaan reformasi tersebut adalah pelonggaran terhadap kebijakan terkait dengan keluarga berencana, atau yang lebih dikenal dengan istilah one child policy.

Pada era selanjutnya, China mulai melaksakan kebijakan privatisasi dan liberalisasi perdagangan melalui kerjasama dengan negara-negara lain, diantaranya lewat the World Trade Organization (WTO). Selain itu China juga mengembangkan kerjasama perdagangan dengan ASEAN dan forum Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC). Sedangkan reformasi di sektor perdagangan (domestik maupun internasional) adalah dengan mengurangi tarif perdagangan serta mengembangkan sektor swasta secara lebih intensif (Ding and Knight, Why has China Grown so Fast? The Role of Structural Change, Dept. of Economics University of Oxford, 2009).

Sampai dengan saat ini, China telah bermetamorfosa menjadi salah satu negara yang paling disegani di dunia, baik dalam bidang ekonomi, perdagangan internasional, serta ilmu pengetahuan dan teknologi. **

UPDATE ARTIKEL (Jumat, 18 Agustus 2017):
Perekonomian China pada 2017 mengalami dinamika yang cukup menarik. Kita akan mengulas'nya satu persatu.

Menurut laporan Bank Dunia, besaran Gross Domestic Product (GDP US$ current based) China pada 2016 berada di angka US$ 11.19 triliun (data.worldbank.org), sementara data lain menyebut bahwa GDP (PPP based) negara tersebut pada 2016 mencapai US$ 21.14 triliun. Dengan total populasi penduduk lebih dari 1.37 miliar jiwa, maka GDP per kapita China pada 2016 berada di kisaran US$ 14,600 (www.cia.gov, the world factbook: China).

Sementara sampai dengan triwulan pertama tahun ini, the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memprediksi bahwa China akan mengalami perlambatan ekonomi sepanjang 2017, antara lain dipicu oleh menurunnya investasi dan nilai ekspor barang dan jasa. Adapun pemicu'nya antara lain karena penerapan kebijakan proteksionisme yang dilakukan oleh negara-negara tujuan ekspor.

Menurut OECD, proyeksi angka pertumbuhan ekonomi China pada 2017 berada dikisaran 6.6%. Sedangkan faktor yang berkontribusi terhadap pertumbuhan tersebut diantaranya sektor penjualan ritel dan konsumsi dalam negeri, yang mencapai lebih dari 70% total GDP. Maraknya sistem penjualan barang dan jasa melalui e-commerce disinyalir berperan penting pada tingginya sumbangan sektor ritel dan konsumsi domestik (OECD, OECD Economic Surveys: China, March 2017).

Sebagai catatan, total volume perdagangan online dalam negeri China pada 2016 mencapai hingga US$ 548 miliar, dengan lebih dari 90% total transaksi dilakukan melalui perangkat seluler (mobile device).

Dari sisi kemudahan usaha, China menempati peringkat ke-78 dari 190 negara yang di survei oleh Bank Dunia. Adapun kriteria penilaian tersebut antara lain dilihat dari lama’nya waktu pemberian ijin untuk mendirikan usaha, kredit dari perbankan, aturan-aturan yang mendukung iklim usaha, hingga perlindungan terhadap investor kecil (World Bank, Doing Business 2017: Equal Opportunity for All, Economy Profile 2017: China, 2017).

Namun demikian, seperti dikutip dari the financial times, secara mengejutkan China mengalami pertumbuhan ekonomi hingga 6.9% sampai dengan semester pertama 2017. Pencapaian ini banyak disokong oleh meningkatnya penjualan di sektor properti dan tingginya produktivitas di sektor produksi (www.ft.com, China GDP growth points to 2017 economic rebound, 17 July 2017).

Tren positif pertumbuhan ekonomi China hingga semester pertama 2017 membuat the International Monetary Fund (IMF) merevisi proyeksi perekonomian China di 2017 dari yang sebelumnya 6.5% menjadi 6.7% (www.imf.org, IMF Country Focus: China’s Economic Outlook in Six Charts, August 15, 2017).

Apakah tren pertumbuhan ekonomi China akan melaju positif hingga akhir 2017, kita akan terus mencermati perkembangan’nya. ***

ARTIKEL TERKAIT :
Perkembangan Perekonomian Global 2017: bertumbuh dalam ketidakpastian
Perekonomian Hong Kong: pusat kemajuan ekonomi Asia
Sekilas tentang the Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP)
Singapura, Simbol Keberhasilan Pembangunan berbasis Pengetahuan dan Teknologi

1 comment:

  1. terimakasih atas info yang sangat menarik ini dan untuk referensi silahkan kunjungi http://fe.gunadarma.ac.id/majalah/

    ReplyDelete